Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Saran


__ADS_3

Selesai salat dengan Mama, kami melanjutkan ke dapur untuk membantu Bibik yang lagi bekerja menyiapkan makan malam.


Kami juga ke taman karena tak semua pekerjaan di dapur kami siapkan, Bibik takut kalau Ayah sampai tahu.


"Mama mau mandi dulu, deh. Udah gerah banget," keluh Mama sambil mencium bahunya dengan tangan yang kotor karena merapikan tanaman.


"Hahaha, baiklah Ma."


"Kamu juga mandi, besok aja di sambung udah mau jam 5 ini. Papa kamu sebentar lagi pulang."


Aku mengangguk, Mama bangkit dan pergi meninggalkan aku. Kususun terlebih dahulu pot bunganya dan bangkit untuk mandi juga.


"Assalamualaikum Ma, Mama apa kabar?" tanyaku dengan duduk di tepi ranjang.


"Waalaikumsalam Sayang, baik dong. Kamu nanya Mama kayak gitu, baru juga beberapa jam kamu di sana," sindir Mama dengan tertawa di sebrang.


"Aish Mama!" sebalku mengerucutkan bibir.


"Hahaha, oh, iya Sayang. Minggu depan kamu bisa ikut 'kan?"


"Ha? Ikut ke mana Ma?" tanyaku menaikkan satu alis.


"Bang Rangga mau lamaran sama Kak Mawar," ungkap Mama.


Deg!


'Kenapa Bang Rangga secepat ini, sih, ngambil keputusan? Apa yang aku liat tadi siang bukan Kak Mawar kali, ya?


Tapi, kayaknya beneran dia deh. Jangan sampai Bang Rangga cuma dibuat jadi gabutan doang sama tuh cewek,' batinku menatap dalam ke lantai kamarku.


"Sayang? Kamu masih di situ?" tanya Mama menyadarkanku.


"Eh, iya Ma," ujarku dengan cepat.


"Kenapa? Kamu gak bisa, ya?"


"Bisa, kok Ma."


"Yaudah, nanti dijemput ke sana, ya."


"Gak usah Ma 'kan beda arah. Nanti, Nazwa diantar aja ke tempat Mama. Baru kita pergi sama-sama ke sana."


"Hmm ... gitu juga, boleh. Baju couple-nya nanti diantar sama kurir, ya."


"Wih ... pake baju couple, Ma?'


"Iya, dong. Anak Mama cuma 3 orang masa gak pake baju couple."


"Kok tiga Ma?"


"Ya, sama kamu satu lagi." Tawa langsung menghiasi kamarku dibuat oleh Mama yang menelpon diriku melalui handphone Farhan.


Sekitar setengah jam kami bercerita sampai suara mobil Ayah terdengar di garasi, aku segera turun dengan menggunakan kerudung juga pakaian yang sudah di cuci oleh Bibik.


"Assalamualaikum," salam Ayah sambil membuka pintu utama.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Ayah," jawabku dari tangga yang sedikit lagi akan sampai ke bawah.


Ayah tersenyum menatapku dan kubalas dengan senyuman juga, kuambil tangan kanan Ayah mencium punggung tangannya dengan takzim.


Saat kuletakkan kembali tangan Ayah, wajahnya tampak kaget melihat apa yang kulakukan.


"Awas copot tuh mata Mas," celetuk Mama yang tiba-tiba datang dengan membawa teh.


Aku tertawa mendengar ucapan Mama, Ayah memberikan tasnya saat Mama meminta dan memberikan minum pada Ayah.


Kami berjalan bersama ke arah sofa yang tak jauh dari kami berdiri, Ayah meneguk air minum hingga habis tak tersisa.


"Haus, ya, Yah?" tanyaku saat menatap gelas yang sudah kosong di meja.


"Haha, panas banget soalnya," keluh Ayah sembari melonggarkan dasinya.


Aku terdiam dan mengangguk, menatap ke arah lain. Seolah sedang bingung harus cerita soal Bang Rangga pada siapa.


Jujur, aku kesihan jika yang kulihat tadi siang adalah benar Kak Mawar dengan mungkin pasangannya.


Sangat tidak mungkin jika hanya saudara sampai seperti tadi. Namun, entahlah. Bisa jadi aku yang terlalu berlebihan.


"Kamu kenapa Sayang?" tanya Ayah memegang bahuku membuat aku kaget.


"Eh, kamu lagi mikirin apa? Kok sampe kayak gitu banget kagetnya?" tanya Mama menautkan alisnya.


"Jadi, mmm ... Bang Rangga 'kan mau tunangan minggu depan," ujarku berniat ingin bercerita.


"Rangga? Abangnya Farhan?" tanya Ayah dan kuberi anggukan, "terus?"


Kan, kesian kalau ternyata emang benar Bang Rangga cuma jadi bahan gabutan sama tuh cewek," jelasku menatap satu per satu wajah mereka.


