
Daripada kami banyak bertanya pada Bang Rangga, akhirnya kami putuskan untuk masuk ke dalam halaman rumahnya.
Jalan perumahan ini cukup luas, jadi tak apa jika mobil dibuat di luar rumah. Buket tadi tak dibawa oleh Bang Rangga.
Sebelum ke sini, Bang Rangga sudah memberi tahu dua hari yang lalu ke Kak Mawar dan wanita itu hanya menjawab 'Oke' saja.
Sedangkan tadi Bang Rangga chat dan telepon sama sekali tak bisa dihubungi, handphone-nya mati.
Tok!
Tok!
Tok!
"Assalamualaikum," salam Bang Rangga dengan raut wajah yang terlihat kusut.
Menunggu sekitar lima menit, seorang wanita dengan daster lusuh dan rambut yang diikat asal pun membukakan pintu.
"Waalaikumsalam, cari siapa ya?" tanyanya dengan pintu yang tak dibuka lebar.
"Apa ini benar rumah Mawar?"
"Iya, Mas dan lainnya ini siapa, ya?" Bang Rangga sempat melirik ke arah kami sekilas.
"Mmm ... Mawarnya ada?"
"Enggak, dia lagi keluar."
"Kalau orang tuanya?"
"Ada."
"Boleh kami bertemu?"
"Emangnya Mas ini siapa?"
"Saya temen kantor Mawar dan kebetulan ada keperluan."
"Sebentar, ya," ujarnya dan menutup kembali pintunya.
Mama menepuk bahu Bang Rangga agar laki-laki itu sedikit tenang, Mama pasti tahu apa yang dirasakan Bang Rangga sekarang.
"Silahkan masuk," suruh pembantu tadi membuka lebar pintu meski hanya sebelah.
Kami masuk dengan membuka sepatu, karena melihat pembantunya pun tak menggunakan selalu di dalam.
Rumah yang cukup luas seperti rumah Ayah, aku tak terlalu terkejut jika masuk ke rumah seperti ini lagi.
__ADS_1
Kami duduk di sofa yang sudah ada orang tua Mawar dengan pakaian santai mereka, benar-benar sama sekali seolah tak ada apa-apa.
Apa yang kutakutkan terjadi, bahwa keseriusan dan ketulusan Bang Rangga dipermainkan oleh Mawar saja.
"Jadi, maksud kedatangan kalian semua ke rumah saya apa, ya?" tanya Papa Kak Mawar saat kami sudah duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.
Cukup lama Bang Rangga terdiam, mungkin ia sedang mencoba menahan amarah dan kesedihan di hatinya.
Kulihat Mama mengusap punggung Bang Rangga, wajah laki-laki yang tadinya sempat tertunduk untuk menyembunyikan kesedihan.
Akhirnya terangkat dan menatap ke arah Papa Kak Mawar, saat Bang Rangga akan mulai berbicara.
Tiba-tiba pintu dibuka dengan sepasang kekasih yang sedang saling rangkul begitu mesra, kami langsung menatap ke arah tersebut.
Sedangkan wanita tersebut? Dia tampak syok hingga terhenti langkahnya, ya, laki-laki yang waktu itu juga pernah aku lihat di parkiran mal.
Ternyata dugaanku benar, bahwa Kak Mawar bukanlah sebaik itu. Entah Kak Mawar yang salah entah Bang Rangga karena terlalu terburu-buru.
"Maaf Pak, sepertinya kami salah orang. Permisi!" pamit Bang Rangga menatap laki-laki di depannya dan bangkit.
Kami pun yang tahu dan merasa sangat dipermainkan akhirnya bangkit tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Saat Bang Rangga melewati Kak Mawar, wanita itu melepaskan rangkulan dan berlari mengejar Bang Rangga.
Kami hanya diam sambil berjalan terus keluar dari rumah menunju mobil yang terparkir di depan rumah ini.
"Rangga, tunggu!" teriak Mawar mengejar Rangga dengan langkah tegapnya.
Tangan laki-laki itu dapat di cegat oleh Mawar dan membuat Rangga berhenti, dia menatap Mawar dengan rahang yang mengeras.
Ditepis Rangga dengan kasar tangan Mawar hingga terlepas, mereka sudah berada di samping mobil Rangga.
"Rangga, aku bisa jelasin semua ini," gelagap Mawar dengan terisak.
