Wanita Taruhan CEO Season 2

Wanita Taruhan CEO Season 2
66


__ADS_3

Disthi menyeka air matanya. "Lepaskan aku Junior" Ucap Disthi.


"Biarkan aku memeluk mu sebentar saja."


"Lepaskan." Disthi melepaskan pelukan Junior pada dirinya dan berlalu keluar dari ruangan Junior, meninggalkan Junior yang menangis sambil memanggil namanya.


"Disthi, ini belum berakhir. Ini awal dari segalanya." Teriak Junior namun Disthi dan menggubrisnya sama sekali.


Di dalam mobil, Disthi melamun air matanya tetap jatuh membasahi pipinya sebagai tanda perasaan nya saat ini, sedih pastilah, di mana ia harus melihat pria yang ia cintai menangis di hadapan nya. Pernyataan cinta yang dari dulu yanh sangat ingin Distni dengar, sudah ia dengar barusan, tapi apa? kenapa di saat sekarang baru ada kata cinta yang terucap, di saan semua sudah hampir berakhir kata itu baru ada. Putra yang melihat Disthi hanya bisa terdiam, ia tahu betul apa yang Disthi rasakan saat ini. Karna Putra sudah terlebih dahulu merasakan hal yang Disthi rasakan.


"Sabarlah, semua pasti akan baik-baik saja." Putra mencoba menenangkan Disthi, karna bagaimana pun Disthi harua tetap menjaga kondisinya, terlebih lagi ia sedang hamil, dan tidak boleh terlalu banyak berpikir, nanti yang ada akan terpengaruh dengan bayi yang ia kandung.


Disthi hanya diam, tak menjawab ucapan Putra sama sekali. Lalu putra mengambil tisu dan di berikan ke hadapan Disthi.


"Lap air matamu, mataku sepet lihat muka mu yang jelek itu."


Disthi balik menatap Putra sambil memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


"Hey jelek tahu."


"Jelek begini tapi kamu suka kan, ia kan?" Ucap Disthi lalu mengeluarkan ingus nya, membuat Putra menaikkan satu alisnya.


"Aneh, kok bisa yah dulu aku jatuh cinta sama kamu yang jorok ini."


Disthi tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi.


"Ingat kamu harus fokus, jaga kesehatan. Jaga bayi yang ada di kandungan kamu. Soal Junior, biarkan dia menangis darah, jangan berikan maaf dulu padanya sampai dia benar-benar menyesalinya."


"Tapi aku kasihan."


"Kau benar. Tapi bagaimana kalau dia menyerah?"


"Tidak mungkin."


"Bagaimana kau tahu?"

__ADS_1


"Kau lupa jika Junior itu sodaraku? jelas lah aku tahu semuanya."


...🍃🍃🍃🍃...


Hari berganti minggu, minggu pun berganti dengan bulan. Tak terasa kini lima bulan sudah usia kandungan Disthi. Dan selama lima bulan juga Junior tak henti-hentinya memcoba mendekati Disthi, meminta maaf pada Disthi dengan setulus hati.


Tapi hari ini, hari dimana hati Junior benar-benar hancur saat ia menyadari jika tubuh Disthi banyak berubah, perutnya terlihat membuncit. Dan itu yang membuat Junior merasa begitu hancur sejadi-jadinya.


Ia baru sadar, jika selama ini Putra selalu berada di samping Disthi, selalu menemani Disthi kemana pun Disthi pergi. Junior menerkah, apakah Disthi telah menikah dengan adiknya? dan apakah Disthi telah menngandung anak dari adiknya? pertanyaan itu selalu saat terputar di benak Junior, bagai sebuah kaset film.


Junior mengingat, bagaimana dulu ia sangat tidak suka pada Disthi, jangan kan untuk menjadi suami Disthi, dekat dengan Disthi pun ia tidak sudi. tapi sekarang, kenapa di saat Junior telah jatuh cinta yang sedalam-dalam nya, Disthi malah hamil dan yang parah nya lagi, dengan adik kandung nya sendiri.


"YaRabb, apa yang harus aku lakukan? haruskah aku mengalah dengan cinta ini?" Gumam Junior sambil menatap foto Disthi dilayar ponsel nya.


"Disthi, aku sangat mencintai mu. Apakah tidak ada kesemapatan untuk ku? apakah ini balasan atas kelakuan ku? sehingga kau tega menikaho adik ku sendiri?" Junior menyeka air matanya. Ia terus berpikir apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


"Haruskah aku rela? Harus kah aku melepasmu demi kebahagian mu?" tanya nya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"YaRabb, kenapa hati ku sakit. Kenapa aku merasakan sakit yang amat menyakitkan. Sesakit inikah mencintai? inikah yang dulu Disthi rasakan padaku? Maafkan aku, maaf. Andai waktu bisa fu ulang, aku akan memperbaiki semuanya dari awal."


__ADS_2