Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Diberi Restu


__ADS_3

"Sering-sering main ke sini, ya," ucap Mama saat mengantarkan kami ke teras tokonya ingin pulang.


"Inn Syaa Allah Ma, kalau gak ada halangan pasti akan kembali ke sini lagi, kok," ujarku tersenyum ramah ke arah Mama.


Kusalim tangan Mama, kemudikan mereka saling peluk dan kami masuk ke dalam mobil dengan tangan membawa kresek yang sudah berlogo toko Mama.


"Bye Ma," seruku sambil berdada.


Mama membalas lambaian tanganku, ketika merasa sudah jauh. Kunaikkan kembali kaca mobil dan menyadarkan punggung ke bangku.


***


Setelah kepergian Nazwa dan Mama tirinya, Mama Farhan juga dirinya akhirnya masuk kembali ke dalam toko.


Mereka berjalan ke ruangan Mamanya karena di sana juga masih ada ransel Farhan yang tertinggal.


"Tumben kamu ke sini? Biasanya juga gak ke sini," sindir Mama tersenyum ke arah Farhan yang sudah memakai tas ransel.


"Kebetulan aja Ma," kata Farhan yang mencoba menahan diri agar tak sampai tergoda.


"Mau ke mana?" tanya Mama saat Farhan sudah berniat ingin menyalim dan pamit dari ruangan ini.


"Mau pulang Ma," kata Farhan dengan sedikit terbata.


"Duduk!" titah Mama dan menunjuk ke arah sofa. Ia yang sedang bersandar di meja kerja pun berjalan ke arah sofa ingin berbicara empat mata dengan Farhan.


Farhan hanya menghela napas dan mau tak mau harus menuruti perintah Mamanya, mana mungkin ia bisa menolak hal tersebut.


"Ada apa Ma?" tanya Farhan tanpa basa-basi.


"Kamu suka sama Nazwa?"


"Ha?" gelagap Farhan menatap ke sembarang arah.


"Kenapa tadi kamu bilang punya calon? Nazwa calonnya, sejak kapan kamu suka sama dia? Kenapa gak cerita sama Mama?" Pertanyaan bertubi-tubi diberikan Mamanya pada Farhan.


Farhan menunduk dalam, ia memang tak pernah bercerita soal masalah wanita yang ia sukai pada siapapun.


"Maaf, Ma. Farhan udah suka sama Nazwa dari SMA dulu. Farhan janji akan kerja dulu baru nikahi Nazwa, gak akan nyusahin Mama," ujar Farhan menatap ke arah Mamanya dengan sendu.


"Kamu aja baru masuk kuliah, mau nunggu berapa tahun dia?"

__ADS_1


"Tamat SMA, Farhan mau lamar Nazwa Ma."


"Ha?" tanya Mama Farhan dengan kaget.


"Iya Ma, Inn Syaa Allah Farhan sudah bisa memberi dia nafkah nantinya. Farhan bisa kerja di mana aja nanti, lagian Farhan juga udah kerja di salah satu tempat temen Farhan."


Mama Farhan menghela napas pelan, ia menepuk bahu anak bungsunya itu dan membuat Farhan menatap ke arah Mamanya.


"Kamu pinter banget, sih, milih calon istri," sindir Mama Farhan dengan mencubit hidung anaknya.


Farhan tersenyum mendengar ucapan Mamanya, Mamanya merentangkan tangan dan mendekap putranya.


"Ternyata, anak Mama udah pada besar, ya. Udah bisa menentukan kebahagiaan mereka sendiri, semoga kamu dan Nazwa benar-benar bisa bersama nantinya."


"Aamiin, makasih Ma. Tolong doakan agar rasa Farhan ini bisa diterima oleh Nazwa, karena Farhan takut kalo dia tolak."


Mendengar ucapan Farhan, Mamanya langsung melepas pelukan dan menatap anakanya sambil memegang bahu Farhan.


"Dengar! Masalah di terima atau tidak itu urusan Allah dan takdir, tak perlu takut. Seharusnya, jika pun tak diterima kamu harus bangga pada dirimu.


Tidak menjadi seorang pecundang yang diam saja tanpa melakukan apa pun untuk mendapatkan orang yang kamu sukai.


Menikah muda memang tidak ada salahnya, tapi jika kamu nikah muda hanya untuk gaya-gayaan saja.


Lebih baik tidak usah, kamu harus sudah bisa sabar menghadapi istrimu nanti, harus tau bahwa kewajiban memberesi rumah itu tugas suami.


