Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Calon Istri Rangga


__ADS_3

Cukup lama kami berada di kamar hingga suara azan membuat aku beranjak juga mereka, Mama tersenyum ke arahku sedangkan Farhan juga baru keluar dari kamar dengan pakaian koko juga sarungnya.


"Bapak pergilah shalat dengan Farhan terlebih dahulu, Ibu biar shalat di sini baru setelah itu kita makan siang sama-sama," saran Mama kepada Ayah dan Mama tiriku.


"Gak perlu Buk, kami shalat di masjid aja sama-sama dan makan di luar aja," tolak Ayah dengan bahasa yang sopan agar tak membuat sakit hati Mama.


"Shalat di luar? Haha," gumamku dengan sedikit terkekeh mendengar alasan Ayah.


Mama langsung melihat ke arahku disusul dengan mereka yang lainnya, aku hanya memasang wajah bodo amat seolah tak terjadi apa-apa.


Akhirnya, mereka berdua pergi dari rumah di susul dengan Farhan yang ke Masjid. Aku berjalan ke arah kamar mandi untuk mengambil wudhu.


Selesai empat rakaat kewajiban yang kutunaikan, belum bangkit dari atas sajadah. Mama sudah masuk ke dalam kamarku.


"Boleh Mama masuk 'kan?" tanya Mama meminta izin padahal sudah masuk lebih dulu ke dalam.


Aku mengangguk mengizinkan, Mama duduk di tepi ranjang dan menatap ke arahku yang masih duduk di lantai beralaskan sajadah.


"Maaf, tadi Mama mendengar pembicaraan kamu dan Ayah juga Mama tiri kamu," ucap Mama membuka pembicaraan.


"Kamu tau? Allah saja pemaaf, selagi hambanya mau bertaubat dan tak akan melakukan hal yang sama kembali. Masa, kita yang hanya hamba tak bisa memberi maaf pada sesama?


Mama tau apa yang kamu rasakan, Mama juga bahkan masih ingat dengan amarah Mama waktu Ayah kamu menampar kamu waktu itu.


Lantas, bukan berarti hal itu membuat Mama dendam. Iya, bukan Mama yang merasakan tamparan itu mangkanya Mama bisa bilang Mama gak dendam.


Tapi, sebagai seorang Ibu. Tak akan pernah terima dan rela anaknya ditampar meskipun itu dengan Ayah kandungnya sekali pun.


Allah memberi kita hati agar kita menjadi orang yang lebih lemah lembut dan perasa, seandainya posisi Ayah sekarang adalah Nazwa.


Kira-kira, apakah Nazwa tidak akan sakit hati dengan ucapan Nazwa tadi? Padahal, bagaimana pun Ayah tetap memberi nafkah pada Nazwa.


Masalah Ayah yang tidak meminta izin akan menikah, ya, dia enggak salah banget sih. Karena, seorang Ayah tak perlu meminta izin pada anaknya.

__ADS_1


Namun, seorang anaklah yang perlu ridho dan restu dari Ayah dan Ibunya. Karena restu orang tua artinya restu Allah.


Tak perlu menaruh dendam dengan siapapun, berdamai dan terimalah keadaan juga kenyataan. Nazwa bukan anak kecil lagi 'kan?


Jadi ... Mama rasa Nazwa sudah bisa dan paham dengan apa yang Mama katakan, maafkan dan terima Ayah selagi masih memiliki waktu.


Karena, kematian itu misteri. Jangan sampai Nazwa menyesal jika nanti kehilangan Ayah tanpa sempat mengucapkan bahwa Nazwa sudah memaafkan dia," ujar Mama menasehatiku membuat aku menunduk.


Mama diam sedangkan aku semakin dalam memahami kata-kata Mama, usapan kepala dari tangan Mama membuat aku seketika meneteskan air mata.


"Makan dulu, yuk!" ajak Mama dan kuberi anggukan tanpa menatap ke arah Mama.


Aku anak yang zolim pada orang tua sendiri, seolah berlagak paling tersakiti di dunia ini. Dengan hati yang mengeras tak ingin memaafkan.


Siapa aku? Bukan siapa-siapa, Allah saja bisa memaafkan hamba-Nya yang terkadang melakukan kesalahan bertubi-tubi.


