Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Mereka Lagi


__ADS_3

"*Luangkanlah waktu untuk menyendiri, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Waktu yang paling kondusif adalah pada sepertiga malam manakala alam terasa sunyi karena makhluk sedang tertidur. Pada suasana yang sepi, zikir dan doa yang kita panjatkan kepada Allah akan jauh lebih khusyuk dan lebih meresap di dalam hati," (Aa. Gym*)


Pergi ke tempat yang semoga bisa membuat aku lebih baik lagi, sekitar 45 menit akhirnya roda dua yang kupesan sampai ke tujuan yang diinginkan.


Melangkahkan kaki dengan gontai, aku sudah tak peduli lagi dengan tatapan orang-orang padaku. Memasuki area pantai dengan orang-orang yang berdatangan.


Aku kira, waktu seperti ini akan sepi pengunjung. Ternyata sama saja, duduk di pinggir air dengan menatap lurus hamparan air di depanku.


Memeluk lutut dan membenamkan wajah, rambutku pun sekarang sudah acak-acakkan dibuat angin yang cukup kencang.


"Kau butuh bahu untuk bersandar? Bahuku siap untuk hal itu," ujar seseorang yang tiba-tiba seperti berucap padaku.


Kuangkat wajah dan melihat orang yang ada di samping, "Lio," gumamku saat melihat laki-laki itulah yang ada di sampingku sekarang.


Kuhapus air mata dengan cepat dan melihat sekitar, tak lama ketiga temannya menghampiri kami.


"Nih buat kau," ujar Bagas sambil memberi kelapa hijau padaku.


"Aku tak butuh!" tegasku dan tak mengambil uluran darinya itu.


"Hadeuh ... Abang kau bilang apaan, sih, tentang kami? Dia pasti bilang hal buruk, ya?" tebak Bagas dengan meletakkan kelapa tadi di sampingku.


"Bukan urusanmu!" Kulihat kembali ke arah depan dengan merapikan rambutku yang dimaini angin.


"Kita tau, kau pasti udah mendengar hal yang enggak-enggak soal kami dari Abangmu itu. Tapi, percayalah bahwa kami sama sekali tak punya niatan buruk padamu," jelas Arpan kali ini yang membuat aku melihat ke arahnya yang berada di samping Lio.


"Bagaimana aku bisa percaya? Gak masuk di otak, kalian tiba-tiba sok SKSD sama aku!" ujarku dengan nada kesal.


"Hmm ... kau kenapa? Lagi ada masalah? Kalau ada masalah cerita aja, daripada sendiri kayak gini orang-orang juga nganggep kau seperti orang yang kurang waras," papar Bagas.


Aku diam dan kembali menatap ke depan, tak berniat menyahut atau berdebat kembali pada mereka.


Tiba-tiba, kepalaku di pegang oleh seseorang dan diletakkan ke bahunya membuat tubuhku menjadi miring.


"Dih, apaan sih!" tegurku dan ingin menarik kepalaku dari bahu Lio.


Namun, dia malah memegang kepalaku dengan kuat menahannya, "Udah, kalo kau butuh bahu kami siap kapan aja. Gak perlu ngerasa takut atau lainnya, kita baik kok. Kalo kau gak percaya, coba gabung di geng kami selama seminggu agar kau bisa menilai apakah kami baik atau enggak.


Kalau denger dari orang doang, semua orang maka gak akan ada baiknya begitu pun kau sendiri.


Jadi, sebelum men-cap seseorang kau harus sudah masuk atau setidaknya tau tentang mereka lebih dulu," ungkap Lio yang membuatku terdiam.

__ADS_1


Ada benarnya juga yang ia katakan, aku tak bisa men-cap sesuatu sedangkan aku tak pernah kenal dan tahu.


Sama halnya seperti makan di restoran yang baru buka, aku tak bisa bilang enak sedangkan aku belum pernah makan di restoran itu.


Setidaknya, aku harus makan sekali baru boleh beri penilaian pada restoran tersebut. Sebuah elusan pun kurasakan juga di kepalaku sekarang.


Keadaan yang sudah sangat lama tak kurasakan, bersandar di bahu seseorang dan mendapatkan perlakuan baik juga manis seperti ini.


***


Jam 4 sore akhirnya aku baru memutuskan untuk pulang, aku diajak oleh Lio dan gengnya untuk berkeliling dan makan terlebih dahulu.


