
Hingga malam hari, Disthi tak kunjung juga keluar dari kamarnya, sehingga membuat Junior merasa resa dan kembali mengetuk pintu kamar Disthi.
"Disthi, ada apa? kenapa kau sangat betah di dalam?" tanya Junior sambil mengetuk pintu kamar Disthi namun tak ada sahutan sama sekali.
"Disthi aku lapar, apa kau tidak lapar? apa kau tidak ingin menemaniku makan?" ucap nya lagi dari luar, namun lagi-lagi Disthi tak menyahut sama sekali.
"Sampai kapan kau akan berada di dalam sana?"Tanya nya. "Disthi jika aku punya salah, katakan, jangan mendiamiku." timpalnya lagi
Junior mengingat-ingat di mana letak kesalaham nya, kenapa Disthi tiba-tiba seperti ini, tertutup dan tak mau menemuinya. Padahal tadi pagi semua baik-baik saja sebelum ia berangkat bekerja.
"Baiklah jika kau tidak makan, maka aku juga tidak akan makan. Dan aku akan menunggu mu di sini, di depan pintu sampai kau mau keluar dari dalam sana."
Di dalam kamar
"Dengan gampang kau meminta maaf Junior, kau tidak tahu betapa hancurnya hatiku kau buat. Tiba-tiba saja kau memperhatikan ku, kau memperlakukan ku layaknya istri, tapi apa yang kudapat? aku baru tahu, alasan kenapa kau tidak pernah menyatakan cinta mu padaku. Karna kau sama sekali tidak mencintaiku, kau hanya menganggapku barang dan tidak pernah mau melihat ku sebagai seorang wanita."
__ADS_1
Disthi bercermi, melihat kacaunya wajahnya yang menangis akibat ucapan Junior tadi.. Di usapnya air mata yang membasahi pipinya.
"Disthi, kau bodoh. Harusnya dari dulu kau sadar kalau Junior tidak mencintai mu dan tidak akan pernah mencintaimu." Gumamnya sambil terus meneteskan air mata.
Begitu sakit, bila kita mencintai dan menyayangi seseorang, namun orang yang kita cintai tak pernah bisa membalas cinta yang kita beri. Banyak yang bilang, jika cinta maka kita harus membiarkan dan melihat orang yang kita cintai bahagia walau meski tanpa diri kita. Tapi apakah bisa kita iklas melihat orang yang kita cintai tak mencintai kita? Apakah semuada itu, mengiklaskan orang yang kita cintai bahagia tanpa kita?
Sesak, lagi-lagi perasaan itu datang menyeruak di hati Disthi. Mengingat betapa sabarnya ia menunggu Junior untuk membuka hatinya padanya, tapi kenyataan tak berpikah baik pada Disthi. Seolah takdir suka membuat Disthi merasaakan sesak, karna cinta yang tak terbalaskan dan lebih parahnya lagi, orang yang ia cintai rela menjadikan dirinya barang taruhan.
"Dishti." Panggil Junior dari luar, dan membuat Disthi tersadar dari lamunan nya.
Setelah beberapa jam berlalu, Disthi memutuskan untuk keluar, melihat apakah benar Junior masih setia menunggu nya atau semua hanya omong kosong saja.
'ceklek' bunyi pintu kamar yang di buka dari dalam oleh Disthi.
Disthi tersenyum merutuki kebodohan nya sendiri, yang berharap Junior ada di depan pintu, tapi apa yang ia dapat. Junior sama sekali tidak di sini.
__ADS_1
"Kau terlalu berharap lebih, pada sesuatu yang tidak pasti." Batin nya.
Dan karna merasa haus, Disthi memutuskan untuk menuju ke dapur. Saat sudah sampai tiba-tiba saja tangan kekar melingkar di pinggang Disthi. Junior memeluk tubuh Disthi dari arah belakang, membuat Disthi terdiam mematung.
"Ada apa? kenapa kau tidak tidur di kamar kita?" Tanya Junior dengan lembut. Tapi Disthi tak menjawab sama sekali.
"Jika ada masalah jangan di pendam, tapi bicarakan. Aku siap mendengar semua nya."
Disthi tetap diam, namun air matanya terus saja mengalir membasahi pipinya.
Junior akhirnya melepas pelukan nya dan memutar tubuh Disthi. Dan dengan jelas Junior melihat mata Disthi yang bengkak akibat menangis.
"Disthi." Ucap Junior lalu memeluk tubuh Disthi dengan erat. "Ada apa? katakan? siapa yang membuat mu menangis?"
Pertanyaan Junior justru membuat Disthi semakin mengelurkan air matanya bahkan lebih deras dari sebelum nya.
__ADS_1