
Junior menggebrak pintu pagar dengan sangat keras, berharap agar penjaga di dalam membuka kan pintu, namun tetap hasilnya sama saja. Malah penolakan yang Junior dapatkan.
"Lebih baik tuan pulang, karna tuan besar tidak ingin di ganggu saat ini."
"Buka pagarnya!!" perintah Junior. "Aku ingin menemui istriku" teriak nya dengan sangat keras.
"Maaf tuan."
"Aku bilang buka!!" junior teriak, namun tetap tidak mendapatkan apa yang ia ingin kan.
Dad Anzel terus saja menatap Junior dari lantai 2 rumah nya. Kecewa, pasti itu lah yang Dad Anzel rasakan, dimana anak yang ia anggap seperti anak sendiri sedari kecil tegah menyakiti anak kandung nya. Namun apa boleh di kata, Dan Anzel tidak mungkin bisa memaafkan Junior untuk saat ini. Jadi Dan Anzel memutuskan untuk menenangkan diri, karna ia takut jika dirinya nanti nya akan berbuat yang tidak-tidak pada Junior sang menantu.
Junior berhenti sejenak mendobrak pagar, lalu menatap ke arah dalam rumah. Ia melihat dengan jelas saat ini Dad mertuanya sedang melihat ke arahnya. "Dad, kumohon buka pagarnya." Teriak Junior dengan sangat keras, berharap mertuanya dapat mendengar suaranya dari bawah sini.
__ADS_1
"Dad.." Teriak Junior kembali, namun Dad Anzel tak bergeming sama sekali. Junior yang melihat tidak ada respon, langsung masuk kedalam mobil, dan membunyikan klakson mobilnya berkali-kali. "Aku tahu kau mendengarku Dad, tapi kau pura-pura tidak mendengar" Gumam Junior merasa prustasi. Lalu Junior kembali keluar dari mobilnya, dan kembali melihat ke arah mertuanya. Junior menangkupkan kedua tangan nya di dada. Memohon agar mertuanya mau membuka pagar untuk dirinya.. "Dad, kumohon." Pinta nya dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Dad Anzel yang tidak tega melihat Junior seperti itu langsung memutuskan masuk ke dalam rumah, dan menutup pintu. Ia sungguh tidak tega melihat wajah sedih menghias di wajah Junior.
...🍃🍃🍃🍃...
"Aku tidak percaya dengan apa yang anak mu lakukan. Dia sudah membuat ku malu, dengan kelakuan nya seperti itu." Ucap Mom Aurel, sambil menyeka air matanya. Ia tahu betul apa yang saat ini Disthi rasakan, karna ia juga pernah mengalami hal yang sama di jadikan barang taruhan.
"Sayang." Ucap Dewa, sembari memeluk tubuh Mom Aurel dan mengusap lembut pundak belakang mom Aurel.
"Tidak sayang, tidak!! jangan berbicara seperti itu."
Mom Aurel menangis sesegukan di pelukan suaminya. Ia tidak menyangka, sejarah akan terulang kembali, seperti roda yang berputar.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu, aku yakin Junior pasti menyesali semua ini."
"Putra, aku tidak menyangka jika Putra tega melakukan hal yang sama. Apa mereka berdua tidak berpikir, apa yang akan terjadi antara aku Mey dan Anzel. Kenapa harus Disthi? kenapa??"
"Sabarlah, tenang kan dirimu. Besok kita ke rumah Anzel dan Mey. Kita meminta maaf pada mereka."
"Maaf?? kau pikir semuda itu? Lihat lah, bahkan no ponsel ku saja mereka blokir. Kamu tidak tahu, apa yang Mey dan Anzel rasakan?
"Iya maaf, maaf."
"Kau!!" Ucap Aurel melepas pelukan dari suaminya. "Kau dan anak mu sama saja, selalu menganggap wanita sebagai barang."
"Sayang .."
__ADS_1
Aurel berjalan menuju tempat tidur, dan menidurkan tubuhnya lalu menarik selimut menutupi hingga ujung kepalanya. "Maafkan aku Disthi, maafkan aku Mey, maafkan aku Anzel, maaf karna aku telah gagal mendidik anak ku" Ucapnya.