Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Ditarik Pulang


__ADS_3

*Setiap perkataan adalah doa dan perilaku menguatkannya*.


Wanita tadi keluar dari cafe dengan wajah yang tak terkondisikan lagi, Bang Gilang pun ikut keluar mungkin berniat untuk mengejar dan menjelaskan kepada wanita tadi.


Namun, wanita tersebut sudah pergi bahkan tak terlihat lagi sosoknya. Bang Gilang meninju angin dan aku segera bersembunyi di meja bulat ini.


Menutup mulut agar tak terdengar kekehan, bisa-bisa habis aku kalau dia sampai tahu aku masih ada di sini.


Dia pun pergi dari cafe karena melirik tak mendapati aku, orang marah memang tak akan pernah fokus untuk melakukan sesuatu.


Kubuang napas lega dan mengusap dada, seketika semua orang menatap ke arahku ketika aku keluar dari persembunyian dan duduk di bangku kembali.


Apa mereka pikir aku murahan? Mau cium laki-laki yang tak dikenal? Tentu saja tidak, dia itu Abangku!


Dering handphone terdengar dari Farhan, nomornya telah ku-save agar memudahkan aku untuk mengangkat atau menolaknya.


"Ada apa?" tanyaku tanpa basa-basi ketika telepon telah tersambung.


"Pulang, udah jam berapa ini?"


"Dih, siapa lu? Gak ada hak buat ngatur aku!" Kumatikan handphone dan meletakkannya kembali.


Menyeruput kopi yang sudah dingin sambil menikmati suara musik dari dalam cafe yang tetap terdengar sampai luar.


"Eh, ada bestie lagi di sini!" seru suara yang tak asing dan membuat aku menatap ke sumber suara.


"Yoi, bestie kita sekarang nih!" imbuh Arpan yang akhirnya juga duduk di depanku. Mereka mengambil bangku di meja yang lain.


Kutatap wajah mereka dan seketika teringat kata Abang, bahwa mereka memiliki masalah dengan Abang.


Bisa jadi, aku dijadikan lampiasan karena dendam mereka dengan Abang yang tak tersampaikan waktu itu.


"Ayo pulang!" perintah seseorang yang tiba-tiba datang menarik tanganku.

__ADS_1


Aku langsung bangkit dan membuat mereka semua menatap ke arahku, "Hey! Santai dong Bro, tuh tangan adik lu sakit lu tarik kayak gitu," ucap Bagas yang berdiri sambil menatap ke arah Bang Gilang yang ternyata masih ada di kawasan cafe.


Bang Gilang tak mengindahkan ucapan mereka, ia mengambil tas dan juga handphone-ku yang masih ada di meja.


"Gue peringatkan sama lu pada, ya! Masalah lu sama gue, jangan pernah berani sentuh adik gue apalagi berbuat macam-macam dengan adik gue! Awas aja kalo lu sampe berani melakukan hal itu!" hardik Bang Gilang mengancam mereka dengan tangan yang menunjuk ke wajah masing-masing dari mereka.


Tangan Bang Gilang di tepis kasar oleh Bagas, "Gak perlu nunjuk-nunjuk juga! Lagian, lu bilang apa? Sentuh dan macem-macem? Oh, tentu tidak. Kita cuma mau temenan sama adik lu dan jadiin adik lu ratu di geng kita," jelas Bagas tersenyum menatapku.


Bang Gilang akhirnya melihat ke arahku dengan tajam, "Sejak kapan aku mau berteman dengan kalian? Aku tak pernah mau!" tegasku menautkan alis yang tak terima dengan ucapan Bagas barusan.


Abang langsung menarikku dan menjauh dari meja tadi, padahal minuman belum kubayar palingan nanti akan ku-chat pelayannya.


Entah sejak kapan taksi menunggu, kami langsung masuk ke dalam mobil ini dengan Abang yang masih menampilkan amarah di wajahnya.


Ia menatap lurus ke depan, kutatap wajahnya dari samping. Tangannya masih terkepal dan rahangnya mengeras.


Kuteguk saliva, 'Habis dah ini sampe di rumah, langsung di mutilasi aku,' batinku yang ketakutan.


