Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Ditangkap


__ADS_3

Kami akhirnya masuk ke dalam mobil yang sudah di pesan oleh Abang Farhan, aku duduk di sebelah Mama dan Farhan duduk di bangku paling belakang sendirian.


Beruntung, baju Mama dan Farhan tak terlalu banyak kecuali aku seorang. Di dalam mobil aku hanya diam dan merutuki nasibku.


"Sayang ...," panggil Mama sambil membelai rambutku dengan lembut.


"Iya Ma?" tanyaku dengan tersenyum paksa.


"You okey?"


"Huum. Sayang, ya, Ma. Bunga-bunganya padahal baru aja kita tanam, mana capek pulak," keluhku mengadu.


"Gak papa, nanti di rumah Mama lebih banyak bunga. Kamu bisa rawat bunga di rumah Mama nantinya, ya," bujuk Mama mencoba menenangkan aku.


Aku mengangguk cepat agar Mama tak khawatir atau merasa kasian kembali padaku hanya karena mengingat kejadian itu.


Kami berhenti di rumah yang memiliki pagar meski tak terlalu tinggi, rumahnya pun tak terlalu luas tapi sangat bagus dan besar juga.


Wanita paruh baya tergopoh-gopoh berlari ke arah kami untuk membuka pagar, dia Bibik yang sempat tinggal denganku dulu.


"Ibuk kenapa gak ngabari? Saya kaget! Untung aja liat pas Ibuk turun dari mobil," kata Bibik dengan cemberut sedangkan Mama hanya tertawa menanggapinya.


"Biar surprise Bik," sahut Mama sedangkan aku masih meliat-liat keadaan sekitar. Cukup ramai warga di kompleks ini.


Sebagian juga ada yang menatap ke arah kami, mungkin bingung ada apa atau siapa aku ini. Namun, dengan cepat kualihkan pandangan karena merasa risih dengan tatapan mereka.


"Ayo, masuk!" ajak Mama merangkul bahuku. Aku langsung mengangguk dan membawa tas serta koper yang berisi baju-bajuku.


'Aku harus cari kerja mulai sekarang, tapi kerja apa, ya?' batinku yang mulai gelisah.


Bagaimana pun aku tak enak jika tinggal di sini meskipun sementara waktu, aku bukan siapa-siapa mereka.


Lagi pula, suami Mama sudah tak ada lagi. Artinya, hanya Abang Farhan yang mencari nafkah.


"Kamu dianter Bibik ke kamar, ya, Mama mau beresin barang-barang juga," jelas Mama dan kubalas dengan anggukan.


Barang-barang Mama dibawa Abang Farhan ke kamar Mama sedangkan aku berjalan di belakang mengikuti Bibik.


"Nah, ini kamar Dek Nazwa. Semoga betah, ya," papar Bibik.


"Makasih, Bik," jelasku tersenyum.


Bibik pergi meninggalkan aku sendiri, aku masuk ke dalam kamar dan melihat sekitar. Masih ada boneka-boneka yang berada di atas kasur.


Kututup pintu kamar dan menggeser gorden agar cahaya masuk menerangi kamar ini, kulihat di meja masih ada beberapa foto yang terpajang.

__ADS_1


"Benar, ini pasti kamar anaknya Mama dulu. Makin gak nyaman aja deh aku jadinya tinggal di sini," gumamku mengembalikan bingkai foto yang sempat kuambil.


Kujatuhkan bobot tubuh ke pinggir ranjang dan menatap isi kamar ini, kulepas ransel yang kupakai tadi untuk mengambil handphone di dalamnya.


Kulihat banyak sekali pesan dari grup yang baru kumasuki itu.


[Guys, ada yang tau loker part time gitu, gak?] tanyaku pada mereka yang ada di grup.


[Queen emangnya ada apa?]


[Queen kenapa? Kok malah nanya loker?]


[Ada apa ini ada apa?]


Seketika mereka langsung heboh dengan kalimat yang kukirim, ada rasa lucu tersendiri melihat mereka yang langsung merespons pesanku itu.


[Iya, mau jadi anak mandiri, nih. Jadi, pengen kerja deh,] balasku dengan sedikit berbohong.


[Queen mau kerja apa? Nanti, biar kita carikan.]


[Emangnya ada kerjaan apa aja?]


[Mmm ... Queen mau jadi barista?]


[Di mana?] tanyaku cepat.


[Besok ada waktu, gak, Queen?]


[Ada, emangnya kenapa?]