"Jelasin apa? Apakah kau puas membuat aku malu? Atau ... kau puas sekarang karena telah berhasil mempermainkan hatiku?
Perlukah kutepuk tangan padamu? Begitu jagonya kau berakting hingga membuat aku terpedaya.
Prok, prok, prok.
Sudah puas? Selamat Nona Mawar, kau sudah membuat aku terpedaya dengan dirimu yang sok suci itu!" hina Rangga dengan suara tegas.
Ini kali pertama Rangga mengucapkan kata semenyakitkan itu, dirinya dan Farhan terkenal dengan tutur kata yang sopan serta tak banyak bicara.
Namun, kali ini sepertinya dia begitu sangat sakit hati dan merasa dipermainkan oleh Mawar serta dibuat malu.
"Ra-rangga, aku sama sekali tak berniat mempermainkan dirimu," lirih Mawar dengan bulir bening yang sudah berjatuhan di pipinya.
__ADS_1
"Lantas apa? Salahku, ya, memang salahku sepertinya yang terlalu mudah dan bodoh mencintai seseorang!" tegas Rangga yang begitu jauh berbeda dengan Rangga biasanya.
Ia membuka pintu mobil dan mengambil buket bunga di atas bangkunya, di lempar ke jalan dengan kasar.
Rangga menginjak bunga tersebut sampai rusak dan sudah tak berbentuk lagi, "Persetan dengan percintaan dan wanita sok suci sepertimu!" geram Rangga dan masuk ke dalam mobil.
Melihat Rangga yang sudah masuk ke dalam, Mamanya, Nazwa dan Farhan pun memilih masuk ke dalam mobil.
Mereka dari tadi berada tak jauh dari Rangga dan Mawar, masuk ke dalam mobil tanpa menghiraukan panggilan dari Mawar.
Rangga memencet klakson cukup keras karena Mawar tak beranjak dari sisi mobil, "Minggir! Apa kau mau langsung kubuat mati karena emosiku padamu?" tanya Rangga dengan membuka kaca mobil.
Mawar kaget dan langsung meminggirkan tubuhnya dengan terus menangis, mobil menjauh dari kediaman Mawar dengan lumayan cepat.
Begitu mobil pergi, Mawar berlari masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan orang tuanya yang menatap dan masih bingung dengan apa yang terjadi.
Di tutup pintu kamar dengan keras, Mawar membuka kerudungnya dengan kasar dan menjatuhkan semua barang yang ada di meja riasnya.
"Aaaa!" teriak Mawar menjambak rambutnya keras.
"Lu tolol Mawar! Kenapa lu sampe buat orang yang tulus sakit hati seperti itu? Lu liat apakah hubungan lu sama William ada kemajuan?
Lu nyakiti perasaan orang yang benar-benar mencintai lu! Maafkan gue Rangga, gue salah. Gue gak tau bahwa lu serius!
Gue kira lu sama kayak laki-laki di luaran sana yang hanya penasaran sama gue, gue gak tau kalo lu tulus." Mawar menangis dengan teriak menyalahkan dirinya sendiri.
Mawar memang awalnya mengira bahwa Rangga sebatas penasaran dengannya, ia juga menjadikan Rangga sebagai pancingan agar William kekasih Mawar sejak kuliah segera menikahinya.
Mawar sempat memutuskan hubungan dengan William, laki-laki campuran Amerika tersebut. Namun, William malah mengancam Mawar dengan berbagai hal.
Hingga akhirnya, Mawar hijrah dan memilih kembali memutuskan William. Tapi, lagi-lagi William mengancam.
Dirinya tak pernah tahu bahwa Rangga tulus mencintainya, di pikirannya bahwa semua laki-laki itu sama.
Hanya mempermainkan, penasaran lalu menghilang begitu saja. Hingga tadi, matanya terbuka dibuat oleh Rangga.
Bahwa, tak semua yang datang hanya karena penasaran dan menghilang setelah segala penasarannya sudah terjawab.
Tok!
Tok!
Tok!
"Sayang, kamu belum ceritain sama Mama. Ada apa ini semua?" tanya Mama Mawar.
"Pergi! Pergi kalian semua!" pekik Mawar yang sudah dengan penampilan kacau.
__ADS_1
"Rangga, kembalilah. Aku mohon."