Sesampainya di rumah, tanganku tetap ditarik dan dilepas dengan kasar ketika dia sudah selesai menutup pintu dengan menguncinya.


"Siapa yang main sama mereka? Mereka yang tiba-tiba datang dan langsung duduk!"


"Seharusnya kau usir atau pindah, bukan tetap duduk di situ! Bagaimana kalau kau dilakukan hal yang macam-macam dengan mereka?"


"Apa pedulimu? Bukankah kau juga tak suka denganku? Seharusnya kau senang jika mereka melakukan hal macam-macam padaku bahkan kalau perlu membunuhku langsung!" teriakku di depan wajahnya.


Seketika, dia yang tadi begitu garang menjatuhkan bahunya. Ia mendatarkan kembali wajahnya.


Kuusap air mata yang tak diajak untuk berdebat malah turun di antara perdebatanku dan Abang, aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.


Kulihat, ada Farhan yang mengintip perdebatan kami tadi. Rupanya ia terganggu dengan hal itu, sarung yang masih ada di tubuh serta pecinya.


Apakah dia baru selesai salat? Atau malah mengaji? Entahlah, kubanting pintu kamar dengan begitu keras.

__ADS_1


Suara ketukan pun tak lama terdengar, "Keluar kau Nazwa! Jangan kayak anak kecil! Sudah kubilang untuk tidak berteman dengan mereka!"


"Aku gak temenan sama mereka!" teriakku tak mau tinggal diam. Letih rasanya jika tak pernah dipercayai.


"Maaf, Bang," potong Farhan sepertinya.


"Kau siapa? Dan kenapa kau bisa masuk ke dalam rumah ini?" tanya Bang Gilang yang memang tak tahu kehadiran Gilang.


Setelahnya, aku tak mendengar pembicaraan mereka lagi. Terakhi yang kudengar, Farhan mengajak Bang Gilang untuk bicara. Entah apa yang mereka bicarakan, aku pun tak tahu.


"Nazwa, keluar!" titah suara Farhan setelah mereka meninggalkan kamarku kurang lebih satu jam lamanya.


Ceklek.


Kubuka pintu kamar, pakaianku sudah berubah menjadi piyama dengan lengan dan panjang di atas lutut.


"Besok-besok, baju dan celanamu tangan panjang!" titahnya menatap datar ke arahku.


"Dih, siapa kau yang bisa ngatur aku?" tanyaku bersedekap dada.


"Aku adalah Farhan," jawabnya santai yang membuatku tak habis pikir, "sekarang makan, aku udah masak. Ada Bang Gilang juga di situ, berhentilah bersikap kekakanak-kanakan!"


Aku mendengus kesal dan berjalan lebih dulu darinya, letih juga ternyata jika harus berdebat terus-menerus.


Bang Gilang sudah makan lebih dulu, aku duduk di sebrang Bang Gilang. Farhan duduk di sebelahku tapi berjarak satu bangku.


"Nazwa, aku tak tau sejak kapan dan apa yang terjadi dahulu padamu. Tapi, apa yang dikatakan Bang Gilang benar. Kau tak boleh bermain dan dekat dengan sekumpulan laki-laki itu, itu tidak baik," ujar Farhan membuka pembicaraan.


"Siapa yang berteman dengan para laki-laki tua itu?" tanyaku balik sambil menatap ke arah Farhan.


"Jadi, kalau bukan teman namanya apa? Apa jangan-jangan malah ada salah satu pacar kau di antara mereka?" celetuk Bang Gilang yang kulihat sambil mengunyah makanannya.


Kuletakkan sendok dengan keras kembali ke piring, "Kalau kalian tak pernah percaya dengan apa yang aku katakan! Sebaiknya kalian tak perlu bertanya lagi padaku!" tegasku dan pergi dari tempat ini.

__ADS_1


Diamlah ketika kebenaran yang kau ungkapkan tak berarti, diamlah ketika si sok paling tahu mengeluarkan pendapatnya.


Diamlah, untuk orang-orang yang tak pernah mau percaya dan diamlah saat bicaramu tak berarti.


__ADS_2