Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Tertidur


__ADS_3

Selesai dari rumah sakit dan membeli makanan, kami akhirnya memilih langsung pulang. Ada sedikit rasa khawatir terhadap Mama apalagi setelah keluar dari rumah sakit beliau hanya menutup mata sampai rumah.


"Mama istirahat aja, biar aku yang susun makanannya," potongku saat Mama dibantu berjalan ke kamar dengan Farhan dan Bang Rangga.


"Sama tolong bawain bubur yang dibeli ke kamar Mama, ya, Nazwa," pinta Bang Rangga yang kubalas dengan anggukan.


"Udah biar aku aja," timpalku saat Farhan ingin menutup pintu.


Mereka masuk ke dalam kamar Mama, aku mengunci pintu dan masuk ke dalam dapur untuk merapikan makanan yang dibeli tadi.


Kuletakkan ke mangkuk-mangkuk makanan yang dibeli oleh Bang Rangga tapi pesanan Mama ini. Aku masih bingung dan belum mendapatkan jawaban.


Mama sebenarnya sakit apa dan kenapa sampai seperti itu, jika kecapean. Bisa jadi, apalagi memang seminggu ini aku tak pernah membantu beliau.


Ini hari pertama aku baru memulai kembali, itu pun aku tak yakin hari ini adalah hari kumulai lembaran baru hidupku.


Kubawa satu mangkuk bubur khusus untuk Mama ke arah kamar beliau.


Tok tok tok


Pintu tertutup, membuat aku harus mengetuk terlebih dahulu. Meski sudah tinggal cukup lama di sini, tapi aku masih tak enak jika harus masuk ke kamar Mama tanpa izin terlebih dahulu.


Ceklek!


Farhan membuka pintunya, "Eh, mau ngantar bubur Mama, ya?" Aku mengangguk mendengar pertanyaannya.


"Yaudah, masuk!" titah Farhan membuat aku masuk ke dalam kamar. Ternyata masih ada Bang Rangga di sini.


Matanya kulihat sedikit merah seperti habis menangis, Mama tersenyum ke arahku dengan tubuh yang bersandar di kepala ranjang.


"Ada apa?" tanyaku menatap ke arah Mama dan Bang Gilang secara bergantian.


Bang Gilang bangkit dari duduknya, "Gak ada apa-apa," jawab Bang Gilang menggeleng.


"Kenapa Abang nangis?"


"Abang cuma kelilipan," potong Mama dengan senyuman yang tak luntur. Kulihat ke arah ruangan, sangat bersih.


"Tapi, di sini bersih. Mana mungkin ada debu," ujarku merasa aneh dengan jawaban Mama tadi.


"Bukan kelilipan debu, tapi bulu mata Bang Rangga sendiri. Kan, kau tau kalo bulu mata Bang Rangga itu panjang!" timpal Farhan yang sekarang berada di sampingku tapi tetap berjarak.


Bang Rangga tersenyum dengan ucapan Farhan, memang bulu mata Bang Rangga lumayan panjang juga melentik.

__ADS_1


Bahkan dulu, aku sampai iri dengan bulu mata miliknya itu. Kalau dia cewek, mungkin tak perlu menjepit bulu mata juga memakaikan maskara apalagi bulu mata palsu.


"Yaudah, kalian berdua makan aja sana. Biar Nazwa yang suapin Mama," papar Mama membuat aku melihat ke arah wanita tersebut, "mau 'kan?" Mama menaikkan satu alisnya meminta persetujuan atas apa yang dia ucapkan tadi.


"Ya, tentu gak papa Ma," terangku sambil mengangguk.


"Baiklah, kami mau ke dapur dulu. Makan siang, udah laper banget," keluh Bang Rangga.


Mereka berdua keluar dari kamar dan kembali menutup pintu, aku duduk di tepi ranjang menghadap ke arah Mama.


Kulepas ransel yang dari tadi tetap ada di punggungku, meletakkan air minum di nakas samping ranjang Mama.


Kusendok bubur dan sodorkan depan bibir Mama, wanita itu menadahkan tangan dan berdoa sebelum makan.


Ia tersenyum ke arahku dan memasukkan makanan ke dalam mulutnya, "Sayang, malam ini kamu mau, ya, tidur sama Mama," ujar Mama membuat aku sedikit terkejut.


"Memangnya tidak papa Ma?" tanyaku yang merasa aneh.


"Gak papa, dong."


