
Kembali berjalan dengan hampa karena perawat juga tak memberi tahu tentang sakit Mama. Mereka hanya berkata bahwa Mama kelelahan saja.
"Ngapain?" tanya Farhan yang sudah keluar dari ruangan Mama.
"Apa?" tanyaku menatap ke arahnya.
"Ngapain tadi sama perawat?"
"Nanya soal Mama, lagian ditanyain dari tadi pada diam mulu!" sebalku bersedekap dada dan duduk di bangku.
Bang Rangga tak ada di sini, artinya ia sedang berada di dalam sana. Semoga masih ada waktu agar aku bisa bertemu dengan Mama.
"Kau bolos?" tanya Farhan dan akhirnya duduk juga.
"Iya."
"Kenapa?"
Kutatap tak percaya dengan pertanyaan Farhan barusan, bisa-bisanya dia tanya kenapa, "Kau ada masalah apa, sih? Kok kayak orang gak bener, aja! Nanya kenapa? Ya, jelas karena Mama masuk rumah sakitlah!" cercaku yang heran dengan sikap Farhan.
"Ck! Biasa aja kali, kau lagi PMS, ya?"
Kualihkan pandangan dan membelakangi Farhan, kesal sekali melihat laki-laki yang ada di belakangku sekarang.
"Mama kena serangan jantung tadi," ucapnya yang membuat tubuhku seketika menegang tak percaya.
Kubalikkan badan perlahan dan menatap dirinya, "S-serangan jantung?" tanyaku terbata-bata.
Farhan mengangguk dengan menghela napas pelan, kemudian senyum ia tampilkan dan menatap ke arahku.
"Waktu tau Bang Rangga di tolak atau di selingkuhi juga Mama kena serangan jantung tapi tak separah orang-orang, selama Mama bisa mengontrolnya."
"Jadi, tadi? Kenapa Mama bisa kena?" tanyaku yang merasa bahwa tak ada masalah apa-apa mengenai Mama juga keluarga Farhan.
Farhan menaikkan bahunya, "Entahlah, begitu aku mau pamit sama Mama. Mama sudah tergeletak dengan memegang dadanya, aku pun tak tau apa sebabnya."
"Apakah bisa berakibat buruk jika seperti itu terus-menerus?"
"Tentu. Kalau Mama sudah tak bisa mengontrolnya, kemungkinan besar serangan jantung yang membuat meninggal di tempat juga akan menimpa Mama."
"Emangnya gak bisa disembuhkan, ya?" tanyaku menautkan alis dengan wajah sendu.
"Entahlah, aku pun tak tau. Soalnya, Bang Rangga yang lebih sering bertanya pada dokter. Sedangkan aku? Tak pernah diberi izin."
__ADS_1
Ceklek!
Pintu kamar Mama terbuka dengan Bang Rangga keluar dari dalamnya, mata yang merah seperti habis menangis.
"Aku ke toilet dulu," pamit Bang Rangga dan pergi begitu saja.
"Lah 'kan ada toilet di dalamnya 'kan?" tanyaku heran dengan alasan Bang Rangga.
"Kau tak mau masuk?" tanya Farhan menatapku.
"Mau! Bentar, ya, minum dulu nih," suruhku dan meletakkan kresek ke pangkuan Farhan. Segera masuk ke ruangan Mama sebelum perawat atau dokter masuk ke dalamnya.
Bisa-bisa, aku nanti tidak diberi izin oleh mereka untuk bertemu Mama karena waktu kunjungan telah selesai.
Kubuka pintu ruangan Mama dan menutupnya kembali, berjalan dengan gontai ke arah ranjang yang sudah ada orang di atasnya.
Wajah yang selalu menampilkan senyuman, sekarang sudah tak ada lagi. Suara yang begitu lembut, tak terdengar lagi.
Kujatuhkan bobot tubuh di kursi yang ada di sisi ranjang, kupegang tangan dingin Mama yang terpasang infus.
"Ma ... Mama sakit apa, sih? Kok gak pernah kasih tau Nazwa? Mama kenapa bisa ada di sini? Kenapa, Ma?
Ma ... bangun, ya, kita jalan-jalan, yuk! Atau ... beresin taman, jangan tidur aja Ma. Mama pasti bisa sembuh. Nazwa yakin itu!"
