
"Woy Queen!" teriak Arpan saat masuk ke dalam cafe yang kebetulan sudah lumayan sepi karena akan tutup.
Aku tersenyum menatap ke arah mereka, sudah satu bulan aku tak nongkrong lagi. Tak terasa, ya, mungkin karena aku juga mulai sibuk dengan duniaku sendiri.
Mereka berempat masuk ke dalam dan menyapa pemilik cafe yang memang teman mereka juga.
"Kau ke mana aja, sih, Queen! Grup gak pernah lagi nimbrung!" ketus Bagas menatap ke arahku yang sedang mengelap meja.
Sekarang, Mama mulai berjualan cake karena mengingat bahwa Farhan akan lulus SMA. Farhan sudah memberi tahu bahwa dia tak akan kuliah.
Namun, Mama memaksa agar Farhan tetap kuliah. Mama tahu apa sebab yang membuat Farhan tak ingin kuliah.
Karena dirinya tak ingin membebani Mama lagi, padahal Mama sudah berkata bahwa dirinya aku dan Bang Rangga bukanlah beban menurut Mama.
"Iya, lagi sok sibuk," jawabku bercanda dengan tersenyum dan menaik-turunkan alisku ke arah Bagas.
Biasanya, setelah sekolah aku akan membantu Mama memasak atau mengadon cake. Beruntungnya, ternyata Mama dulu juga sempat berjualan cake.
Bahkan, ia sempat punya toko sendiri. Hanya karena waktu itu punya anak perempuan meski sebentar.
Mama putuskan untuk berhenti dan menutup toko tersebut demi fokus menjaga serta merawat anaknya.
"Haish! Malesin banget sekarang Queen, apa-apa gak bisa. Kapan, nih jadinya kita camping?" tanya Lio menatap ke arahku dengan memajukan bibirnya.
Aku terkekeh melihat tingkah mereka yang seperti anak kecil, ketika aku kesulitan tidur. Mereka akan menemaniku.
Mereka akan bercerita, bernyanyi atau bahkan berdebat sampai aku tertidur akibat ulah mereka tersebut.
Bahkan, semingu yang lalu saat aku sakit dan tak enak untuk memberi tahu Mama. Mereka mengirim obat padaku melakui kurir.
Sungguh sangat istimewa sekali mereka memperlakukan aku, bahkan kadang aku berpikir.
Bagaimana kalau nanti mereka menikah? Pasti sangat bahagia sekali istrinya, bukan? Mendapatkan suami yang seperti mereka.
"Hey! Malah bengong," tegur Bagas menyenggol lenganku.
Aku cengengesan karena merasa terciduk tengah melamun.
"Queen udah punya pacar, ya?" tanya Arpan menatap mataku.
"Ha? Kata siapa?" tanyaku sedikit terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan olehnya.
"Ya, itu bengong. Pasti mikirin pacarnya, ya?" tanya Arpan menggoda sambil menunjuk ke arahku.
"Paan, sih! Gak ada pacar-pacaran!" ketusku dengan alis tertau.
__ADS_1
"Besok aja 'kan besok libur. Nah, jalan-jalan deh kalian. Lumayan, dua hari," timpal pemilik cafe yang membuat aku terkejut karena ia memberi tahu mereka.
"Yee ...!"
"Jadi, nih!"
"Gas gas gas!!"
Mereka berteriak sambil meninju angin, tersenyum bahagia karena tahu aku libur kerja dua hari sebab pemilik cafe akan ada acara besok sedangkan lusa hari Minggu.
'Kalau udah gini, gimana mau nolak atau bohong sama mereka?' batinku menggaruk kening yang merasa tak bisa mengelak lagi.
Setelah berdiskusi cukup panjang yang membuat toko benar-benar ditutup sampai jam tengah sebelah malam.
Besok sore kami akan pergi mendaki gunung Pangrago, sekitar 3 jam kurang lebih waktu yang akan ditempuh menggunakan sepeda motor.
Aku sekarang tengah kebingungan, bagaimana caranya bilang ke Mama untuk izin pergi apalagi akan camping satu malam.
Kubuang napas pelan dan berjalan bersama mereka menuju parkiran tempat sepeda motor terletak.
Saat kepala ini menatap ke arah depan, sudah ada sosok yang tak asing membuat Bagas dan geng terdiam sedangkan aku kaget.
"Dia siapa?"
"Dia liatin apa?"
Mereka berempat berceloteh menatap ke arah Farhan yang berdiri tak jauh dari kami, pemilik cafe sudah pulang lebih dulu tadi karena sudah dijemput.
