Tuhan, Terima Taubatku

Tuhan, Terima Taubatku
Mama


__ADS_3

Selepas kepergian Mis dan berbicara dengan Mama, aku berniat beranjak masuk ke dalam kamar.


"Nazwa," panggil Mama tiriku membuat aku yang sudah akan menaiki satu anak tangga menoleh.


"Iya, ada apa Tante?" tanyaku dan berjalan ke arahnya.


"Kamu ... punya gamis selain ini emangnya?" Mama tiriku menunjuk ke arah gamis yang sekarang sedang aku pakai.


Kulihat ke arah gamis dan menggelengkan kepala menatap ke arah Mama, "Nazwa gak punya baju yang lain Tante."


"Yaudah, kita ke mal, yuk!" ajak Mama dengan tersenyum penuh semangat.


"Kapan Tan?"


"Sekarang! Atau ... kamu mau kita makan dulu?"


"Kan, udah makan tadi di tempat Mama, Tan."


Ketika aku menyebut 'Mama' Mama tiriku tampak sedikit murung tapi menahan wajahnya, "Tante kenapa?" tanyaku menaikkan satu alis.


"Gak papa, kok. Yaudah kalau gitu, sekarang aja kita beli gamisnya, yuk!"


"Oke Tan, bentar, ya, Nazwa ke dalam letakkan bukunya dulu," pamitku dan mendapat anggukan. Aku langsung naik ke atas dengan sedikit berlari sambil menaikkan ujung gamis.


Kami akhirnya sudah berada di perjalanan menuju pusat perbelanjaan, Mama katanya akan sekalian belanja bulanan.


Mungkin, agar lebih banyak waktu untuk bersamaku. Bagaimana pun kami memang belum terlalu dekat.


Apalagi gara-gara yang waktu itu, dia juga berniat menamparku karena kematian anaknya. Namun, mereka sudah tahu siapa pelakunya.


Tentu bukan aku, melainkan pacar Anggi. Dari yang kudengar, pacarnya Anggi memang sudah tak menginginkan dirinya lagi.


Akan tetapi, Anggi bersekeras tetap ingin bersama dengan laki-laki itu. Ternyata laki-laki tersebut selingkuh di waktu yang lain dan tertangkap basah oleh Anggi.


Anggi tak terima dan menegur yang mungkin membuat pacarnya marah, sampai hal tersebut dilakukan oleh pacarnya.


Padahal, Anggi bukanlah wanita yang jelek. Dia bisa mendapatkan pacar yang lebih baik dan yang mencintai dia.


Memang, cinta tak bisa dipaksakan harus jatuh ke mana. Namun, bukan berarti logika langsung dihilangkan.


Lepaskan yang tak mau diperjuangkan, jauh dari hubungan toxic karena kau akan tersiksa di dalamnya.


Memang akan susah, tapi percayalah ketika kau sudah bebas dari hubungan tak baik tersebut. Bahagia akan kau rasakan.


"Sayang, ayo turun! Udah sampai lho," celetuk Mama tiriku yang membuat aku tersadar.

__ADS_1


"Eh, hehe. Bentar Ma," kataku dan memakai tas selempang lalu turun dari mobil.


Kami masuk ke dalam mal yang sudah banyak orang masuk dan keluar dari gedung tiga tingkat ini.


"Padahal baru jam 10, ya 'kan Tan. Kok udah banyak aja orang?" keluhku karena merasa takut jika nanti tersentuh-sentuh.


"Mmm ... atau kita makan ice cream dulu? Sambil nunggu sedikit sunyi dan lega, mungkin lagi ada sale mangkanya ramai orang."


"Yaudah, boleh deh Tan."


Saat tengah fokus ke jalan, Mama tiriku tiba-tiba menarik tanganku membuat aku menabrak tubuhnya dan ia dekap.


"Kenapa Tan?" tanyaku kaget dan langsung mendongak.


"Hati-hati dong kalo jalan Pak! Jangan sibuk sama handphone aja!" tegas Mama tiriku menegur orang yang ada di sampingku membuat aku menoleh ke arahnya.


Ternyata, ada laki-laki yang sepertinya akan menabrak diriku karena fokus ke handphone yang dia punya.


"Maaf Buk, saya lagi ada kerjaan penting soalnya ini."


"Iya, gak usah sambil jalan! Atau kalau jalan liat-liat, untung aja anak saya gak tertabrak sama Bapak!" kata Mama tiriku dengan suara yang masih sama.


"Udah Ma, gak papa kok," ucapku yang tersenyum ke arah Mama. Kutatap ke arah Bapak yang hampir menabrakku tadi, "lain kali hati-hati, ya, Pak."


"Iya, Dek. Sekali lagi maaf, ya." Aku tersenyum mengangguk dan orang tadi pergi setelah meminta maaf kepada Mama juga.


"Ka-kamu nyebut saya tadi dengan apa?" tanya Mama dengan terbata-bata.


