Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Tempat Sampah


__ADS_3

[Datang ke rumah Ayah kamu sekarang juga!] pesan dari Ibu yang baru kubaca setelah terkirim 10 menit yang lalu.


[Kenapa Ibu tak ke sini aja? Ngapain aku harus ke sana?] balasku yang mulai bangkit dari kasur dan melihat jam dari handphone.


Sudah hampir akan masuk waktunya salat, kutunggu pesan masuk lainnya dari Ibu. Jika memang penting, aku akan datang ke rumah Ayah nantinya.


[Gak usah banyak tanya! Kamu datang aja ke sini langsung!]


[Aku ada kesibukan jam 2 nanti, besok-besok aja aku baru ke rumah Ayah. Bye!] putusku lebih dulu dan mematikan jaringan data.


Hari ini, aku dan geng Bagas akan melakukan belajar-mengajar seperti itu untuk anak-anak jalanan.


Aku juga ingin lihat, apakah yang mereka ucapkan kemarin benar atau tidaknya. Berjalan untuk mengisi perut yang dirasa kosong.


"Eh, kamu udah bangun Sayang? Mama baru mau bangunin kamu," kata Mama saat melihat aku sudah berjalan ke luar kamar.


"Aku udah gak papa, kok, Ma," jelasku meyakinkan dan diberi anggukan dari Mama. Kami berjalan bersama menuju meja makan yang sudah ada Farhan di situ.


Aku duduk dan mengambil makanan secukupnya, tak ada yang membuka pembicaraan aku pun tak ingin melakukan hal itu.


Membantu Mama memberesin dan mencuci piring, setelah itu aku kembali ke dalam kamar untuk mengikat rambut menjadi satu saja.


Memakai tas ransel dan pakaian yang sedikit tertutup meski pastinya tak menggunakan kerudung.


Tak lupa, membawa papar bag yang berisi jaket Bagas kemarin malam yang ia pinjamkan padaku. Aku berniat akan mengembalikannya.


"Kamu mau ke mana Sayang?" tanya Mama yang tak kulihat jika ia ada di sofa.


Dengan cengengesan aku berjalan mendekat ke arah Mama dan ternyata ada Farhan juga di situ yang masih terus dengan wajah datarnya.


Kadang, aku sampai heran sendiri dan bertanya-tanya. Apakah dia tidak letih dengan wajahnya itu?


Maksudku, meskipun aku juga sering datar. Tapi, di beberapa moment pasti tersenyum juga meskipun hanya tipis.


"Aku mau ke luar Ma," ucapku jujur.


"Ke mana? Sama siapa? Ngapain dan jam berapa pulang?" tanya Mama bertubi-tubi yang membuat aku mengerjap kebingungan.

__ADS_1


"Itu Ma, ada komunitas sama temen dan pulangnya paling sebelum malam deh. Atau ... jam 4 paling lama."


Mama tampak diam dan mencerna apa yang kuucapkan, "Jam 4 sudah harus pulang, ya!" titah Mama sambil menunjuk ke arahku.


Kuanggukkan kepala dan mencium tangannya dengan takzim, "Bye, Ma!" Aku setengah berlari ke luar dari rumah.


Tak kulihat bagaimana ekspresi dari Farhan tadi, aku tahu pasti dia tak akan percaya dengan apa yang kuucapkan tadi.


"Sesuai lokasi 'kan Dek?" tanya tukang gojek dengan aku yang tengah memakai helm.


"Iya, Pak!"


Roda dua membelah jalanan dan keluar dari gang rumahku, sesekali kulirik ke arah belakang takut saja jika ada yang mengikutiku nantinya.


Aku sudah berada di taman, kuedarkan pandangan tak ada siapapun di sini. Sedikit kurapikan rambut dan duduk di bangku yang sedikit dingin karena dilindungi oleh pohon.


"Mana sih mereka, jadi atau enggak, sih?" gerutuku sambil melihat ke kanan dan kiri.


"Hey, Queen!" teriak suara Arpan dan benar saja. Mereka berempat tengah berjalan ke arahku dengan senyuman yang tak jelas.


