Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Frustasi


__ADS_3

Aku memberontak saat Lio memulai permainannya, ia memegang tengkukku dan memaksa agar aku membalas.


Namun, bukannya membalas aku semakin memberontak dengan apa yang tengah dibuatnya sekarang.


"Baj*ngan!" teriak suara yang tak asing di telingaku.


Aku melihat ke arah suara, Farhan dengan senter di tangannya mengarah ke kami. Lio menjauhkan tubuhnya, mengusap sudut bibirnya dan bibirku menggunakan jempolnya itu.


"Ck! Kau sungguh sangat mengacau sekali," ujar Lio dengan tersenyum seolah sudah menang.


Farhan terlihat begitu sangat marah, dia pasti melihat meskipun sebentar apa yang dilakukan Lio tadi padaku.


Tak tinggal diam, kutunjang tubuh Lio dengan menggunakan kakiku hingga membuat dia tersungkur ke rumput.


Aku sempat ingin terjatuh akibat dirinya masih memegang tanganku tadi, dengan cepat berlari ke arah belakang Farhan.


Farhan memberikan senter yang di pegangnya tadi kepadaku dengan kasar, ia maju dan memegang keras baju yang dipakai Lio tadi.


Ditariknya baju tersebut membuat laki-laki itu bangkit akibat perbuatan Farhan.


Buk!


Buk!


Buk!


Buk!


Tanpa ampun dan aba-aba, Farhan meninju tubuh Lio hingga membuat tubuh laki-laki itu terkulai lemas kembali ke rumput.


Bahkan, wajahnya juga ikut menjadi sasaran Farhan. Darah keluar dari sudut bibir laki-laki tersebut akibat Farhan.


Beberapa kali kututup mata dan mulut karena melihat hal tersebut, tak pernah melihat Farhan semarah itu sebelumnya membuat aku terkejut.


Merasa Lio sudah terkapar, Farhan menjauhkan tubuhnya dari Lio yang sudah terkapar di atas rumput.


Ia menatap ke arahku, aku hanya terisak menutup mulut. Farhan mendekat, aku memundurkan langkah ke belakang.


Tangannya terulur di hadapanku, "Jangan Farhan! Stop! Aku wanita yang gak baik, jangan deket aku Farhan!" larangku padanya.

__ADS_1


"Gak, dia cuma mengambil ciumanmu saja 'kan? Dia tidak mengambil yang lain 'kan? Tak perlu takut, mendekatlah!" titah Farhan dengan tatapan sendu ke arahku.


Aku menggelengkan kepala dengan tangan yang tetap menyuruh dia menjauh, wajah yang penuh dengan keringat juga air mata dan rambut yang sudah entah bagaimana.


Dengan cepat, Farhan menarik tanganku dan membuat aku masuk ke dalam dekapannya. Terisak dan mengeluarkan segala ketakutan yang sempat terpendam.


Tak tahu apa jadinya jika sampai Farhan tak datang ke sini untuk menyelamatkanku tadi. Mungkin, bukan hanya ciuman pertamaku yang hilang dibuat olehnya tapi hal yang lain.


Cukup lama aku di dekap oleh Farhan, hingga ia melepaskan pelukan dan menangkup wajahku hingga membuat mendongak agar menatap wajahnya.


"Dengar ... dengar satu hal ini, kau tetap wanita baik-baik. Tak perlu berpikiran bahwa kau sudah tak suci atau lainnya. Tenanglah," titah Farhan sedangkan tubuhku merasa dingin, gemetar dan bingung.


Aku seperti orang bodoh dan dungu, tak paham dengan apa yang terjadi barusan. Kugigit jari-jari dan melihat ke arah pepohonan.


"Nazwa-nazwa! Kau kenapa?" tanya Farhan dengan nada panik melihat tubuh dan kelakuan Nazwa yang tak biasa.


Farhan panik melihat perubahan dari Nazwa, ia menatap sekilas ke arah Lio yang masih terbaring lemah di atas rumput.


"Ada apa?" tanya Gilang yang memang ikut dengan Farhan tadi.


Namun, ia membereskan ketiga teman Lio yang lainnya lebih dulu. Sedangkan Farhan ia perintahkan untuk membantu Nazwa.


"Ha? Yaudah, ayo kita bawa dia ke mobil cepetan!" teriak Gilang yang tak kalah panik.


Farhan menggendong tubuh Nazwa karena wanita itu tak lagi merespons apa-apa, sedangkan Gilang menyiapkan mobil.