Mereka membujuk dengan berbagai cara agar aku mau ikut, lagian aku juga lapar saat itu dan mereka mengajak untuk makan bersama.


Saat akan pamit pulang, mereka bersekeras untuk mengantarkan. Tapi, aku menolaknya karena harus berhati-hati juga.


Tak mau mereka tahu segalanya tentangku apalagi soal rumah yang baru saja kutempati kini. Kubuka pintu rumah yang tertutup.


Berjalan begitu saja menuju kamar tanpa melihat ke sekitar, "Dari mana?" tanya seseorang yang membuat aku berhenti dan menatapnya.


Ia memasukkan tangan ke dalam saku celana menatap aku dengan datar, eh, siapa dia? Kenapa udah kayak suami perhatiannya.


"Kenapa pergi saat Ibumu masih ada di rumah? Dia bahkan bilang kalau belum siap bicara denganmu," sambungnya kembali. Aku kira, sudah habis pembicaraannya.


"Menurut dia belum, tapi menurutku sudah. Tak ada yang harus dibicarakan antara aku dan Ibu, lagian itu bukan urusanmu! Bisahkah kau berhenti untuk ikut campur soal hidupku?!" teriakku geram dengan Farhan lama-lama yang terkesan begitu ikut campur.


Dia berjalan mendekat ke arahku dan saat mulutnya akan mengeluarkan kata-kata, suara ketukan mengalihkan pandangan kami berdua.


"Tunggu di sini dan jangan pergi ke mana-mana! Kita belum selesai," peringkat Farhan dengan tegas.


Bukannya patuh, aku malah masuk ke dalam kamar dan membiarkan dia membuka pintu untuk orang yang baru saja bertamu dan entah siapa.


Suara wanita terdengar dari ruang tamu, aku tengah duduk sambil membuka handphone melihat status-status teman-temanku.


Terlihat, kedua mantan temanku sedang begitu bahagia. Sama sekali mereka tak bertanya kenapa aku tak sekolah-sekolah lagi.


"Cih! Dasar, dekat cuma demi uangku saja," hinaku melihat foto mereka.


Tok tok tok.


"Siapa?" tanyaku dengan sedikit teriak.

__ADS_1


"Aku. Keluar!" titahnya dari depan pintu kamar yang kukunci.


"Ada apa? Kalau itu Ibu atau Ayahku, suruh saja mereka pulang!"


"Bukan, Mamaku di depan," ujar Farhan yang membuat aku terdiam sebentar. Kuletakkan handphone dan berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek.


Kulirik ke arah sofa, sudah ada seorang wanita paruh baya yang menggunakan kerudung set gamis dengan warna yang senada tersenyum ramah padaku.


"Terus, kalau ada Mamamu?" tanyaku pelan dengan menaikkan satu alis.


"Balas budi!"


"Ha?" tanyaku yang tak paham.


"Tadi, aku menemani Ibuku. Sekarang giliran kau yang menemani Mamaku."


"Aku tak meminta kau melakukan hal itu!" debatku yang tak terima.


"Ada apa?" celetuk Mama Farhan yang ternyata sudah berada di tengah-tengah kami.


"Eh, tidak Ma. Ini ... Nazwa ingin belajar nanam bunga dari Mama yang baik dan benar, cuma dia malu," ujar Farhan berbohong yang membuat aku membulatkan mata.


Kutatap dia dengan mata yang membesar, Mamanya malah tersenyum melihatku.


"Ayo!" ajak Mama Farhan yang membuat aku kaget. Bagaimana bisa Mamanya malah mau-mau saja seperti ini?


"Oke, Farhan ke gudang buat ngambil pot dan nanti dibeli tanahnya. Mama udah bawa bunga-bunganya 'kan?" tanya Farhan dan mendapatkan anggukan dari Mama Farhan.


Aku baru tahu ternyata Farhan memang sudah merencanakan hal ini tanpa sepengetahuan aku.


"Eh, tapi Nazwa sudah makan apa belum?" tanya Mama Farhan sambil mengelus surai hitam milikku.


"Sudah Tante."


"Kau makan apa?"


"Bukan urusanmu!" jawabku dengan nada ketus. Kulihat Mama Farhan hanya menggelengkan kepala dengan jawabanku yang pasti terdengar sangat tidak baik di telinga wanita itu.


Biarlah, agar dia tahu bahwa anaknya tersiksa di sini dan ia suruh atau bahkan paksa agar anaknya bisa pulang saja.

__ADS_1


__ADS_2