Berdiri dan menatap mereka dengan datar, aku tak bisa langsung tersenyum seperti layaknya sudah bersahabat lama dengan mereka.


"Ini, thanks buat jaketnya," ujarku menyerahkan papar bag yang sudah berisi jaket Bagas.


"Wah ... wangi banget," pujinya sambil membuka papar bag untuk melihat jaketnya yang sudah kucuci juga setrika itu.


"Udah, yok! Mereka pasti udah nungguin kita," potong Lio dan diangguki oleh mereka semua kecuali aku.


Berjalan secara bersama-sama menuju parkiran, "Queen, lu sama Lio aja," titah Arpan membuatku melihat ke arah Lio yang sudah naik di sepeda motornya.


Mereka membawa tiga sepeda motor, Bagas dengan temannya dan Arpan juga Lio sendirian tanpa ada boncengan.


Melihat aku masih terdiam tanpa bergerak ke arah Lio, Arpan kembali bersuara, "Atau mau sama gue? Tapi ... helm gue gak ada," jelas Arpan yang membuatku seketika berjalan ke arah motor Lio.


Tanpa kupinta, Lio menurunkan kedua pijakan sepeda motornya. Siapa wanita yang tak akan baper jika terus-terusan diperlakukan seperti ini?


"Thanks," ucapku dan naik ke jok belakang sambil mengambil helm yang diserahkan Lio.

__ADS_1


"Bisa pasangnya?" tanya Lio melirik ke wajahku melalui kaca spion. Kuanggukkan kepala sebagai jawaban.


Motor mulai berjalan dengan kami yang berada di bagian belakang, aku menatap ke arah jalanan tanpa berniat memecahkan keheningan di atas motor ini.


"Ehem!" dehem Lio dan langsung kulirik wajahnya dari kaca spion.


"Kau baik-baik aja?"


"Huum."


"Kegiatanmu selain sekolah, apa?"


"Waspada dengan kalian!"


"Haha, kenapa harus waspada pada kami? Emangnya kami akan berbuat apa padamu? Oh ... atau, Abangmu sudah mendoktrin tentang kami padamu?


Dia bilang yang tidak-tidak tentang kami padamu, ya? Apakah dia bilang kami akan menyakiti atau bahkan akan membunuhmu?"


Kusipitkan mata menatap tajam ke arah Lio dari kaca spion, "Menurutmu, apakah wajar seorang laki-laki yang lebih tua darimu mengajakmu untuk berteman?


Bukannya biasanya para ceweklah terlebih dahulu yang caper untuk bisa bergabung ke geng para laki-laki itu!"


Dia terdiam, aku tak semudah itu untuk dikelabui. Meskipun sekarang aku tengah berada dan ikut dengan mereka.


Bukan berarti aku bisa percaya 100%, aku ingin melihat apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan padaku sebagai balas dendam mereka pada Abang.


Kami akhirnya sampai di kawasan yang memang penuh dengan sampah, "Nih, pakai masker kalo kamu emang belum terbiasa mencium aroma seperti ini," suruh Lio menyerahkan masker yang langsung kupakai.


Berjalan bersama-sama melewati tumpukan sampah tersebut, beberapa orang yang tinggal di sekitaran sampah menyapa mereka.


'Apakah mereka memang sering mengajar di sini?' batinku menatap wajah Lio yang sekarang memang aku tengah berjalan bersamanya.


Sampai di tempat yang terbuka, ada empat meja dan delapan bangku di situ. Juga papan tulis kecil yang sudah tersedia.


"Siapa yang menyiapkan ini?" tanyaku sambil tetap menatap apa yang ada di depanku sekarang.


"Kami. Kami yang membelinya."

__ADS_1


"Jadi, kalau hujan gimana? Apa bangku, meja dan papan tulisnya tetap di luar begini?" kataku mendongak menatap wajah Lio.


Dia menggelengkan kepala dan tersenyum padaku, "Mereka akan memasukkan semuanya ke rumah masing-masing dan akan menyusun kembali saat tau bahwa akan belajar kembali," papar Lio dan langsung kuangguki sambil menatap kembali tempat itu.


__ADS_2