
Keesokan harinya, Disthi membawa bekal makan siang untuk Junior di perusahaan nya sekaligus ingin mencari tahu tengang taruhan yang kemarin ia dengar saat Junior berbicara dengan seseorang yang Disthi belum tahu siapa itu. Dan saat Disthi berjalan ingin masuk kedalam ruangan Junior, kaki Disthi berhenti tepat di depan pintu. Disthi membuka sedikit pintu dan mendengar setiap omongan yang berasal dari dalam ruangan Junior.
Kaki Disthi tiba-tiba terasa lemas tak bertulang, tak mampu lagi untuk berpijak di lantai. Seketika air mata Disthi jatuh tak mampu di bendung lagi.
Beberapa saat kemudian Disthi berlari menuju lift, sesekali menyeka air matanya yang tak kunjung berhenti membasahi pipinya. Sesak, sakit, kecewa, ini lah yang saat ini Disthi rasakan.
"Sabar Dist, sabar." Gumam nya sambil menyeka air matanya. "
...🍃🍃🍃🍃...
Sore hari, Junior telah pulang bekerja, dengan langkah cepat ia berjalan masuk ke dalam rumah, tidak sabar ingin menemui sang istri. Saat membuka pintu kamar, Junior berdiri menatap kamar yang saat ini kosong, tak ada sosok Disthi di dalam yang biasa menunggunya pulang bekerja sambil tersenyum.
Junior kembali berjalan keluar dari kamar dan menuju dapur mencari keberadaan Disthi.
"Bi .. Bibi lihat istriku?" tanya nya.
"Nyonya ada di kamar tuan."
"Tidak ada bi."
"Maksud bibi, nyonya ada di kamar tamu." Jelas bibi.
"Ouh iya bi, makasih." Ucap Junior sambil melangkah menuju kamar tamu.
__ADS_1
'Tok ..tok..tok..' Junior mengetuk pintu kamar yang Disthi kunci dari dalam.
"Disthi, kau di dalam? tolong buka pintu nya." Ucap Junior tapi tak ada sahutan sama sekali.
"Disthi .." Panggil nya lagi.
"Aku hitung sampai 3 jika kamu tidak membuka nya maka pintu akan aku dobrak."
" Satu .. Dua .. Ti .." dan pintu pun di buka dari dalam oleh Disthi
Terlihat jelas sekali mata Disthi sudah sipit akibat menangis sehari di kamar. Junior yang melihat langsung mencoba memeluk tubuh Disthi namun dengan cepat Disthi menghindar.
"Kamu kenapa?" tanya Junior penasaran dengan Disthi.
"Kamu kenapa? Kamu habis nangis? Ada apa? ayo ceritakan padaku?" Banyak sekali pertanyaan yang Junior katakan.
Disthi tersenyum, walau sebenarnya hatinya sangat teramat sakit.. "Aku baik-baik saja, tolong biarkan aku sendiri dulu." Ucapnya.
"Tidak .. Katakan ada apa?" Ucap Junior sambil memeluk tubuh Disthi.
Dan tanpa terasa air mata Disthi kembali terjatuh, membasahi pipinya dan bahkan air mata itu jauh lebih banyak keluar saat Junior memeluk tubuhnya..
"Ada apa?" Junior mulai panik, karna ini pertama kalinya ia melihat Disthi menangis seperti ini.
__ADS_1
Disthi tak menjawab dan tak juga membalas pelukan Junior. Sehingga Junior merasa yakin jika saat istri saat ini sedang ada masalah.
"Menangis lah sepuasmu jika itu bisa membuatmu lega." Dengan gampangnya kata itu terucap dari bibir Junior.
"Aku akan menemanimu di sini, sampai kau bisa merasa lebih baik."
Disthi hanya bisa larut dengan kesedihan nya, larut dengan perasaan nya yang sangat sakit, hancur akibat ucapan yang tanpa sengaja ia dengar tadi.
Beberapa saat kemudian. Disthi membuka suara.
"Tolong tinggalkan aku sendiri."
"Tapi .."
"Tolong!!"
Lalu Disthi mendorong tubuh Junior dan dengan cepat menutup pintu lalu mengunci nya kembali dari dalam. Tubuh Disthi seketika melemas dan merosot jatuh kelantai, lagi-lagi air mata nya jatuh. Disthi memegang jantung nya yang terasa amat sakit, bagai di tusuk ratusan tombak yang tepat menghantam jantungnya.
Sesak, sakit, kecewa semua perasaan bercampur aduk saat ini. Hanya tangis yang dapat mewakili bagaimana perasaan Disthi.
...🍃🍃🍃🍃...
Diluar kamar, Junior terus bertanya-tanya apa yang telah terjadi dengan sang istri sehingga membuat istri nya sampai menangis dan bahkan meminta waktu untuk sendiri.
__ADS_1