"Oh, kamu liat mereka di parkiran tadi, ya?" tanya Mama dengan menunjuk ke arahku.


"Lah, kok Mama tau?"


"Ya, iya. Orang kamu natap mereka udah kayak apaan aja.


"Hehehe, iya Ma. Buat mastiin itu benar dia atau enggaknya."


"Hm ... menurut Ayah coba kamu tanya sama Rangga terlebih dahulu, apa dia sudah benar kenal dan yakin.


Siapa tadi yang ngasih tau kamu kalo minggu depan Rangga akan tunangan?"


"Mama."


"Nah, kamu pura-pura nanya aja sama dia. Kek, 'iya, Abang mau tunangan? Emangnya Abang udah kenal sama tuh cewek?' bla, bla, bla.


Nanti, kalau dari nadanya itu udah yakin. Kamu tinggal doa aja semoga yang kamu liat adalah orang lain.


Karena di dunia ini 'kan kita ada kembar 7 dan yang kamu liat adalah salah satu kembaran tuh calon Rangga.


Kalo kamu kasih tau, yang ada kamu dijauhin atau dibenci sama Rangga sebab menjelek-jelekkan calon istrinya itu.


Orang kalau lagi jatuh cinta susah dikasih kenyataan, seolah mata dia buta bahwa calonnya itu pasti ada celah salah," saran Ayah yang kurasa ada benarnya juga.

__ADS_1


Aku mengangguk paham dan tersenyum ke arah Ayah, "Makasih, ya, Yah."


Ayah mengangguk, "Iya, sama-sama Sayang. Yaudah kalau gitu Ayah mau ganti baju dulu, ya."


"Iya, Nazwa juga mau siap-siap salat deh."


Kami akhirnya bubar dengan Ayah dan Mama ke kamar mereka yang ada di lantai bawah dan aku menaiki anak tangga untuk ke kamarku.


Kututup pintu dan berjalan ke arah nakas di mana handphone milikku sedang di isi daya baterainya, kujatuhkan bobot tubuh dan menghela napas.


"Apa yang Ayah bilang benar, yaudah aku telpon Bang Rangga pas udah selesai makan malam aja deh," putusku dengan mantap.


Jam delapan malam setelah Isya akhirnya aku baru sempat menghubungi Bang Rangga, karena tadi selepas makan malam kami langsung bercerita berbagai hal.


Mulai Mama yang memberi tahu tawaran dari Mis dan masih banyak lagi, mereka berdua pun masih ada di sofa dan nonton televisi.


Hanya saja, aku izin pamit masuk ke kamar untuk menelpon Bang Rangga dan menanyakan sesuai arahan Ayah tadi.


Suara dering masih setia, aku duduk di bangku belajar sambil menggigit kuku jari. Bisa-bisanya aku grogi seperti ini.


"Assalamualaikum Nazwa," salam Bang Rangga yang membuat aku langsung duduk dengan tegap.


"Waalaikumsalam Bang."


"Maaf, ya, Abang lagi di bangku luar. Jadi, gak kedengeran. Ini juga dikasih tau sama Farhan tadi kalau kamu nelpon."


"Oh, iya, gak masalah kok Bang. Abang tumben banget di luar malam gini."


"Haha, biar gak tegang Nazwa."


"Eh, iya, Nazwa mau nanya sesuatu dong," kataku yang merasa tepat pembahasannya.


"Nanya apa?" tanya Bang Rangga dengan suara yang sekarang terdengar tegas.


"Abang beneran mau tunangan minggu depan?"


"Iya, doain, ya, biar lancar. Kamu ikut 'kan?"


"Inn Syaa Allah ikut Bang, mmm ...," jedaku yang merasa sedikit tak enak mengungkapkan apa yang ingin kubilang.


"Kamu kenapa Nazwa?"


"Abang udah yakin sama Kak Mawar? Abang baru kenal sama dia, lho. Kenapa gak ta'aruf sama keluarga dia dulu?


Kenapa langsung mau lamar dia dan jalur ta'aruf dari dia aja dan apa yang Abang liat? Bisa jadi salah, bukan?"


"Maksud kamu Nazwa?"


"Ya, menurut Nazwa. Abang terlalu terburu-buru, bukankah di dalam islam kita juga harus ta'aruf dan mengenal wanita atau laki-laki yang akan kita jadikan pasangan hidup?


Setidaknya, Abang datang buat ketemu sama orang tuanya terlebih dahulu dalam rangka mencari tau bagaimana Kak Mawar tersebut bukan langsung mau tunangan sama dia.


Namun, itu hanya saran dari Nazwa kok. Kalau Abang udah yakin 100% dengan Kak Mawar, yaudah.


Semoga apa yang Abang liat dan rasakan tentang sosok Kak Mawar itu semuanya benar dan apa adanya."

__ADS_1


__ADS_2