Mengapa aku tak bisa? Ya, memang benar aku hanya manusia biasa. Jadi, jelas saja jika tak bisa memaafkan seperti Allah.


Namun, apa salahnya belajar dan yang ingin kumaafkan bukanlah orang asing. Melainkan, orang yang karena ada dirinya ada pula diriku.


'Bismillah, ya, Allah,' batinku ingin memulai semuanya dengan lembaran baru.


Kurapikan peralatan salat dan meletakkannya kembali seperti semula, keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur.


Mama sudah keluar dari kamarku terlebih dahulu, Mama menyambutku dengan tersenyum dan kubalas senyuman itu.


Sudah ada Farhan juga, kami akhirnya makan bersama. Saat nasi akan masuk ke dalam mulutku, ketukan pintu mengalihkan perhatian kami.


"Biar Nazwa aja," potongku cepat dan mencuci tangan terlebih dahulu.


Ceklek!


Pintu kubuka dan membuat aku sedikit kaget tapi tak terlalu kuperlihatkan, "Silahkan masuk," kataku mempersilahkan orang yang datang.

__ADS_1


Bang Rangga datang bersama dengan wanita yang sepertinya ia ceritakan pada kami tadi malam.


Seorang wanita dengan kerudung di kepala juga aurat yang terjaga. Maa Syaa Allah, sangat sempurna dan cocok sekali.


Bahkan, pasti Mama akan memberi restu langsung kepada mereka melihat penampilan wanita tersebut.


Mama menyambut wanita tersebut dengan ramah, Mama mengajak ia untuk makan bersama.


Aku hanya tersenyum dengan mengulum bibir, tetap tersenyum meskipun beberapa kata aku tak paham dengan pembahasan mereka.


Temanku merapikan meja kali ini berbeda, bukan lagi Farhan tetapi wanita yang dibawa oleh Bang Rangga. Mawar namanya.


"Aku kira, kau adalah adik dari Rangga juga," ucap Mawar membuka pembicaraan. Dia hanya mendapat bagian mengelap meja sedangkan aku mencuci piring kotor.


"Bukan, aku hanya menumpang di sini," kataku terus terang melirik ke arahnya sekilas lalu kembali fokus ke cucian.


"Kenapa bisa kau diterima? Bukankah tidak boleh wanita yang bukan mahram satu atap dengan laki-laki asing? Apalagi dalam jangka waktu yang lama, apa RT atau RW tidak ada yang menegur kalian seperti ini?" tanyanya yang terdengar seolah tak suka dengan keberadaanku.


Kucuci tangan dan kuletakkan barang yang sempat kupegang, menatap ke arahnya yang sedang berdiri sambil bersandar di kursi.


"Terus, kenapa? Apa masalah buat dirimu?" tanyaku bersedekap dada menatap dingin ke arahnya.


"Ya, tentu. Aku jadi sedikit takut untuk menerima Rangga, karena bisa jadi dia dan dirimu ada apa-apa nantinya," terang dirinya tanpa merasa bahwa ucapannya itu terlalu lancang.


Tangan yang tadi berada di dada kulepaskan, kukepal erat. Ingin sekali kuberi pelajaran pada wanita di depanku ini.


Namun, tak mungkin bisa kulakukan. Dia adalah wanita pujaan Bang Rangga, aku yang nantinya akan mendapat masalah juga kebencian dari keluarga ini.


Kubalikkan badanku dan kembali melanjutkan tugas yang sempat terjeda karena ulahnya, tak ada gunanya juga kuladeni wanita tersebut.


Selesai dengan pekerjaan, tangan yang masih terasa basah kulapkan di baju yang kupakai. Berjalan beriringan dengan Mawar ke ruang tengah.


"Kita langsung ke kantor?" tanya Bang Rangga menatap Mawar yang diberi anggukan.

__ADS_1


Aku hanya membuang pandangan melihat interaksi mereka, entah mengapa aku sedikit tak suka dengan Mawar.


Entah tak suka karena sifatnya atau karena yang dia nasehati itu ada benarnya juga, bukankah memang tak baik jika seorang wanita tinggal satu atap dengan pria yang bukan mahramnya?


__ADS_2