Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Telanj*ng Dada


__ADS_3

Aku masuk ke dalam rumah dan sudah ada suara masakan dari dapur, tak berniat ke dapur lebih dulu.


Kurebahkan tubuh di atas kasur dan menatap platfon kamar, tersenyum. Melihat kegembiraan pada anak-anak tadi membuat aku merasa dibutuhkan di dunia ini.


Tak lama, suara ketukan membuat aku kembali tersadar dan segera membuka pintu untuk melihat siapa yang berada di depan pintu kamarku.


"Ya, Allah Sayang. Kamu udah pulang? Kok gak salam, sih? Jangan biasain buat masuk-keluar rumah tanpa salam, ya," tegur Mama yang kubalas dengan cengiran dan menggaruk tengkuk yang tak gatal.


"Assalamualaikum, Ma," salam Farhan yang langsung kami lihat ke sumber suara.


"Waalaikumsalam, ini lagi! Kamu ke mana aja?" tanya Mama sambil berkacak pinggang.


"Itu, Ma. Ada keperluan yang harus Farhan selesain."


"Yaudah, kalian mandi dan beres-beres. Kita makan dan nonton bareng, jangan sibuk sama dunia kalian masing-masing aja!" ketus Mama dan berlalu pergi dari kami.


Aku mengangguk dan menatap ke arah Farhan dengan menyipitkan mata, berjalan mendekat ke arahnya.


"Apa?" tanya Farhan ngegas.


"Kau dari mana? Ngikutin aku, ya?" tebakku yang sebenarnya memiliki feeling bahwa benar dia baru saja mengikuti aku.


"Ck! Sepenting itukah dirimu?" tanya Farhan nyolot dan membuatku mencebik.


"Besok, pergi bersamaku ke suatu tempat. Ada yang ingin aku katakan!" sambung Farhan kemudian melongos pergi dari hadapanku.


Aku menaikkan satu bibirku, kesal. Melihat tingkah lakunya, kembali ke kamar dan melihat handphone lebih dulu.


[Nanti malam supir akan menjemputmu! Jangan banyak alasan! Ada sesuatu yang harus diselesaikan!] pesan dari Ibu lagi dan lagi yang menyuruh aku untuk ke tempat Ayah.


Padahal, aku merasa semua sudah selesai. Ada apa memangnya? Apa yang membuat Ibu se-kekeh ini agar aku datang ke rumah Ayah kembali?


Saat akan membawa baju ganti ke dalam kamar mandi, Farhan melongos lebih dulu masuk ke dalamnya.


"Dih, aku duluan seharusnya!" gerutuku dan hanya bisa menghentak-hentakkan kaki duduk menunggu di bangku meja makan.


"Lah, belum mandi juga?" tanya Mama yang tiba-tiba datang ke dapur.


"Tuh, Ma! Gimana mau mandi? Orang Farhan duluan masuk ke dalam," cibirku memajukan bibir.


"Hahaha, yaudah, nanti kita buat satu lagi kamar mandi, ya," kata Mama yang kuyakin hanya menenangkan.

__ADS_1


"Gak perlu Ma, udah gak ada juga tanahnya. Pas-pasan dan modelnya emang udah gini, jadi, ya, ini aja deh."


Mama melihat sekitar rumah seolah tengah mengamati, tak lama pintu kamar mandi terbuka dengan Farhan yang keluar dengan handuk melilit di pinggang tanpa baju menutupi tubuh bagian atas.


"Aaaa ...!" teriakku sambil menutup mata.


"Ada apa?" tanya Mama yang bingung sebab aku teriak.


"Itu Ma, si Farhan gak pake baju astaga," geramku menunjuk ke arah yang mungkin benar.


"Farhan!" tegur Mama.


"Lah, Farhan 'kan pake handuk Ma. Lagian, siapa suruh dia nunggu di dapur. Biasanya juga nunggu di kamar," papar Farhan yang tak terima di salahkan.


"Heh! Mau nunggu di atas genteng juga gue, biasain pake pakaian di kamar mandi atau gak bawa baju gitu biar gak telanjang dada kau.


Emangnya gak malu apa? Tuh astaga, ya, ampun!"


"Ngapain harus malu? Kan, aku tutupi."


