Wanita Taruhan CEO Season 2

Wanita Taruhan CEO Season 2
23


__ADS_3

Disthi tersenyum bangga saat melihat Junior siap berangkat kekantor, dengan hidung yang memar dan cara berjalan nya yang sangat lucu, menurut Disthi.. Tapi jujur dalam hati Disthi terselip rasa bersalah pada Junior, bagaimana pun Junior adalah suaminya yang patut dan pantas mendapat kan hak atas dirinya.. "Maafkan aku." Gumam Disthi saat melihat Junior, masuk ke dalam mobil.. "Aku belum siap, memerikan hak ku. Apalagi jika harus melalui cara terpaksa.. Aku belum siap!" Ucap Disthi pelan.


Sesaar terdengar suara hp. Disthi yang melihat nama yang tertera di layar ponselnya, langsung tersenyum bahagia, dan dengan segera Disthi menggeser icon hijau..


"Mom.." Sapa Disthi saat panggilan terhubung.."Disthi rindu." Ucap nya kemudian.


"Sayang, bagaimana apa sudah ada perkembangan?" Tanya Mey di seberang sana, tanpa membalas ucapan Disthi tadi..


"Perkembangan?" Ulang Disthi.


"Iya sayang, perkembangan."


"Maksdu mom apa?" Tanya Disthi yang benar-benar tidak tahu maksud arah pembicaraan mom nya.


Mey menarik nafas dan menghempaskan nya secara perlahan.. "Apa cucu mom sudah di buat?" Tanya nya, karna sejujurnya mom Mey sangat menginginkan menggendong seorang bayi. Dan jujur mom Mey sangat berharap bahwa Disthi dan Junior bisa dengan segerah memberikan nya seorang cucu. Walau mom Mey tahu kemungkinan besar anak dan menantunya itu tidak mungkin dengan mudah memberinya cucu, terlebih lagi pernikahan mereka hanya berawal dari kata perjodohan..


"Mom..." Ucap Disthi.


"Yah, mom mengerti.." Lirih Mom Mey, terselip rasa bersedih di setiap ucapan nya..


"Nanti Disthi akan mampir ke rumah mom. Mom jangan kemana mana."


"Iya sayang, mom tunggu. Dan kalau perlu kamu dan Junior lebih baik bermalam di sini." Pinta Mey dan di otak nya sudah tersusun rencana yang sangat rapi serapi rapinya..


"Baik mom, nanti Disthi coba tanyakan ke Junior.." Jawab nya.. "Kalau begitu Disthi sudah dulu yah mom, Disthi mau siap siap."


"Iya sayang."


...🍃🍃🍃🍃...

__ADS_1


Karna masih terbesit rasa bersalah di hatinya. Mau tidak mau akhirnya Disthi memutuskan, siang ini untuk pergi ke kantor Junior membawa bekal makan siang untuk Junior.. Dengan senyum mengembang di wajahnya sambil menenteng rantanb bekal, Disthi masuk ke dalam mobil, yang sudah siap mengantarnya ke perusahaan milik suaminya..


Beberapa saat berlalu. Kini Disthi telah sampai di perusahaan milik suaminya. Rey yang sudah tahu bahwa Disthi akan datang, langsung menunggu Disthi di loby..


"Siang nyonya." Sapa Rey sambil menundukkan kepalanya..


"Santai saja Rey, tidak usah panggil nyonya." Ucap nya sambil terus berjalan.. "Ouh iya Rey, Juniot belum makan siang kan?" Tanya nya lalu menoleh ke arah Rey.


"Belum nyonya.."


"Sekali lagi kamu bilang nyonya maka gaji kamu akan aku potong, dan kamu tidak akan ku jadikan teman ku lagi." Ancam nya..


"Baik nyo, ehh Disthi."


"Good job Rey." Jawab Disthi lalu melanjutkan melangkah menuju ruangan suaminya..


"Mau masuk juga?" tanya Disthi..


Dengan sponta Rey menjawab.. "Iya."


"Dasar kamu Rey, selalu saja mau kepo." Ucap Disthi dan Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal.. "NO! kamu di sini saja. Dan jangan berani-berani kamu masuk kalau aku masih di dalam." Cegah Disthi.


"Tapi..."


"Jika ingin gaji mu dipotong 85% maka masuk lah." Ancam Disthi yang pasti membuat Rey diam tak berkutik..


"85%, omg... Mending kau bunuh saja aku Dishti." Batin Rey..


'Ceklek' Pintu ruangan Junior terbuka, dan Disthi berjalan masuk mendekat ke meja Junior. Junior yang sedang fokus memeriksa berkas tidak memperhatikan siapa yang masuk di dalam ruangan nya, Junior hanya mendengar suara langkah saja..

__ADS_1


"Apa lagi sih Rey? kan sudah aku bilang jangan menggangguku." Ucap Junior tanpa menoleh sedikit pun..


Disthi juga tetap diam tak mau menjawab ucapan Junior.


"Rey! sudah aku bilang, hidung aku itu bekas jatuh. Dan cara aku melangkah juga karna aku terpeleset di kamar mandi." Teriak Junior sambil menatap wajah Rey, yang ternyata bukan Rey melainkan seseorang yang membuat hidung dan cara berjalan nya menjadi aneh..


"Hahahahaha." Disthi tertawa mendengar alasan yang keluar dari mulut Junior.. "Aku baru tahu, jika luka itu bekas jatuh., Sakit yah?" Ejek Disthi lalu menutup mulutnya menahan sisa tawa nya..


"Du- Dusta,. Apa yang kau lakukan di ruangan ku?" Tanya Junior..


Jujur saat ini Junior sangat malu, karna berbohong tepat di depan orang yang salah..Mau menyembunyikan muka juga percuma, karna tidak tahu mau di sembunyikan di mana..


"Aku membawa bekal untuk mu." Ucap Disthi sambil memperlihatkan kotak bekal yang iya bawa.. "Ayo duduk, dan makan lah." Pinta Disthi sambil meletakkan kotak bekal di atas meja..


"Apa yang terjadi padamu? Apa kau sedang bermimpi?" Tanya Junior penasaran..


Disthi hanya tersenyum menanggapi ucapan Junior.. Membuat Junior terus bertanya tanya..


"Tunggu, apa kau merasa bersalah atas kejadian semalam sampai kau membawakan aku bekal makan siang sebagai permintaan maaf mu?"


"Minta maaf? Untuk apa? bukan kah luka mu itu bekas jatuh? Lalu kenapa aku harus minta maaf padamu." Disthi tersenyum dalam hati..


Junior menggaruk kepalanya yang tidak gatal.. "Kenapa jika berurusan dengan Dustha aku selalu kalah" Batin Junior meringis..


"Sudah jangan di pikir lagi. Ayo makan." Ajak Disthi..


"Oke.."


Dan didepan pintu, Rey terus saja tersenyum mendengar ucapan Junior tadi.. Karna jiwa keponya kumat, mau tidak mau Rey membuka sedikit cela di pintu agar bisa mendengar ucapan kedua sahabat nya itu.. "85% ku aman, dan aku tetap dapat informasi." Senyum mengembang di wajah Rey..

__ADS_1


__ADS_2