Wanita Taruhan CEO Season 2

Wanita Taruhan CEO Season 2
60


__ADS_3

"Sayang makanlah, dari semalam kau belum makan." Mom Mey duduk di tepi ranjang sambil memegang tangan Disthi.


"Mom.." Panggil Disthi.


Mey yang melihat raut wajah Disthi sudah tahu, apa yang ingin anak nya dengar. "Ya sayang. Junior masih ada di bawah. Dan dad belum membiarkan pagar terbuka."


"Mom .." Lirih nya lagi, sambil bangun memperbaiki posisinya, kini Disthi tengah duduk di depan mom nya. Mom Mey langsung memeluk tubuh sang anak. Air mata Disthi langsung tercurah, tanpa bisa di tahan.


"Salah jika aku mencintainya? salah jika aku sayang padanya? salah jika aku menginginkan nya dahulu?" tanya Disthi dengan air mata yang berlinang.


"Tidak sayang, kau tidak salah." Ucap mom Mey sambil mengusap punggung belakang Disthi. "Hati, kita tidak tahu kemana ia akan berlabu, dan kepada siapa ia akan jatuh cinta."


"Hikssss,hikkkksss mom ku buka hatiku pada satu nama. Saat nama itu masuk, kututup dengan rapat-rapat. Tak kubiarkan siapapun berani membuka nya, karna aku terlalu mencintainya dan tak mau hatiku memiliki cabang. Tapi apa yang ku dapat? dia mempermainkan hatiku, mempermainkan cintaku? mempermainkan perkawinan kami. Apa kurang nya diriku mom?"


"Sayang tenang kan dirimu"

__ADS_1


"Apa aku memiliki kekurangan? atau apa aku memang tak layak di cintai?" Tanya Disthi dengan air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.


Dad Anzel yang sejak tadi berdiri di ambang pintu melihat putri kesayangan nya menangis untuk pertama kalinya, hatinya kembali teriris. Ia tahu betul jika putrinya adalah wanita yang kuat yang mandiri, dan karna cinta putri kesayanganya ini banyak mengeluarkan air mata.


"Tidak sayang, tidak." Ucap Mom Disthi menenangkan Disthi, namun air matanya juga jatuh membasahi pipinya.


Disthi melepaskan pelukan nya, lalu mengusap air matanya. "Mom katakan padanya, aku tidak ingin menemui dirinya lagi."


"Iya sayang. Tanpa kau minta, dad yang memang tidak akan memberikan izin untuk Junior agar tidak menemuimu."


"Baiklah sayang. Kalau begitu kau istirahat lah kembali. Nanti mom akan membawakan makanan untuk mu."


Tak ada sahutan, kini Mom Mey berjalan keluar dari kamar Disthi. Perlahan ia membuka lalu kembali menutup pintu. "Sayang, kau di sini?" tanya Mom Mey saat melihat suaminya berada di depan pintu kamar Disthi.


"Ya" jawab nya singkat. "Bagaimana keadaan Disthi?" tanya Dad Anzel.

__ADS_1


"Masih menangis" Jawab nya lesu.


"Biarkan dia menenangkan pikiran nya." Dad Anzel meraih tangan istrinya dan berlalu meninggalkan Disthi di kamar.


...🍃🍃🍃🍃...


Ponsel Mom Mey berdering, terterah no baru di sana. Mom Mey tahu pasti yang menghubunginya sekarang ini tak lain adalah sahabat nya sekaligus mertua sang anak. Mom Mey membiarkan ponselnya terus berdering. Jujur ia tak tahu harus berkata apa pada sahabat nya itu. Marah?? tentu Mom Mey sangat marah, apalagi ini tetang putri kesanyang nya. Tapi Mom Mey masih menghargai persahabatan mereka. Itulah sebab nya Mom Mey lebih memilih tidak menjawab telepon dari Mom Aurel sang sahabat.


"Siapa? kenapa tidak di jawab?" tanya Dad Anzel yang sedari tadi memperhatikan hp istrinya berdering.


"No baru, dan aku yakin ini Aurel." Jawab Mom Mey.


"Yah sudah tidak usah dijawab."


Setelah berkata seperti itu, hp Mom Mey berhenti berdering, kini hp Dad Anzel lah yang kembali berdering, dengan no yang sama. Dan Dad Anzel juga tidak menjawab panggilan tersebut. Hingga beberapa saat bunyi notif pesan masuk di ponsel kedua nya. Dengan isi pesan yang sama

__ADS_1


..."Maaf .. Maaf atas perbuatan putraku yang sungguh sangat melukai kalian, terutama melukai hati putri kalian. Tapi please, kumohon jawab panggilan ku. Setidaknya jika kalian marah karna aku adalah mertua Disthi. Tapi tolong, anggap aku sahabat kalian, tolong jawab panggilan ku"...


__ADS_2