[Kumpul, ayok!]


[Oke, boleh deh.]


[Siip, sekalian nyari kerjaan juga.]


[Oke, thanks, ya, Guys!]


"Sayang ...," panggil Mama yang membuatku langsung menatap ke arah pintu.


"Ya, Ma," jawabku dengan sedikit berteriak.


[Guys, udah dulu, ya. Bye ....] Kumatikan kembali handphone dan meletakkannya di kasur, berjalan membuka pintu yang masih ada Mama di depannya.


Ceklek!

__ADS_1


"Ya, ada apa Ma?" tanyaku sambil menatap Mama dengan pintu kamar yang kubuka lebar.


"Kalau ada barang yang buat kamu risih di dalam kamar ini, langsung masukkan kotak dan buat ke gudang aja, ya. Suruh Bibik masukkan ke dalam gudang," papar Mama membuat aku menatap kembali ke arah kamar ini.


Aku tersenyum dan menggelengkan kepala menatap Mama, "Gak ada yang perlu di masukkan ke gudang dan gak ada yang buat aku risih, kok, Ma. Semua aman-aman aja," jelasku dengan mengangkat jempol.


"Hmm ... baiklah kalau gitu, kamu cepetan beresin baju-baju kamu, ya," kata Mama menatap koperku yang memang belum kususun isinya.


"Eh, hahaha, iya Ma."


Mama tersenyum sebelum meninggalkan kamar ini, kulihat Mama semakin menjauh dan kuputuskan untuk menutup kembali pintu.


Kuangkat koper ke atas ranjang dan membukanya, satu per satu isi pakaian di dalam koper kumasukkan ke dalam lemari yang ternyata masih ada baju-baju almarhumah anak Mama.


Kubuang napas kasar dan mulai memberesin segalanya, "Anaknya Mama, kita berbagi kamar kamu, ya. Jangan ganggu aku dan aku gak akan ganggu kamu, kok," ungkapku dan berniat ingin meletakkan koper ke atas lemari.


Dengan bangku belajar yang menjadi alat pembantunya, kuletakkan koper di atas lemari pakaian ini.


Namun, entah aku yang kurang fokus dan terlalu banyak gerak. Bangku yang kupijak terpeleset kakinya hingga membuat aku akan terjatuh.


"Aaaa ...!" pekikku yang sudah takut dan tak bisa menyeimbangkan tubuh lagi.


'Lah, kok gak sakit? Harusnya aku ngerasain sakit, nih. Sakit jatuh plus ketiban kursi, ini kok malah enggak, ya?' batinku dengan mata yang tertutup.


"Ehem!" dehem seseorang yang memang mulai kurasakan bahwa tubuhku ada yang memegang.


Bahkan, aku mendengar degub jantung yang begitu keras dari tubuh seseorang yang sedang memegang aku.


Kubuka mata perlahan bahkan hanya satu mata saja menatap ke arah deheman tadi, kubulatkan mata dengan membukanya dua-dua.


"Eh, kau ngapain peluk-peluk aku?" tanyaku dengan nyolot sambil menatap dirinya.


Farhan berdirikan aku dengan baik juga aku yang menjauh dari tubuhnya, ia hanya menampilkan wajah datarnya lagi dan lagi.


Ditatapnya ke arahku yang masih menatap dengan marah ke arahnya.


"Bukannya makasih, malah marah-marah. Kau emang tipe manusia yang gak pantas ditolong, ya!" hardik Farhan yang begitu menyelekit sampai ke ubun-ubunku.


"Heh! Biasa aja dong ngomongnya! Gak usah gitu banget!"


"Gitu banget apanya? Emang kau gak bisa jadi cewek yang lebih lemah lembut gaya bahasanya, apa?"


"Gak bisa! Emangnya kenapa?" tanyaku dengan ngegas sambil berkacak pinggang seolah menantang dia.


"Eh, udah-udah. Kok malah berantem, gini?" tanya Mama dan melerai kami berdua. Kuturunkan tangan dari pinggang dan memasang wajah kesal.

__ADS_1


Kulihat ke arah pintu sudah ada Abang Farhan yang senyam-senyum tak jelas, oh, my god. Apakah Mama dan Abang Farhan dari tadi di situ? Apakah mereka melihat adegan tadi?


'Oh, ya, Allah. Aku malu banget, tolong bawa aku dari sini,' batinku dengan menutup mata berharap kejadian barusan tak dilihat oleh siapapun juga.


__ADS_2