
Sekitar pukul 8 malam, tenda sudah dipasang oleh mereka. Hanya dua tenda saja, nantinya aku akan tidur di tenda sendirian.
"Kita cari kayu bakar dulu, gak, sih?" tanya Lio menatap yang lainnya.
Sedangkan aku hanya diam saja, entah mengapa malam ini teryata hanya kami yang camping. Biasanya kata penjaga pos akan ramai yang camping di sini.
"Yaudah, ayo!" ajak Bagas.
"Aku gak ikut, ya," kataku yang merasa sedikit takut. Apalagi, nantinya kami akan ke dalam hutan untuk mencarinya.
Seolahnya, di sekitar tenda kami tak ada ranting-ranting pohon yang berjatuhan.
"Nanti siapa yang jagain Queen, kalo ada kenapa-kenapa atau masuk ke dalam tenda Queen gimana? Kami gak bisa denger dong," timpal Arpan yang menurutku ada benarnya juga.
"Yaudah, deh. Yuk!" pasrahku dan ikut bersama dengan mereka berempat.
Kami masuk ke dalam hutan akhirnya, aku yang menggunakan celana jens juga baju tanpa lengan tapi kubalut dengan jaket lumayan tebal.
"Di mana kita cari kayunya?" tanyaku yang sudah merasa jauh dari tempat camping tadi, bahkan nyamuk sudah begitu banyak.
Hening. Tak ada jawaban, aku yang berjalan lebih dulu merasa ada yang mengganjal, "Guys, kita cari kayunya di mana, nih?" tanyaku sekali lagi tanpa menoleh ke arah mereka.
Langkah kaki sekarang sunyi, hanya aku saja. Kubalikkan badan yang memang sepertinya mereka sudah tertinggal di belakangku.
"G-guys ... kalian kenapa liatin aku kayak gitu?" gelagapku dengan terus berjalan mundur menatap mereka.
Tatapan dengan arti yang berbeda terlihat dari mata mereka berempat, apakah mungkin mereka kerasukan setan?
"Nazwa nazwa nazwa. Gadis bodoh yang dengan mudah dapat masuk ke perangkap kami, hahaha," kata Bagas dengan menyeringai.
"Lu kira? Kita gak ada maksud padamu, gitu? Apa lu kira kita adalah laki-laki yang gak normal?" timpal Arpan yang membuat aku menggelengkan kepala panik.
"Sebenarnya, kita gak punya urusan sama lu Nazwa. Kita yang punya dendam sama Abang lu, tapi berhubung Abang lu susah buat kita dapatkan. Ya, apa salahnya kalo kita lampiaskan ke lu 'kan?
Apalagi ... lu boleh juga, masa kita-kita gak tertarik sama lu. Body yang, oke pokoknya hahaha," papar Lio yang membuat aku semakin menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang mereka ucapkan.
Seketika, kebencian hadir untuk mereka berempat. Aku bahkan tak mampu berkata apa pun sangking kaget dengan apa yang mereka katakan barusan padaku.
Aku langsung membalikan badan membelakangi mereka dan berlari masuk ke hutan, aku tak tahu ke mana arahku sekarang.
"Kejar dia!" suruh suara Bagas dengan sedikit teriak.
__ADS_1
Mereka sekarang tengah mengejarku dengan senter mereka, sedangkan aku sama sekali tak punya alat apa pun di tangan.
"Tolong ...!" teriakku dengan keringat yang sudah membanjiri tubuh juga jantung yang berdebar begitu kencang karena ketakutan.
"Tolong aku ....!"
"Siapa pun tolong aku ...!"
Tak perduli lagi dengan nyamuk dan ke mana arah tempatku berlari, asalkan aku bisa bebas dari mereka itu jauh lebih baik sekarang.
"Hiks ... Mama ... tolong Nazwa!" pekikku lagi yang merasa mereka masih mengejar dan terus berlari ke arahku.
Ingin berlari ke arah jalanan pun sudah tak mungkin dan tak bisa, bagaimana pun mereka akan bisa menangkapku juga jika itu yang kulakukan.
'Kau tau? Tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan apalagi perempuannya satu orang. Mereka akan manfaatin kau.'
'Jangan berteman dengan mereka, ya.'
'Mereka gak baik, mereka hanya menginginkan sesuatu darimu.'
'Abang bilang jangan berteman dengan mereka!'
Seketika larang-larang dari Abang dan Farhan memutari pikiranku, aku menangis melihat keadaanku sekarang.
Aku semakin jauh ke dalam hutan, suara langkah kaki tak sebanyak tadi. Begitu gelap di dalam sini, mungkin jika ada binatang buas. Aku bisa saja dimakan olehnya.