Jadi, kalau ada istrimu yang beresin nantinya maka bersyukurlah bukan malah memaksa dia untuk melakukan tugas yang seharusnya kamu yang menjalankannya."


Farhan mengangguk dan tersenyum, merasa bahwa keputusannya untuk mencintai dan memiliki rasa pada Nazwa itu tak salah.


"Tapi, Farhan belum tau Ma. Nazwa suka atau tidak dengan Farhan," pikir Farhan dengan bahu yang merosot.


"Udah, kamu tenang aja. Dia pasti suka sama kamu, kok," timpal Mama tersenyum dengan mengulum bibirnya membuat kening Farhan yang melihat hal tersebut berkerut.


"Eh, siapa yang suka sama siapa, nih?" celetuk Rangga yang baru saja sampai di ruangan Mamanya.


"Ma, diem aja Ma," peringat Farhan saat melihat Mamanya akan membuka suara.


"Ck! Apaan, sih? Kasih tau dong Ma, gimana ada apaan? Siapa yang suka-sukaan?" tanya Rangga kepo dan duduk di samping Mamanya.


"Dih, cowok kok kepo banget, sih!" sindir Farhan yang tak mau ada orang mengetahui soal perasaannya itu.

__ADS_1


"Haha, kalian pada kenapa sih? Kok malah bertengkar, gini?" tanya Mama dengan tertawa melihat putra-putranya bertengkar hanya masalah seperti itu.


"Tau, tuh Bang Rangga!" ketus Farhan mengerucutkan bibirnya.


"Gimana Rangga, udah kelar barang-barang kamu?" tanya Mama mengalihkan pembicaraan.


Rangga memberi anggukan sebagai jawaban, "Ketemu sama Mawar?" tanya Mama menaikkan satu alisnya.


"Iya, Ma. Tapi ...," jeda Rangga dan menunduk. Ia memang mengaku merasa bersalah dengan apa yang dia ucapkan dan makian yang keluar dari bibirnya kepada Mawar.


"Kenapa, hm?"


"Lagi-lagi, Rangga memaki dia Ma. Seolah Rangga menyalahkan dia akan segala hal yang terjadi.


Padahal 'kan sudah jelas-jelas bahwa ini adalah takdir Allah, bahkan jika kami bersama pun jika takdirnya kami tidak dipersatukan.


Maka, tetap aja akhirnya akan sudahan. Rangga menyesal memaki dia kembali tadi," terang Rangga yang merasa bersalah akan perbuatannya.


"Masih ada waktu, kamu bisa minta maaf sama dia. Berdamai dan melupakanlah tanpa adanya permusuhan, itu namanya dewasa," ungkap Mama dengan menepuk bahu Rangga pelan.


Rangga mengangguk, "Iya, Ma. Nanti, Rangga akan bertemu sama dia deh. Mau minta maaf dan ucapkan selamat sekalian."


Mama tersenyum dan mengangguk menatap ke arah putranya, "Maa Syaa Allah, ya, Mama punya anak-anak yang begitu sholeh seperti kalian. Dulu, Mama kira gak akan pernah bisa membuat kalian menjadi anak yang baik.


Namun, alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan pada Mama untuk mendidik dan mengajarkan anak-anak Mama menjadi manusia yang jauh lebih baik," lirih Mama dengan mata yang sudah berembun.


Farhan dan Rangga langsung memeluk Mama yang kebetulan berada di tengah mereka, apalah artinya anak tanpa adanya orang tua terutama seorang Ibu?


Hampa, sunyi, sepi, menakutkan, menyedihkan dan sakit. Sebabnya, ketika masih ada orang tua jadikanlah orang tua prioritas nomor satu setelah Allah.


"Eh, udah, kok pada melow gini. Mending kita pulang aja, yuk! Mama udah rindu sama bunga-bunga Mama," timpal Mama membuat Farhan dan Rangga melepas pelukan.


"Yauda, yuk!" ajak Rangga dan berdiri lebih dulu.


Mereka berjalan bersama ke luar ruangan, "Eh, tamunya tadi udah pulang Buk?" tanya salah satu karyawan Mama Farhan.


"Udah, kok. Saya pulang dulu, ya," jawab Mama Farhan kembali melanjutkan langkah ke luar gedung.


"Siapa yang datang Ma?" tanya Rangga yang tidak tahu.


"Nazwa sama Mama tirinya tadi ke sini," jelas Mama membuat Rangga mengangguk mengerti.

__ADS_1


__ADS_2