
Tanpa menunggu waktu lagi, Junior langsung bergegas pulang, tak lupa ia mengambil amplop yang Disthi berikan tadi pagi.
"Rey, aku balik. Tidak usah mengantar ku. Aku yang menyetir sendiri." Ucap Junior sembari berjalan mendahului Rey.
"Kau yakin baik baik saja? tidak ingin di temani?" Tawar Rey yang khawatir melihat raut wajah Junior yang terlihat cemas.
"Tidak." Jawab singkat.
Junior melajukan mobilnya, langsung menuju ke rumah mertua nya, karna ia yakin pasti Disthi pulang kerumah mom nya. Disthi tidak memiliki teman kecuali Putra sang adik, dan tidak mungkin Disthi bertamu di apartemen sang adik sampai malam begini. Dengan kecepatan penuh Junior mengendarai mobilnya hingga tak terasa kini ia sudah sampai di depan rumah Disthi, namun sayang pintu pagar tertutup sangat rapat. Berapa kali pun Junior membunyikan klakson mobil, namum tetap saja, pagar tidak di buka.
Junior memukul stir mobil nya, karna merasa kesal pagar tidak di buka. Lalu Junior mengambil ponsel yang berada disaku jasnya, dan mencoba menghubungi ponsel Disthi. Namun tetap saja, hingga kini ponsel Disthi tetap berada di luar jangkauan..
__ADS_1
Tak habis akal. Junior memutuskan untuk menghubungi mertuanya, tetap saja hasilnya nihil. Dad Anzel sama sekali tidak menjawab panggilan Junior sehingga membuat Junior meremas rambutnya sendiri. "Ahhhkkk" teriaknya kesal.
"Kamu kenapa Disthi? apa yang terjadi padamu?" Ucap Junior.
Lalu kembali menekan nomor di poselnya. Dan untung saja, beberapa kali panggilan akhirnya terhubung.
"Mom." Ucap Junior saat sambungan terhubung, tapi Mom Mey hanya diam tak menjawab sepatah kata pun.
"Mom. Apa Disthi ada di dalam. Aku ada di luar mom, tapi pagar tidak terbuka jadi aku tidak bisa masuk." Kata Junior tapi tetap saja Mom Mey tak menjawab sama sekali.
"Mom, mom." Ucap Junior lalu sesaat melihat ponselnya dan ternyata panggilan sudah terputus.
__ADS_1
"Sayang, apa ini adalah langkah yang benar?" tanya Mom Mey kepada Dan Anzel, yang berdiri di balkon kamar memerhatikan Junior yang berada di bawah sana.
"Ya" jawab Dad Anzel singkat. Terlihat jelas sekali di raut wajah Dad Anzel jika saat ini ia sedang marah. dan Mey yang hapal betul dengan suaminya hanya bisa menghela nafas panjang, dan menghembuskan nya secara kasar.
Mom Mey ingat beberapa tahun silam saat kejadian yang sama terjadi pada sahabatnya yaitu Aurel, saat itu suaminya bahkan nekat melakukan apapun agar sahabatnya bisa hidup bahagia, dan bisa menjauh dari pria yang menyakiti sang sahabat. Lalu sekarang? kejadian itu terulang lagi, dan itu terjadi pada putri tersayang nya.. Entah apa yang suaminya kali ini akan lakukan.
Yang jelas Mey sebagai istri hanya bisa mengikuti apa tindakan yang akan suaminya lakukan. Karna menurutnya apa pun itu, pasti itulah yang terbaik untuk anaknya Disthi
Mom Mey, memeluk tubuh suaminya dari arah belakang. Menyandarkan kepalanya di pundak belakang suamin. "Selesaikan masalah dengan kepala dingin. Jangan mengambil keputusan di kala kau sedang marah. Ingat Aurel adalah sahabat kita bersama, dan sudah seperti saudara."
Dan Anzel memengang tangan istrinya yang melingkar di pingganya. "Iya sayang" ucapnya.
__ADS_1
Mom Mey mencium pundak belakang suaminya. "Kalau begitu aku ke kamar Disthi dulu."
"Ya."