Wanita Taruhan CEO Season 2

Wanita Taruhan CEO Season 2
68


__ADS_3

"Kau baik-baik saja?" tanya Junior saat ia sudah kembali pada posisinya duduk tepat di hadapan Disthi.


"Ya, dan kau sendiri? apa kau baik-baik saja?" tanya balik Disthi.


"Seperti yang kau lihat." jawab Junior. "Disthi, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu."


"Apa itu?"


Junior menarik nafas nya dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. "Maafkan aku, aku tahu kesalahan ku sulit untuk kau maafkan. Tapi sungguh aku sangat menyesal telah melakukan hal yang begitu menyakitkan mu. Maaf"


Disthi terdiam mendengar perkataan Junior.


"Aku sadar aku telah salah, sangat-sangat bersalah. Dan saat ini, aku pun telah sadar bahwa betapa aku sangat mencintaimu." Juniot menghela nafas, lalu mengeluarkan amplop tepat ke hadapan Disthi.


"Aku sudah menandatangai surat cerai ini. Aku mencintai mu dan aku iklas melepasmu, agar kau bisa hidup bahagia dengan adik ku Putra." Entah kenapa hati Junior sangat sakit, saat mengucapkan kata-kata tadi. Sungguh ia rela dan iklas mengucapkan semuanya, tapi tidak dengan hatinya. Jujur hatinya masih sulit untuk mengiklaskan orang yang ia cintai harus hidup bersama dengan orang lain, bukan dengan dirinya. Tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur, segalanya tidak bisa di ubah lagi. Kesalahan yang ia buat sudah tidak bisa mendapat maaf lagi, benar kata Jasmin kita harus mengiklaskan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihan nya sendiri, walau itu sangat menyakitkan untuk diri kita. Tapi apa harus di kata, beginilah cinta. Kita harus siap jatuh sakit, jika ingin mencintai.


Disthi terdiam tak mampu berkata-kata lagi. Air matanya tak dapat ia bendung, akhirnya jatuh membasahi pipinya yang mulus.

__ADS_1


"Semoga kau bisa bahagia dengan pilihan mu. Sekali lagi maafkan aku Disthi." Ucap Junior sambil berdiri dari duduknya dqn mencoba melangkah. Namun langkah nya terhenti kala Disthi menahan tangan nya.


"Selangkah lagi kau berjalan, maka selamanya kau tidak akan melihat ku lagi."


"Tapi ..."


"Apa kau tidak ingin menjadi seorang ayah? Apa kau tidak ingin mengurus bayi mu? Atau apa kau rela melihat ku seorang diri merawat dan membesarkan bayi kita?" Ucap Disthi dengan masih posisi yang sama, duduk sambil menahan tangan Junior agar tidak pergi dari nya.


Junior diam mencerna kata-kata Disthi barusan. "Mengurus bayi? menjadi ayah? apa maksud nya ini?" Batin Junior.


"Jika kau tidak ingin maka pergilah sekarang juga." Ucap Disthi.


Sesaat ia tersadar, lalu menolehkan badan nya, jelas sekali Junior melihat Disthi yang menangis tanpa suara, Junior langsung memeluk tubuh Disthi, mengusap kepala Disthi yang menangis di dalam pelukan nya. "Maafkan aku." Kata Junior.


"Kenapa kau ingin pergi? Apa hanya segitu perjuangan mu? Apa hanya sebatas itu cintamu padaku?" tanya Disthi sambil menangis.


"Aku mencintaimu."

__ADS_1


"Tidak, kau tidak mencintaiku. Buktinya kau mau melepasku."


"Maksud ku .."


Disthi melepas pelukan nya lalu menatap wajah Junior dengan tajam. Kemudian mengambil ujung kemeja Junior dan mengeluarkan ingusnya. "Aku sangat merindukan mu. Ehh bukan aku, tapi anak mu" ucap Disthi sambil mengusap perutnya.


Junior berjongkok di hadapan Disthi lalu mengusap perut Disthi. "Dia anak ku?" tanya nya.


'Bukkkhhhh' Disthi menjitak kepala Junior dengan sangat keras nya. Membuat Junior merasa sakit lalu mengusap kepalanya.


"Kau kira aku wanita seperti apa, haa? bisa-bisa nya kau menuduh ku seperti itu"


"Tapi .."


"Sudah, lebih baik kita pulang, semua keluarga sudah menunggu."


"Menungguku?" ulang Junior.

__ADS_1


"Ya, mereka mau memberi pelajaran padamu."


__ADS_2