***


Mereka mencari rumah sakit terdekat, dengan kecepatan yang tinggi Gilang membawa mobil milik Ibunya itu.


Sedangkan Farhan berada di belakang dengan mengajak Nazwa terus-menerus berbicara agar wanita tersebut mau merespons.


"Apa yang mereka lakukan memangnya dengan Nazwa tadi?" tanya Gilang yang sudah tak bisa menahan bertanya.


"Yang aku liat, laki-laki itu cuma mencium Nazwa aja Bang. Aku gak tau sebelumnya apa yang dia lakukan pada Nazwa," jelas Farhan menatap ke arah Nazwa.


Wanita tersebut seperti orang ketakutan, "Kamu ngapain? Jangan pegang saya! Tolong ...!" teriak Nazwa memberontak saat Farhan memegang tangannya.


"Tenang Nazwa! Ini aku Farhan, bukan mereka!" terang Farhan memegang bahu Nazwa.

__ADS_1


"Farhan? Kau Farhan?" tanya Nazwa dengan wajah sendu.


Farhan menggigit bibir bawahnya agar tak terisak, "Iya, ini aku. Aku akan lindungi kamu," ucap Farhan mengusap ujung matanya dengan cepat.


"Kenapa kau datangnya lama sekali! Aku sudah melihatmu di musala tadi, kenapa malah tidak mau melarangku?


Hiks ... hiks ... aku ingin diperkosa mereka tadi ... hiks ... ini gara-gara Bang Gilang! Aku membenci laki-laki yang sama brengseknya dengan mereka!"


Nazwa melepaskan tangan Farhan yang berada di bahunya, ia mengusap air mata di pipinya tadi. Menunjuk ke arah Farhan dengan tatapan tajam.


"Apa jangan-jangan, kau juga akan melakukan seperti mereka tadi, ya? Ha? Iya? Kau akan melakukan hal bejat seperti mereka tadi?


Aku salah apa sama kalian dan mereka? Apa lahirnya aku di dunia ini adalah kesalahan? Aku pernah berbuat apa sama kalian?


Kenapa harus aku? Aku tidak pernah mengusik kalian, aku tidak pernah melakukan apa pun? Aku salah apa?!" teriak Nazwa frustasi dan menangis dengan terisak begitu memilukan.


Gilang yang merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Nazwa menangis tanpa suara, 'Aku membenci diriku sendiri, maafkan Abang Nazwa. Ini semuanya gara-gara Abang, seharusnya Abang bisa lebih menjagamu,' batin Gilang merutuki dirinya sendiri.


Sedangkan Farhan yang berada di samping Nazwa, ia menggelengkan kepalanya dan mendekap kembali Nazwa.


"Kau tak salah, mereka yang salah Nazwa. Tenanglah, jangan seperti ini aku mohon. Aku memang laki-laki jahat yang melukai dirimu.


Aku bodoh sangat bodoh sehingga kau jadi korban oleh laki-laki brengsek itu, jangan seperti ini Nazwa. Aku mohon," pinta Farhan lirih.


"Aku punya salah apa, sih, sama Tuhan? Aku punya salah apa? Kenapa kehidupanku sehancur ini?


Aku salat, aku gak pernah melawan Mama, aku gak pernah bertengkar besar dengan orang-orang.


Aku ikut segalanya, Abang yang tak pernah sedikit pun perhatian padaku aku terima begitu saja.


Aku diusir oleh Ayah, aku ditampar, aku difitnah, aku tak diberi uang oleh Ayah aku terima semuanya!


KENAPA HARUS AKU? AKU SALAH APA? KENAPA TUHAN TIDAK ADIL PADA HIDUPKU?"


Nazwa memberontak hingga memukul kepalanya sendiri, sebisa mungkin Farhan menahan tangan wanita itu untuk berhenti melakukan hal tersebut.


Mobil berhenti, Gilang membantu Farhan untuk menahan tangan Nazwa agar tak lagi memukuli kepalanya sendiri.


"Nazwa sadar! Kau jangan jadi gila seperti ini!" bentak Gilang dan menghempaskan tangan Nazwa yang sudah ia pegang.

__ADS_1


Nazwa tersentak dan menatap tajam ke arah Gilang, "Apa kau bilang? Gila? Memang aku sudah lama gila, apa kau pikir orang waras akan ada yang tahan hidup dengan keluarga seperti ini? Kau kira ada? Tidak! Tak akan ada orang waras yang tahan hidup seperti ini!"


__ADS_2