"Aaa ... Mama! Dengar apa yang Farhan bilang? Nih, anak emang parah banget mesumnya Ma. Pergi gak kau? Pergi sebelum aku pukul pake pakainku ini!" titahku menyuruhnya pergi dengan sedikit mengancam.


Suara derap langkah menjauh akhirnya terdengar, kubuka mata dan melihat Mama yang menahan tawa.


"Haha, lagian kalian ada-ada aja. Emangnya, kamu gak biasa liat yang begitu, ya?" tanya Mama menggoda dengan menaik-turunkan alisnya.


Aku berdiri dengan bibir yang kumajukan, "Apaan, sih Mama! Dah, ah! Aku mau mandi aja!" sungutku dan masuk ke dalam kamar mandi dengan menghentakkan kaki.


Begitu masuk ke dalam kamar mandi, kupegang jantungku yang berdetak tak karuan. Kupegang pipi yang kurasa sedikit panas.


"Aaa ... waras-waras Nazwa, ayo waras!" gerutuku menepuk pipi pelan dan membuang napas secara perlahan.


Hanya perlu waktu dua puluh menit, aku telah selesai melakukan ritual mandi dan berpakaian di kamar mandi.


Meskipun sedikit ribet, tapi aku terbiasa melakukannya dulu. Jadi, tak ada masalah bagiku untuk hal itu.


"Mama lagi masak apa?" tanyaku saat melihat Mama masih sibuk di dapur tanpa ada Bibik.


"Mama lagi goreng pisang," ujar Mama dan hanya kuangguki dan ber'oh' ria.


"Bibik mana Ma?" tanyaku menatap sekitar yang kurasa sangat sepi.

__ADS_1


"Pulang ke rumah Mama."


"Lah, kenapa?"


"Soalnya, anak Mama yang satunya lagi gak ada yang urus nanti. Jadi, biarin aja Bibik di sana," ungkap Maka dan membuatku terdiam.


'Satu lagi? Bukannya kata Farhan dia punya adik, ya? Apa jangan-jangan, adiknya meninggal dengan Papanya?' batinku.


"Yaudah Ma, aku ke kamar dulu, ya. Mau letakkan baju kotor."


"Iya, sama ambil sisir, ya. Biar Mama ikatkan lagi rambutnya sama bedak-in, tadi Mama ada beli ikat rambut pas belanja."


"Lah, kok aku gak liat Mama beli ikat rambutnya?"


"Iyalah 'kan kamu sibuk liat-liatin pasar, kayak gak pernah liat pasar aja," cerca Mama yang kubalas dengan cengengesan.


Selesai salat dan merapikan kamar, aku Mama dan Farhan akhirnya kumpul di ruang tamu sambil menghidupkan televisi sambil memakan pisang goreng buatan Mama tadi.


Rambutku tengah di kucir entah model apa lagi kali ini, aku hanya sibuk makan dan menatap televisi.


"Oh, iya, Ma. Nanti malam, aku akan keluar, ya," ujarku memberi tahu sekalian izin.


"Mau ke mana lagi? Ramai orang nanti malam, kalau kenapa-kenapa, gimana?" tanya Mama yang seperti tak memberiku izin.


"Itu Ma, aku disuruh Ibu buat ke rumah Ayah. Ada sesuatu yang ingin dibahas di sana kata Ibu."


Tangan yang tadinya sibuk di atas kepalaku seketika berhenti, aku langsung membalikkan tubuh dan menatap wajah Mama yang sudah menampilkan sendu.


Kulirik ke arah Farhan yang mengerjapkan matanya, "Mama kenapa?" tanyaku yang bingung dengan sikap Mama yang berubah.


"Kamu akan tinggal di sana dan ninggalin Mama?" tanya Mama menunduk.


"Enggak Ma, aku akan pulang kok. Setelah urusannya selesai pasti akan langsung pulang."


Mama mendongakkan wajahnya dan menatap ke arahku, "Janji?" Kuanggukkan kepala dan tersenyum ke arah Mama.


"Janji!"


Mama kembali mengkucir rambutku dengan telaten, aku beberapa kali tertawa karena menonton siaran yang sedang diputar.


Sesekali kudapati Farhan yang tengah menatap ke arahku sambil tersenyum tipis. Eh, kenapa dengan dia?

__ADS_1


Kenapa malah tersenyum melihat dan menatapku seperti itu? Sangat membuat diri tak aman jadinya.


__ADS_2