
Keesokan harinya, di meja makan. Semua menu sarapan pagi telah tertata dengan rapi. Disthi tekah duduk setia menunggu Junior yang sedang bersiap-siap di kamar untuk pergi bekerja. Tak lama kemudian terdengar suara langkah. "Pagi." sapa Junior lalu menarik kursi dan duduk.
Disthi dengan sigap menyiapkan makanan di piring Junior. "Makasih" ucap Junior lalu menyantap makanan yang ada di piring nya.
"Hari ini aku ada meeting, aku berangkat dulu yah" Pamit Junior saat setelah selesai sarapan. "Apa ini?" tanya Junior saat Disthi menyerahkan amplop coklat kepadanya
"Buka dan bacalah" Disthi tersenyum ke arah Junior.
"Nanti saja, aku sedang buru-buru." Junior mengecup kening Disthi dan berlalu meninggalkan Disthi yang termenung melihat kepergian nya.
"Dan hari ini aku pun tahu, jika pekerjaan mu lebih penting dari pada diriku" Gumam Disthi lalu menyeka air matanya.
"Nyonya." Panggil bibi, membuyarkan lamunan Disthi
"Iya bi."
"Nyonya mau kemana? kenapa nyonya menyuruh bibi membeli semua keperluan sebanyak ini?"
"Itu cuman stok saja bi, untuk di simpan di kulkas. Junior kan suka tiba-tiba lapar, jadi kalau Junior lapar bibi masakin makanan yah"
"Ouh iya nyonya."
Setelah berkata seperti itu, Disthi melangkah menuju kamar Junior. Lagi-lagi Disthi terenyum saat mengingat kenangan yang terjadi di kamar ini. Di mana ia dan Junior selalu tak pernah akur. Selalu saja ada alasan mereka sering bertengkar. Disthi menyeka air matanya lalu duduk di tepi ranjang, mengusap lembut tempat tidurnya.
__ADS_1
...🍃🍃🍃🍃...
"Bagaimana dengan rapat kita nanti Rey?" tanya Junior saat Rey tengah mengendarai mobil menunu perusahaan.
"Semua sudah aku atur."
"Bagus, pokoknya kita tidak boleh kehilangan job ini."
"Tentu." Rey menjawab singkat
Hari ini Junior benar-benar sibuk. Map yang Distbu berikan pun, ia hanya letakkan di atas meja kerja nya saja. Junior tidak punya waktu untuk membacanya sama sekali. Hingga tak terasa pukul 10 malam tiba, Junior masih di sibukkan dengan pekerjaan nya.
"Kau tidak menghubungi Disthi?" tanya Rey
"Cepat kasih kabar, sebelum Disthi marah. Kau tahu sendiri kan, bagaimana Disthi jika sudah marah. Tak ada satupun yang bisa membujuk nya."
"Hahahahah." Junior tertawa mendengar ucapan Rey yang memang benar adanya. Jika istrinya itu jika sudah marah, ia bisa melakukan apa saja dan tidak bisa di kalah kan.
"Benarkan yang aku bilang?" Tanya Rey
"Ya, kau benar." Jawab nya, lalu meraih ponsel nya yang berada di saku celana.
Junior mencoba menghubungi no ponsel Disthi hingga beberapa kali, namun sayang no ponsel Disthi berada di luar jangkauan.
__ADS_1
"Tidak aktif" Ucap Junior
"Nah benarkan, pasti saat ini Disthi sedang marah."
"Sempat saja dia sudah tidur., Tapi tunggu aku telpon bibi dulu "
"Yah pilihan yang bagus, ayo cepat telpon bibi."
"Halo bi, apa istriku sudah tidur." Ucap Junior tanpa basa-basi saat panggilan terhubung.
"Nyonya belum pulang tuan." jawab bibi.
"Belum pulang?"
"Iya tuan."
"Sejak kapan istriku pergi bi?" tanya Junior.
"Saat tuan berangkat kerja, sejam kemudian nyonya juga pergi dan belum pulang hingga kini."
Junior langsung memutuskan sambungan nya dan memilih untuk pulang.
"Ada apa?" tanya Rey yang melihat raut wajah khawatir di muka Junior.
__ADS_1
"Disthi pergi dari pagi dan belum pulang sampai sekarang. Ayo Rey kita pulang."