
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu," ucap Disthi setelah selesai membersihkan meja, dan kotak bekal makan Junior.
"Baiklah, hati-hati di jalan." Junior menghampiri Disthi lalu mencium pucuk kepala Disthi
Saat Disthi berjalan keluar dari ruangan Junior ia berpapasan dengan Rey. Rey memandang lekat wajah Disthi, yang matanya masih sembab akiban menangis tadi. "Kau baik-baik saja Dis?" tanya Rey
"Ya, Rey" Jawab Disthi singkat, dan kembali melangkah, namun langkah nya terhenti kala Rey memengang tangan nya. "Rey .."
"Ayo ceritakan apa yang terjadi? jangan kamu pendam sendirian"
"Tidak ada yang perlu di ceritakan, ayo lepaskan tangan ku"
"Kau bohong! aku sudah mengenal mu dari kita masih kecil, dan aku sangat hafal betul tentang kamu Disthi. Aku tahu saat ini kah sedang tidak baik-baik saja."
"Lepaskan!!" Ucap Disthi dan menyentakkan tangan nya, membuat nya berhasil melepaskan genggaman Rey. "Aku baik-baik saja, jadi tidak usah khawatir." Disthi berjalan meninggalkan Rey yang terdiam mematung melihat kepergian nya.
"Aku yakin ada yang tidak beres dengan Disthi." Gumam Rey.
...🍃🍃🍃🍃...
"Sayang, mom sangat rindu padamu." Mom Aurel memeluk tubuh Disthi. "Ouh iya kau datang sendiri? di mana Junior?"
"Junior sedang bekerja mom, jadi aku ke sini hanya sendiri."
__ADS_1
"Anak itu selalu saja membiarkan mu bepergian sendiri."
Disthi hanya tersenyum mendengar ucapan mom mertuanya.
"Ada apa sayang? pasti kau rindukan dengan momy?"
"Ya mom Disthi sangat rindu." Jawab Disthi, "Mom ada yang ingin Disthi bicarakan"
"Apa itu sayang?"
"Hmm, itu ..
"Apa ini tentang rumah tanggamu?"
"Lalu?" Mom Aurel menatal wajah Disthi.
Disthi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya secara perlahan. "Jadi begini mom, kemarin teman aku cerita ke aku gitu, dia sangat sayang sama suaminya, benar-benar cinta. Tapi sang suami ngak pernah bilang ke teman aku kalau dia itu cinta sama teman aku."
"Terus?" ucap Mom
"Terus, teman aku tidak terlalu mempedulikan itu. Dia tetap ngurus suaminya baik-baik. Tapi pas suatu hari, ia tanpa sengaja tahu kalau ternyata suami yang ia cintai itu hanya menjadikan dirinya sebagai barang taruhan saja, tidak lebih dari itu"
Seketika Mom Aurel mengingat akan dirinya dahulu, yang di jadikan barang taruhan oleh Dewa sanh suami dan Fahmi, pria yang pernah ada di dalam hatinya, tapi itu dulu.
__ADS_1
"Terus apa yang teman mu lakukan setelah ia tahu?" tanya Mom Aurel.
"Teman aku? yah cuman bisa nangis, dan tetap lanjut ngurus suaminya."
"Terus apa lagi?"
"Terus teman aku itu, cari tahu tetang kebenaran nya, dan memang benar jika ia di jadikan taruhan saja. Dan sampai saat ini suami teman aku juga ngak pernah bilang cinta nya. Jadi menurur mom, kira-kira kalau teman aku minta masukan, apa yang harus aku katakan padanya?"
Mom Aurel terdiam sesaat, lalu menarik nafasnya dan menghembuskan nya secara perlahan. "Tanya kan pada teman mu itu, pikirkan baik-baik, dan lihat bagaimana sang suami memperlakukan dia. Apa suaminya tulus atau hanya pura-pura tulus. Dan dari situ, dia bisa mengambil keputusan."
"Tapi mom, kata teman ku suaminya itu sepertinya tulus, tapi sepertinya itu juga hanya sandiwara saja. Karna di dalam surat perjanjian taruhan itu, sang suami akan menceraikan dirinya jika sudah tiba waktunya."
"Yah sudah, tanya kan pada teman mu. Suruh dia berbicara yang sebenarnya pada suaminya."
"Baiklah mom" Ucap Disthi lalu menundukkan kepalanya
"Hey sayang, kau kenapa?" tanya mom Aurel. "Tunggu, ini cerita teman kamu atau cerita tentang kamu?" selidik mom Aurel.
"Aku?" tunjuk Disthi pada dirinya.
"Ya."
"No mom, itu bukan aku. Ini murni teman aku mom." Elak Disthi
__ADS_1
"Baiklah mom percaya padamu."