Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Cuma Halusinasi Semata


__ADS_3

Hari ini, selesai belajar dan membantu Mama. Aku masuk ke kamar pukul 1 siang, mengemasi baju yang akan dipakai nanti saat camping.


Rencananya, aku tetap akan pergi seperti biasa jam 3 siang seolah ke cafe agar Mama tak curiga padaku.


Kalau aku jujur, tak mungkin akan diberi izin sama Mama apalagi jika sampai Farhan tahu, bisa semakin berabe urusannya.


Farhan belum pulang karena ini ujian terakhir semester dan mungkin setelah ini dia tinggal menunggu hasil raport saja.


Mungkin di sekolah ada kegiatan perpisahan karena mengingat tak akan ada lagi kelas 12 di Senin depan.


Kumasukkan jaket tebal juga beberapa snack, padahal mereka bilang aku tak perlu bawa apa-apa kecuali selimut dan jaket tebal saja.


Selain agar tidak membuat Mama curiga, agar aku tak keberatan juga membawanya. Mereka memang begitu manis 'kan?


Setelah merasa apa yang dibutuhkan sudah dapat, aku merebahkan tubuh menatap langit-langit kamarku.


Ada waktu satu jam lagi untuk tidur, aku memilih memejamkan mata yang sudah terbiasa tidur siang ini.


***


Aku tak tahu jika akhirnya akan berboncengan dengan Lio, dia berkata bahwa sepeda motornya rusak dan terpaksa ikut denganku.


Ya ... lumayan, sih, aku jadi tak kecapean. Namun, ada sesuatu yang aneh ketika di bonceng dengan laki-laki ini.


Apalagi mengingat bagaimana pertama kali kami bertemu saat itu, dia sudah begitu perhatian dengan mengobati pipiku.


Saat tengah asyik mengingat tentang masa lalu, sepeda motor di rem mendadak oleh Lio yang beruntung ia menggunakan tas juga.


Tak ada jadinya kontak fisik di antara kami apalagi sampai dadaku mengenai punggungnya. Aku hanya sedikit terkejut sampai memegang baju di pinggangnya.


"Eh, sorry-sorry Queen. Ini tadi tiba-tiba ada bolongan besar," ungkap Lio yang merasa bersalah sambil melirik ke arahku sekilas.


"Oh, iya, gak papa, kok," gelagapku sambil memperbaiki helm dan melepaskan baju Lio yang sempat kupegang tadi.


Tiba-tiba, tanganku di pegang oleh Lio dan dibuat ke pinggangnya, "Udah pegang aja, gak papa kok. Daripada Queen ntar jatuh?" jelas Lio sambil menatap wajahku dari kaca spion.


Kutelan saliva yang kurasa tercegat, dengan perlahan kupeluk pinggang laki-laki yang sudah memberi izin tersebut.

__ADS_1


Ia tersenyum menatapku, sepeda motor kembali di gas dengan cepat karena mengingat kami sudah ketinggalan dengan yang lainnya.


"Berhenti makan dulu atau gas terus?" tanya Bagas yang berada di samping kami dengan sedikit keras.


"Terserah kalian aja, kami ngikut!" terang Lio yang melirik ke arah Bagas sedikit dan fokus kembali pada jalanan.


"Jangan bersebelahan, bahaya! Lagi ramai orang pulang dari aktivitas!" tegurku yang melihat ke arah belakang banyak pengendara lainnya.


"Bahaya atau malu kalo kalian di liat lagi uwu-uwuan?" tanya Bagas menggoda ke arahku dengan tersenyum.


Aku langsung mendengus kesal sedangkan Bagas tertawa sebelum akhirnya meninggalkan kami di belakangnya.


Senja sudah hampir tenggelam, kami memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu karena mengingat aku juga belum makan dan mereka mulai letih.


"Kayaknya, satu jam lagi kita akan sampe deh," ujar Bagas sambil meminum teh hangat yang dipesan di angkringan ini.


Karena menunggu satu dengan yang lain, seharusnya 3 jam kami sudah sampai di lokasi jadi lebih dari jam tersebut.


Tapi tak apa, bukannya aku juga jarang-jarang touring dan camping seperti ini? Apalagi mengingat besok akan sunmori dengan mereka. Pasti sangat seru!


"Eh, Queen. Kirim pesan memang sama Mamamu kalo malam ini gak pulang. Soalnya, bisa jadi di sana nanti gak ada sinyal," titah Arpan membuat aku terdiam yang sedang mengunyah nasi goreng.