Rumput yang begitu panjang juga pohon yang begitu besar dan tinggi, kulirik ke belakang ada seperti cahaya.
Artinya, mereka masih mengejarku, "Gimana sekarang? Masa aku lari terus sampai ke dalam hutan sana?" tanyaku yang sejujurnya sudah merasa lelah.
"Tak apa, yang penting aku selamat dan bisa menjaga kehormatanku," sambungku dan terus berjalan ke dalam hutan.
Gedebuk!
"Aaa ...!"
Aku terjatuh ke tanah akibat tersandung akar pohon yang besar, tak memungkinkan kembali melanjutkan berlari.
Aku masuk ke dalam semak-semak untuk bersembunyi, membekap mulut dan merapalkan doa-doa agar dapat bebas entah dari kejaran siapa ini.
Suara ular mendesis dan nyamuk memenuhi telingaku, aku tak bisa melihat di mana ularnya karena sama sekali tak membawa senter.
__ADS_1
Seseorang yang membawa senter dari tadi mengejarku rupanya Lio, ia berjalan dengan terus ke depan tak melihat aku yang tengah bersembunyi di semak-semak tersebut.
'Bismillah, ya, Allah. Jangan sampai ketauan,' batinku dengan merangkak agar kembali ke arah camping tadi berlari meski aku tak ingat lagi.
Krak!
Saat akan bangkit dan mulai berlari, entah bagaimana bisa ranting kayu kupijak begitu saja. Seketika senter mengarah ke aku, kulirik ke arah belakang dan dengan cepat aku kembali berlari karena merasa terciduk oleh Lio.
Tanganku di genggam oleh tangannya dengan begitu keras, "Lepasin!" teriakku memberontak menatap ke arahnya.
"Apa kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja, ha?" tanyanya dengan menyeringai.
Kugelengkan kepala dan terisak, demi apa pun aku begitu takut dengan Lio yang sekarang berada di hadapanku.
Seolah singa yang menemukan mangsanya, seperti itulah dia menatapku sekarang. Takut? Sangat.
"Lio, aku tau kau tak sejahat mereka. Tolong, lepasin aku," kataku masih berusaha melepaskan tangannya dari pergelangan tanganku yang sekarang terasa perih.
Senter tadi dibuang begitu saja olehnya, "Baik, aku akan melepaskanmu," tuturnya dengan suara yang tak bisa kupahami.
"Kau mau apa?" pekikku dengan tangan sebelah mendorong tubuhnya.
Namun, apalah daya. Tenaga dirinya pasti lebih banyak dan kuat dibanding tenagaku ini, apalagi aku baru saja berlari-lari tanpa henti tadi.
"Lio! Kau jangan gila, lepasin aku!" pekikku saat dirinya menempelkan tubuhku ke pohon yang besar.
"Gila? Ya, aku memang sudah gila. Aku gila ketika baru pertama kali melihatmu saat mabuk, kau tau apa yang kau lakukan padaku?
Kau membuat aku terobsesi dan candu dengan tubuhmu itu, persetan dengan menjagamu juga membalas dendam.
Karena kenyataannya, aku memang menginginkanmu. Oh, bukan, lebih tepatnya tubuhmu," ungkap Lio dengan mendekat ke leherku.
Plak!
Satu tamparan kuberikan ke pipi Lio, seketika dia menjauh dari leherku yang dari tadi di endus oleh laki-laki brengsek tersebut.
"Jangan kurang ajar kau! Aku menyesal karena pernah kenal laki-laki brengsek seperti kalian! Aku bodoh, ya! Aku bodoh karena bahkan pernah menaruh perasaan diam-diam pada sosokmu!
Tapi, sekarang. Melihatmu saja aku tak sudi lagi! Cih! Dasar laki-laki yang tak punya harga diri seperti kalian ini!" makiku dengan berludah ke arah samping menatap tajam ke arahnya.
Rahang Lio seketika begitu mengeras, tanganku yang sebelah tadi ia gabungkan dengan tangan yang satunya dan di pegang begitu erat.
__ADS_1
Tangannya memegang daguku begitu kerasanya, "Apa aku peduli akan perasaanmu padaku? Sejak kapan aku peduli akan hal itu? Mau kau menyesal sekali pun aku tak akan pernah peduli! Hahaha," kata Lio dengan tertawa.
Tawa yang memiliki arti yang berbeda dan begitu sangat menakutkan, napasku memburu. Dada naik dan turun dengan cepat karena begitu ketakutan.