Farhan mendekat dengan wajah datarnya menatap ke arahku, ia menarik tanganku menjauh dari Bagas dan teman-teman.
Ini pertama kali Farhan memegang tanganku ini, meskipun tak ada manis-manisnya karena sakit yang kurasa.
"Lepasin!" sentakku dan menghempaskan tangan Farhan dari pergelenganku ini.
Dia menatapku dengan amarah, kami sudah berada di parkiran lebih tepatnya di samping motorku.
"Mana kunci motormu?" Tangan Farhan menadah di hadapanku.
"Buat apa?" tanyaku menautkan alis.
"Udah, sini!" titah Farhan dan dengan cepat kuberi kunci motorku padanya, ia memasang helm di kepalanya dan naik di jok depan.
"Hey, Bro! Lu siapa dia? Kenapa malah narik-narik tangan Queen kayak gitu, ha?" tanya Bagas dan lainnya yang sudah berada di dekat kami.
"Siapa pun aku, itu bukan urusan kalian," jawab Farhan dengan tatapan dingin ke arah mereka.
__ADS_1
Rahang Bagas dan lainnya sudah mengeras bahkan tangan mereka mengepal sempurna sedangkan Farhan tampak biasa-biasa saja.
"Udah-udah, gak papa. Aku pulang duluan, ya. Sama dia aja," potongku cepat sebelum terjadi perdebatan.
"Baiklah, hati-hati Queen. Kalau dia berbuat yang aneh-aneh segera hubungi kami, agar kami bisa beri dia sedikit pelajaran," ungkap Arpan menatap tajam ke arah Farhan.
"Tenang aja, yaudah, aku duluan ya. Bye, Guys!" teriakku sambil berjalan ke arah motor yang sudah keluar dari tempat parkiran.
Di malam yang dingin ini tanpa bulan juga bintang bahkan langit terlihat cerah, mungkin akan turun hujan malam ini.
Kami ... aku dan Farhan membelah jalanan dalam keheningan tapi pikiranku banyak ingin bertanya padanya.
"Ehem!" dehemku mencoba mencairkan suasana.
"Kau tau dari mana tempat kerjaku?" tanyaku sedikit maju agar suaraku terdengar oleh Farhan.
Ia terlihat begitu sangat tampan, wajah fokus dan putihnya begitu membiusku, eh! Kok malah terpesona sama dia, sih?
"Jangan berteman dengan mereka lagi," titah Farhan dingin.
Lah? Aku bertanya apa dia malah jawab apa, sangat tidak nyambung sekali, bukan?
"Emangnya kenapa?" tanyaku yang tak mengerti. Kenapa dirinya selalu menganggap bahwa Bagas dan teman-temannya itu buruk.
"Cari teman perempuan aja."
"Ck! Aku juga dulu nyari yang perempuan, eh ujung-ujungnya malah nyakiti. Ada yang toxic, gak setia temen, tukang jelek-jelekin diri pada orang lain. Malahan, ya, temenan sama cewek ini lebih ribet daripada sama cowok," pujiku tentang Bagas dan kawan-kawan di hadapan Farhan.
Motor yang memang melaju tak terlalu kencang pun akhirnya di berhentikan Farhan dipinggiran jalan.
Tubuhnya sedikit menghadap ke arahku, "Dan apa kau bahagia dengan panggilan mereka tadi?"
"Ya, tentunya," jawabku dengan tersenyum menaikkan bahu acuh ke arah Farhan.
"Mereka hanya akan membuatmu lebih terluka lagi nantinya."
"Kapan? Kami udah lama berteman, gak ada kok. Jangan men-judge seseorang sedangkan kau tak tau tentang orang tersebut, aneh banget tau gak sih? Kalian bisa menghina seseorang sedangkan kalian tak tau orang tersebut.
Seharusnya, kalo kalian mau men-judge seseorang. Setidaknya kalian sudah deket atau berteman dulu dengan orang tersebut.
Jangan hanya karena dengar 'katanya' kau malah ikut-ikutan membenci tanpa tau 'kenyataannya'!" tegasku yang merasa bahwa hampir semua orang tak menyukai Bagas dan teman-temannya itu.
"Baiklah, terserah padamu! Jangan pernah mengadu dan menangis padaku nantinya karena mereka melukaimu!" tegas Farhan dengan marah padaku.
Apakah aku salah? Dia langsung menancapkan gas menuju rumah hingga membuat rambutku tak lagi ada rapi-rapinya.
__ADS_1
'Apa aku salah?' batinku yang sedikit merasa menyesal telah berucap padanya.