[Assalamualaikum, Ma. Maaf ngasih taunya mendadak, malam ini Nazwa tidur tempat Ibu, ya. Soalnya Ibu lagi rindu sama Nazwa.


Karena kebetulan libur kerja dan belajar juga, jadi gak papa, ya. Gak perlu tungguin Nazwa, ya, Ma,] pesan kukirim dengan centeng yang hanya satu.


Mungkin Mama sedang siap-siap ingin salat Magrib, aku terdiam saat pikiranku lewat kata-kata itu.


"Mmm ... Guys! Aku mau salat dulu, ya. Kalian gak ikut?" tanyaku sambil mematikan handphone dan memasukkannya kembali ke dalam tas.


Sengaja handphone kumatikan agar tak dihubungi oleh siapapun nantinya di saat aku tak pulang.


Mereka menatapku dan bergeleng, dari angkringan tempat kami istirahat ada musala yang tak terlalu jauh.


"Yaudah, deh. Gue salat dulu, ya," pamitku sambil bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah musala.


Aku bahkan meninggalkan salat Asar, padahal jika kerja aku juga meninggalkannya dan tak pernah merasa aneh seperti ini.

__ADS_1


Namun, kali ini hatiku tergerak setelah memberi pesan kepada Mama. Suara seruan adzan sudah berkumandang.


Dengan terburu-buru masuk ke toilet wanita, selintas aku melihat seseorang yang berada di tempat wudu laki-laki.


Kakiku terhenti dan menatap ke arah wudu tersebut dengan memautkan alisku, "Kok kayak ada Farhan tadi, ya?" gumamku masih setia menatap ke arah tempat wudu.


Kugelengkan kepala dan mendatarkan kembali wajah, "Halah, pasti halusinasi aku aja. Bahkan pas aku pergi, dia belum juga pulang dari sekolah, kok," paparku acuh.


***


"Queen-queen, ayo bangun," ucap seseorang yang membuat aku menggeliat. Kubuka mataku perlahan dan berniat menegapkan badan.


"Eh, kok gak bisa?" tanyaku yang merasa aneh seolah pinggangku di ikat oleh sesuatu.


"Hahaha, mangkanya jangan ngebo Queen. Tidur pas di boncengan, kalo jatuh gimana? Untung aja pengawalmu ini pintar, jadi diiket deh pinggang Queen ke aku," jelas Lio yang mendumel tapi tangannya tetap sibuk membuka ikatan.


"Hehe, maaf, ya. Kita udah sampai?" tanyaku mengedarkan pandangan.


Tanpa aku sadari, ternyata tertidur di saat perjalanan kembali di lanjutkan. Mungkin karena angin malam yang menyejukkan membuat aku terbuai.


"Udah," jawab Lio dengan ikatan yang sudah terlepas.


Aku turun dari jok motor dan melihat hanya motor kami yang ada di sini, "Yang lainnya mana?"


"Masih di belakang," kata Lio turun juga dan membuka helm dari kepalanya, ia menyugar rambutnya dan terlihatlah wajah putih juga hidung mancungnya itu.


Dia menatapku dan tangannya terulur membuka helmku, "Eh!" ucapku yang kaget ternyata belum membuka helm sendiri.


"Kau masih ngantuk?" tanyanya dengan menaikkan satu alis.


"Enggak, udah enggak kok," gelagapku dengan menggelengkan kepala.


Ia kembali tertawa, tawa yang begitu candu sekarang di telingaku. Tak lama, suara klakson mengalihkan pandangan kami.


Ternyata, Bagas dan yang lainnya sudah sampai. Aku langsung merapikan rambut dan menatap mereka satu per satu dengan wajah lelah dari mereka.


"Kau tak capek?" tanyaku mendongak ke arah Lio setelah melihat Bagas dan lainnya merenggangkan otot-otot serta pinggang mereka.

__ADS_1


Lio menggelengkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya ke telingaku, "Gak akan pernah capek jika yang dibawa adalah wanita se-spesial dirimu," bisik Lio dan menjauhkan kembali wajahnya dari telingaku.


Aku menegang mendengar ucapan laki-laki barusan, apa yang sedang dia lakukan? Tak tahukah dia bahwa bisa saja aku baper akan ulahnya barusan?


__ADS_2