"Mama. Eh, kenapa Ma? Gak boleh, ya? Yaudah, Nazwa panggil tetap Tante aja deh," potongku dengan cepat yang mungkin Mama jadi teringat dengan Anggi.


Tapi, aku hanya merasa tak mungkin tadi menyebut Mama dengan sebutan Tante. Sedangkan Mama mengakui aku sebagai anaknya.


Pastinya, Bapak tadi akan menertawai Mama atau berpikiran yang aneh ke Mama. Tidak ada sejarahnya seorang anak memanggil orang tuanya dengan sebutan Tante.


Meskipun Mama tiriku bukanlah yang melahirkan aku juga membesarkan aku, tapi dia sekarang adalah istri dari Ayahku. Jadi, tak ada salahnya, bukan?


Mama tanpa bicara atau menjawab pertanyaanku tadi, ia mendekap tubuhku dan samar-samar kudengar suara isakan.


"Mama kenapa?" tanyaku yang sedikit khawatir.


Mama melepas pelukan dan menangkup pipiku, "Makasih, ya, makasih sudah memberikan Mama kesempatan untuk menjadi seorang Mama lagi setelah kepergian Anggi. Maafkan kesalahan Mama yang lalu.


Mama tau tak akan mudah melupakannya, itu sebabnya Mama mau dimaafkan aja dari kamu. Sekarang, Mama mau memulai segalanya.


Mulai menyayangi kamu, mencintai kamu dan menjaga kamu layaknya anak Mama sendiri."

__ADS_1


Aku tersenyum dan mengangguk, "Iya, Ma. Nazwa udah maafkan Mama, kok."


Mama tersenyum dan melihat ke arah sekitar, "Kita kayaknya jadi pusat perhatian, yuk, ke toko ice cream," ajak Mama dengan tersenyum.


Aku terkekeh dan mengangguk, kupegang tangan Mama layaknya anak kecil yang takut kehilangan atau ditinggal anaknya.


Kami berjalan ke toko ice cream terlebih dahulu dengan aku pesan cokelat dan Mama vanila. Tertawa dan saling cerita kami lakukan sambil memakan ice cream.


"Kamu mau gamis yang warna apa aja Sayang?" tanya Mama saat kami sudah memasuki toko baju dan melihat-lihat gamis yang bergantungan.


"Ma, kita beli di pasar aja, yuk! Atau toko yang di jalan-jalan aja, di sini mahal banget," bisikku dengan tangan Mama yang masih bertengger di gamis.


Mama menatap ke arahku dan memegang bahu ini, "Lah, kenapa? Udah, di sini aja! Kamu pilih yang mana menurut kamu bagus dan kamu suka warnanya. Biar Mama nanti yang bayar," suruh Mama.


Bajuku yang dulu memang tak murahan juga, tapi biasanya aku beli di toko pinggir jalan yang hargaya lumayan murah.


Jika belinya di mal, mereka pasti menaikkan harga karena mengingat sewa lapak di mal yang cukup tinggi.


"Beli satu aja, ya, Ma. Lebihnya kita beli di toko pinggir jalan aja," ucapku.


"Emangnya kamu gak suka sama kain dan model gamis yang ada di sini?" tanya Mama menatapku.


Sejujurnya, aku sangat menyukai. Apalagi model gamisnya polos dan kainnya dingin serta warna tak terlalu terang.


Namun, harganya sungguh fantastis, "Mmm ... suka, sih, Ma," ujarku yang tak mungkin berbohong.


"Yaudah kalau suka, gak usah pikiran harganya. Kamu ambil aja, ya, yang kamu mau."


Aku mengangguk dan mulai memilih sekalian melihat harganya yang kurasa tak terlalu mahal, aku dapat 4 gamis set dengan kerudung.


Warna dan modelnya tak terlalu ribet juga norak, 4 gamis ini juga dapat diskon itu sebabnya aku mau memilihnya.


"Udah Ma," ungkapku sambil memeluk gamis yang di tangan.


Mama melihat ke arahku dengan tangannya yang juga berisi gamis, "Udah? Segitu aja?"


"Iya, nanti kurang bisa beli di toko pinggir jalan aja Ma."


Mama menghela napas, "Yaudah kalau gitu, yuk. kita bayar!" ajak Mama ke arah kasir.


Aku melihat Mama juga memeluk gamis, aku hanya diam karena berpikir itu untuk Mama. Tak ingin terlalu tahu dengan urusan orang lain.


"Ini Mbak," ucapku menyerahkan gamis dan mundur sedikit ke belakang.


"Ini sekali Mbak, gabungkan aja, ya," timpal Mama menumpukkan gamis yang ia bawa tadi ke gamisku.

__ADS_1


"Lah Ma?" tanyaku kaget sambil menunjuk ke arah tumpukan yang mulai di scan harganya juga dilipat oleh pegawai toko.


"Suttt." Mama meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya pertanda agar aku diam saja.


__ADS_2