"Semua salahku! Kenapa Mama bisa sampe tau kalo aku suka sama Nazwa dan kenapa aku malah egois bilang ke Mama tadi bahwa tak akan melepaskan Nazwa meskipun ke Farhan!
Dasar Rangga bodoh! Kau sangat bodoh, jika terjadi apa-apa sama Mama. Apa yang akan kau lakukan?
Kau pasti hanya bisa menangis dan menyesal seperti orang bodoh! Cinta buat kau buta Rangga! Banyak wanita lain, kenapa kau malah ingin Nazwa?!"
Rangga menjambak dan memaki dirinya sendiri di toilet yang kedap suara, ia berteriak dengan keras melampiaskan rasa bersalahnya.
Tadi pagi saat akan sarapan, Mamanya mengajak ia untuk sarapan bareng. Namun, saat yang bersamaan.
Mamanya melihat Rangga sedang membungkus set gamis dan khimar dengan warna yang senada pilihan dirinya.
"Wah ... cantik banget gamisnya," puji Mama dan duduk di pinggir ranjang samping Rangga yang sedang membungkus gamisnya.
"Haha, iya Ma."
"Buat siapa? Kok dibungkus segala?"
"Buat Nazwa Ma," ujar Rangga melirik sekilas ke arah Mama.
__ADS_1
Wajah yang bahagia tadi karena berpikir bahwa Rangga sudah membuka hati untuk wanita lain seketika murung dan datar.
"Sebagai apa kamu kasih dia gamis? Bentuk terima kasih atau mengambil hati?" celetuk Mama membuat Rangga menghentikan aktivitasnya dan melihat ke arah Mama.
"Hehe, Mama apaan, sih? Kok malah nanya kayak gitu?" kata Rangga cengengesan.
"Mama serius, kamu suka sama Nazwa?" selidik Mama menaikkan satu alisnya.
Deg!
Rangga terdiam dan menatap dalam ke keramik kamarnya, ia pun sebenarnya tak tahu ini cinta atau hanya sebatas perasaan adik-abang saja.
"Memengnya kenapa kalau Rangga cinta sama dia Ma?" tanya Rangga yang tak mengerti.
"Jangan! Dia hanya untuk Farhan! Carilah wanita yang lain!" tegas Mama dan langsung berdiri dari ranjang.
'Apa yang aku takutkan benar-benar terjadi rupanya, aku tak ingin ini terjadi dari dulu,' batin Mama cemas.
"Farhan? Dia juga suka sama Nazwa?" tanya Rangga dan berdiri di belakang Mama.
"Iya, dia suka sama Nazwa. Dan biarkan mereka bersama-sama, kau carilah wanita yang lain saja."
"Tapi, Ma. Farhan gak pernah tuh gungkapin perasaannya ke Nazwa, jadi rasa Rangga. Kalo Rangga duluan yang ungkapin itu juga gak masalah."
Mama menatap ke arah Rangga dengan nyalang, "Kau sungguh egois! Jangan mengambil sesuatu yang sudah milik orang lain!"
"Lah, 'kan Nazwa belum jadi milik Farhan."
"Sebentar lagi akan jadi miliknya, Mama akan menjodohkan mereka."
"Berarti, Mama yang egois sekarang. Mama gak bisa membuat anak orang harus mengikuti apa kata Mama.
Jika Nazwa tidak mau, ya, jangan dipaksa dengan perjodohan seperti itu. Dia juga berhak memilih Ma.
Bahkan, jika dia tak mau dengan Rangga dan Farhan. Dia berhak untuk bahagia dengan orang lain tanpa paksaan."
"Gak! Dia harus jadi anak Mama seutuhnya, Mama gak mau dia nikah sama orang lain atau bahkan denganmu.
Mereka saling cinta, bukankah kau juga melihat bagaimana cinta Farhan ke Nazwa? Dia sampe rela keluar dari rumah dan pindah ke rumah Nazwa.
Jangan mengganggu kebahagiaan orang lain, carilah kebahagianmu sendiri dengan wanita lain!" tegas Mama dan meninggalkan kamar Rangga dengan membanting pintu cukup keras.
Tak lama berselang dari perdebatan antara Rangga dan Mama, suara tubuh yang jatuh pun terdengar beserta suara Farhan yang memanggil nama Abangnya.
__ADS_1
Rangga langsung keluar dari kamar dengan panik, segera mengambil kunci dan mengangkat Mama ke dalam mobil membawa wanita itu ke rumah sakit terdekat.