
Membuat Mom Aurel menepuk jidatnya.. "Cucu ku tidak akan ada jika terus seperti ini. Sepertinya aku harus bertindak." Gumam nya.
"Mom kenapa?" Tanya Disthi yang melihat mom Aurel yang sepertinya sedang berfikir.
"Apa kau dan Junior tidur di kamar terpisah?" Tanya nya penuh dengan selidik. "Semoga saja mereka tidur bersama." Batin Mom Aurel..
Disthi tersenyum menanggapi pertanyaan mertua nya.. "Apa yang harus aku jawab?" Batin nya bertanya pada dirinya sendiri..
"Jawab pertanyaan Momy, apa kamu dan Junior tidur bersama?"
"Iya." Jawab nya singkat..
"Syukurlah kalau begitu, berarti masih ada harapan untuk memiliki cucu." Mom Aurel merasa lega mendengar jawaban yang keluar dari bibir Disthi, yang mengatakan jika ia tidur bersama dengan Junior..
9
"Cucu?" Tanya Disthi.
"Iya cucu, kau dan Junior harus memberikan momy seorang cucu."
"Hahahaahha." Disthi tertawa mendengar ucapan sang mertua yang menginginkan seorang cucu..
"Kenapa tertawa? jangan bilang kamu dan Junior tidur bersama tapi di kamar yang berbeda?" Dan kini Mom Aurel semakin penasaran dengan hubungan pernikahan sang anak dan sang menantunya..
Disthi menganggukkan kepalanya menandakan iya..
Dan lagi - lagi mom Aurel menepuk jidatnya, karan sudah sebulan lebih ternyata belum ada kemanuan hubungan antara sang anak dan sang menantu.. "Omg, sampai berapa tahun pun aku tidak akan bisa mendapatkan seorang cucu jika mereka terus seperti ini." Ucap nya lagi sambil memijit kepalanya yang tiba - tiba terasa sakit..
"Mom ada apa? apa mom sakit?"
"Iya mom sakit."
"Tunggu Disthi ambilkan obat untuk mom." Disthi berdiri dari duduknya, namun belum sempat melangkah, tangan nya di tarik oleh mom Aurel.. "Obat pusing nya kepalaku hanya satu."
"Apa itu mom?" Tanya Disthi sambi kembali duduk tepat di samping mom Aurel.
__ADS_1
"Cucu.. Yah, berikan mom cucu, maka mom akan sembuh."
Disthi membulatkan matanya menatap wajah mertuanya yang meminta seorang cucu.. "Tapi..."
"Tidak tapi - tapi, kau dan Junior harus memberikan mom seorang,-..." Ucapan Mom Aurel terputus kala Putra datang menyela..
"Disthi, kau di sini? sejak kapan?" Tanya Putra yang merasa bahagia melihat Disthi berada di rumah nya."
"Sejak tadi." Jawab Disthi.
"Mom, aku pinjam Disthi. Aku ingin membawa Disthi ke taman belakang, ada yang ingin aku cerita kan." Pinta Putra lalu menarik tangan Disthi.
Disthi berjalan mengikuti langkah Putra yang ada di hadapan nya.. Mom Aurel hanya bisa memandang dan terus berpikir langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya untuk anak dan juga menantu nya..
"Ada apa?" Tanya Disthi, saat mereka sudah sampai di taman belakang..
"Duduklah dulu." Pinta Putra yang sudah duduk di sebuah kursi.
Kemudian Disthi duduk di samping Putra..
"Baik."
"Oh."
"Ada apa?" Tanya Disthi sambil melirik sekilas wajah Putra.
"Jika suatu saat Junior melakukan kesalahan, apa kau akan memaafkan nya?"
"Kesalahan? maksud kamu?" Tanya Disthi.
"Aku hanya bertanya, seandainya suatu saat."
"Tergantung." Jawab Disthi.
"Disthi, apa boleh aku tahu alasan kamu tidak ingin menikah dengan ku? padahal kamu tahu, kalau aku mencintaimu."
__ADS_1
"Putra stop bahas itu. Kau sekarang adik ipar ku. Jangan bahas yang aneh - aneh lagi.."
"Iya maaf, tapi kan aku harus tahu alasan mu."
"Kau mau tahu alasanya?"
"Iya." Jawab Putra cepat.
"Karna aku mencintai Junior."
Bak di sambar petir di siang bolong, hati Putra terbakar, retak, dan hancur, saat mendengar ucapan yang baru saja keluar dari mulut Disthi. Kata - kata yang tak pernah sekali pun Putra sangkah akan keluar dari bibir wanita yang ia cintai selama ini..
Sakit, namun tak berdarah. Itulah yang saat ini Putra rasakan. Namun sebisa mungkin ia tahan semua itu di hadapan wanita yang ia cintai..
"Sejak kapan?" Tanya nya kembali.
"Aku mohon padamu Putra, buang jauh - jauh perasaan mu itu padaku. Aku tidak ingin hubungan keluarga kita hancur karna sebuah perasaan." Jawab Disthi yang keluar dari alur pertanyaan Putra
"Sejak kapan?" Tanya Putra lagi, yang terus terang ia ingin tahu sejak kapan Disthi menyukai kakak nya.. Padahal yang selama ini Putra tahu, jika Disthi sama sekali tidak pernah cocok jika bertemu dengan Junior, pasti mereka selalu saja bertengkar..
"Sejak kecil." Jawab nya singkat sambil mengingat kejadian masa kecil mereka. Disthi tersenyum bahagia.. "Junior laki - laki kedua yang aku cintai setelah dad.. "
Lagi - lagi perasaan Putra hancur kala mendengar ucapan Disthi.. Putra tertunduk, tanpa terasa air matanya keluar membasahi pipinya.. "Apakah aku harus mengiklaskanmu?" Batin Putra, yang juga ikut menangis..
Disthi yang melihat kesedihan Putra, langsung refleks manarik wajah Putra agar menoleh ke hadapan nya.. Dengan perlahan ibu jari Disthi menghapus air mata yang berada di pipi mulus Putra..
"Maafkan aku, karna tidak bisa membalas perasaan mu." Ucap nya sambil menghapus air mata Putra.. "Aku yakin, suatu saat kau akan menemukan seorang wanita, yang akan tulus mencintaimu. Sama seperti tulusnya cintamu kepadaku."
Putra memengang tangan Disthi membuat Disthi berhenti menghapus air matanya.. "Apa tidak ada sedikit cela untuk ku? untuk masuk ke dalam hatimu?" Lirih Putra.
"Jangan bicara seperti itu. Kau ingat, aku menikah dengan kakak mu. Jangan sampai karna perasaan mu itu membuat hubungan persaudaraan kalian hancur."
" Tapi Disthi,-.."
"Aku yakin, ada wanita di luar sana yang akan mencintaimu setulus hati."
__ADS_1
Dan tanpa sadar saat mereka duduk di taman, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka.. Yah, dia adalah Junior.. Junior mengepalkan kedua tangan nya menahan emosi, amarah, dan cemburu secara bersamaan.. "Kalian tega!!" Geram Junior, yang tak mendengar ucapan Dishti dan Putra.. Junior mengira jika saat ini Disthi dan juga Putra sedang berpacaran di belakang mereka.