Wanita Taruhan CEO Season 2

Wanita Taruhan CEO Season 2
61


__ADS_3

"Maafkan aku." Ucap Putra yang di hadapan sang kakak. Putra sengaja datang pagi-pagi untuk melihat keadaan kakak nya yang begitu sangat kacau. "Pulang lah dulu, bersihkan dirimu."


"Pulang kau bilang? bagaimana mungkin, disaat aku belum selesaikan masalah ku dan kau menyuruhku untuk pulang?" Kesal Junior.


"Tapi kak, lihat dirimu, lihat keadaan mu sekarang" Putra memperhatikan penampilan Junior dari ujung kaki ke ujung kepala, terlihat jelas penampilan kakak nya saat ini sedang acak-acakan. "Dan yang paling terpenting makan lah dahulu, biar kau tidak sakit."


"Aku tidak bisa" bantah Junior.


"Inilah dirimu kak, kau terlalu keras. Kau terlalu mementingkan dirimu, egomu, tanpa mau mendengar perkataan orang. Lihat lah sekarang apa yang terjadi pada dirimu? Lihat?"


Junior terdiam mendengar ucapan adiknya yang memang benar ada nya. Selama ini ia terlalu ego, selalu mengutamakan pendapat nua sendiri dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.


"Lihat lah, karna egomu lah kau membuat taruhan ini, lihat lah sekarang kak? bukan cuman Disthi yang merasakan sakit. Tapi orang tua kita, orang tua Disthi. Persahabatan yang mereja jalin sejak lama akan hancur karna ulah kakak dan ulah ku."


Lagi-lagi Junior hanya bisa diam. Tidak dapat membantah lagi, karna memang ucapan adiknya tepat adanya.


"Pulang lah dulu, nanti akan kucoba berbicara pada Disthi."

__ADS_1


"Apa yang akan kau katakan? kau akan bilang jika kau mau menikahinya?" Akhirnya Junior membuka suara.


"Ya, Putra akan menikahinya" Timpal Rey yang tiba-tiba berada di dekat mereka.


"Rey .." Sahut Junior dan Putra secara bersamaan.


"Siapa suruh kau menghancurkan hati Disthi, hati yang benar-benar tulus mencintai mu. Tapi kau malah mengncurkan nya. Jadi lebih baik Putra menikahi Disthi karna Putra ..." Ucapan Rey terputus kala Junior menyela.


"Aku mencintai Disthi sangat mencintai nya." Ucap nya penuh dengan penekanan, membuat Rey tersenyum.


"Cinta mu sudah terlambat, lebih baik kau pulang saja dan menangis. Dari mana di sini, yang ada kau hanya membuat Disthi merasa lebih hancur lagi "


Rey menepuk jidatnya mendengar ucapan Junior. "Putra adikmu, dia tidak akan setegah itu padamu. Ayo pulang lah bersihkan dirimu, biar aku dan Putra yang urus semuanya."


"Tapi .."


"Tidak ada tapi, tidak ada bantahan. Ayo cepat pulang." Titah Rey yang tidak ingin di bantah.

__ADS_1


"Baiklah." Dan akhirnya Junior pun menuruti perkataan Rey dan Putra.


Setelah Junior pergi, Putra dan Rey saling pandang. Jujur ia juga bingung, dan pusing harus menyelesaikan masalah ini dari mana, karna mereka berdua sudah berulang kali menelpon Disthi tapi semuanya gagal, Disthi tidal pernah menjawab sama sekali.


"Jadi bagaimana?" Tanya Putra.


"Aku juga tidak tahu." Jawab Rey.


"Yah sudah mending kita menunggu di sini saja, sampai pintu pagar ini terbuka." Kata Putra dengan pasrah.


Baru beberapa menit menunggu, pintu pagar pun terbuka. Seseorang penjaga berdiri tepat di depan Rey dan Putra.


"Tuan Putra silahkan masuk."


"Aku tidak?" tanya Rey


"Maaf, hanya tuan Putra yang di izinkan masuk ke dalam."

__ADS_1


Dan Putra pun masuk mengukuti langkah penjaga, Rey mengusap wajah nya melihat pintu pagar kembali tertutup, dan kini ia hanya seorang diri menunggu. "Aku harus tetap disini, aku harus tahu, apa yang Putra dapatkan dari dalam." Gumam Rey yang menunggu dengan setia nya.


__ADS_2