"Tapi, aku gak bisa diem kalo tidur."


"Gak papa, nanti Mama peluk biar diem haha," ujar Mama dengan sedikit terkekeh.


"Belum Ma, gak papa. Aku juga belum lapar."


"Kamu bahagia tinggal sama Mama?"


Kutatap wajah Mama yang juga menatapku, kuanggukkan kepala karena memang itu yang aku rasakan.


"Mama ... boleh minta satu hal sama kamu?" tanya Mama kali ini dengan hati-hati.


Kutautkan alis karena baru pertama kali ini Mama berucap seperti ini, "Kalo kamu gak mau juga gak papa, kok," potong Mama yang melihat aku tak kunjung menjawab ucapannya tadi.


"Inn Syaa Allah, kalau Nazwa bisa. Pasti Nazwa akan melakukan hal yang Mama minta itu."


"Alhamdulillah," kata Mama sambil menghela napas.


"Emangnya apa Ma?" tanyaku yang sudah penasaran.


"Bukan sekarang Mama kasih tau, nanti pas waktunya sudah pas."


"Ha?"

__ADS_1


"Kamu juga akan tau nanti," potong Mama mengusap kepalaku.


Selesai membantu Mama makan dan minum obat hingga tertidur, aku keluar dari kamar tak lupa membawa mangkuk juga gelas yang kosong serta tas ranselku tadi.


Kuletakkan ransel dengan melemparnya ke atas ranjang terlebih dahulu lalu menutup pintu kamar kembali.


Berjalan ke arah dapur, sudah tak ada orang, 'Bang Rangga udah pergi kerja kayaknya, ya?' batinku yang tak mendengar mobil keluar dari garasi.


Aku makan sendiri di meja makan, masih banyak sisa karena memang rencana ini makanan sampai nanti malam mengingat Mama masih sakit.


'Oh, iya, kenapa gak aku tanya sama Mama tadi, ya. Mama sakit apa sebenarnya,' batinku dengan memasukkan nasi juga lauk pauk menggunakan tangan ke dalam mulut.


Makanan yang ada di piringku sudah habis, kuteguk minum dan langsung mencuci piring kotor yang kubuat.


Kurapikan kembali meja makan dan memasukkan makanan sisa ke dalam lemari, kulirik jam sudah jam 2 siang.


Mengambil sapu, untuk menyapu ulang rumah meskipun tadi pagi sudah di sapu oleh Mama. Karena, memang biasanya rumah akan di sapu dua kali dalam satu hari.


Kubereskan pekerjaan rumah bahkan dengan menyetrika pakaian yang tak terlalu banyak sebenarnya.


Pakaian yang di setrika dan tidak itu berbeda, biasanya akan langsung dilipat oleh Mama dan yang di setrika akan di letakkan ke keranjang baju sampai Mama rajin menyetrikanya.


Aku juga keluar rumah untuk menyapu halaman dan menyirami serta membuang bunga juga daun yang sudah kering.


Merasa risih dengan tetangga yang biasanya tak pernah berkumpul menatap ke arahku, kupercepat pekerjaan di luar rumah dengan menyapu teras terakhir.


Pukul tengah empat sore, aku sudah selesai memberesin rumah juga kamar mandi tentunya. Naik ke atas sofa dengan menselonjorkan kaki dan kepala berbantalkan tangan juga televisi yang kuhidupkan.


Berniat hanya untuk rebahan sambil menonton kartun, ternyata mataku tak bisa dibohongi bahwa rasa kantuk sudah menyerang dari tadi hingga akhirnya pekerjaan selesai. Aku tertidur ditemani oleh kartun yang kupilih tadi.


"Nazwa!"


"Nazwa!


"Nazwa!"


Suara yang memanggil namaku sedikit mengusik sampai ke dalam mimpi, kubuka mata dengan enggan dan melihat siapa yang memanggil namaku tadi.


"Udah Asar, salat-salat," titah Farhan yang kini sudah kulihat dengan jelas.


Dia bangkit dengan pakaian yang sudah rapi tak lupa menggunakan peci, "Jangan tidur lagi, ya. Aku mau ke masjid dulu, Mama tadi udah aku bangunin juga. Assalamualaikum," salamnya dan berlalu dari hadapanku.


"Waalaikumsalam," jawabku memutar tubuh melihat dirinya yang akan pergi dari rumah.

__ADS_1


__ADS_2