Wanita Taruhan CEO Season 2

Wanita Taruhan CEO Season 2
52


__ADS_3

Tangis Disthi tak juga berhenti, hingga membuat Junior melepas pelukan nya, lalu mengusap air mata yang membasahi pipi mulus Disthi. "Menganis lah jika itu bisa membuat mu lega." Lalu Junior kembali memeluk tubuh Disthi dengan erat, dan mengusap pundak belakang Disthi dengan lembut.


"Andai kamu tahu junior, kau lah alasan kenapa air mata ini mengalir. Kau lah penyebab dari semuanya." Batin Disthi lalu mencoba melepas pelukan Junior.


"Kenapa?" tanya Junior saat pelukan nya terlepas.


Tak ada jawaban, Disthi justru berjalan meninggalkan Junior yang tinggal mematung di tempat nya.


"Apa perempuan semua memiliki sifat yang sulit untuk di tebak?" Gumam Junior melihat Disthi meninggalkan nya.


Disthi masuk ke dalam kamar, dan mengunci pintu nya agar Junior tidak bisa masuk menemui dirinya. Disthi membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan posisi menyamping. Air mata masih tetap membasahi pipinya. Kata-kata itu terus saja terputar di pikiran Disthi.


"Ternyata sesakit ini mencintai tanpa di cintai, dan yang lebih parah, aku hanya di anggap sebagai barang yang di jadikan barang taruhan. Andai waktu bisa di putar, aku tidak ingin mengenal yang namanya cinta." Ucapnya di sela tangis.


...🍃🍃🍃🍃...


Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Disthi keluar dari rumah, mengendari mobil seorang diri, menuju apartemen milik Putra adik iparnya, sekaligus orang yang juga menjadikan dirinya barang taruhan.


Beberapa saat kemudian saat mobil yang ia kendarai telah tiba, Disthi dengan segerah melangkah kan kaki nya menuju unit apartemen Putra.


"Putra.." Teriak Disthi sambil mengendor pintu Putra.


Putra yang memang sudah bangun sedari tadi, tanpa menunggu waktu langsung membuka pintu. "Disthi." Ucapnya dengan senyum di wajah nya, karna wanita yang ia cintai datang sepagi ini di apartemen miliknya


"Tidak usah senyum, aku benci melihat itu." Lalu Disthi berjalan masuk kedalam melewati Putra yang terdiam kaget melihat Disthi yang terlihat sangat marah padanya.

__ADS_1


"Katakan yang sejujurnya"


"Apa itu?" tanya Putra balik, dan mendekat ke arah Disthi.


'Prangkkk' Disthi melempar gelas yang berada di atas meja, kelantai. Sontak membuat Putra kaget


"Ada apa Disthi? kenapa kau datang dan tiba-tiba marah seperti ini?"


"Ada apa kau bilang?" Tanya Disthi balik. "Ayo katakan tentang taruhan itu padaku?"


"Taruhan? aku tidak mengerti apa maksud mu Disthi?"


"Jangan berpura-pura bodoh Putra. Aku tahu semua nya, aku tahu kau dan kakak mu menjadikan aku barang taruhan kan?"


Seketika Putra kaget mendengar ucapan Disthi. Bagaimana tidak, hal yang ia rahasia kan bersama sang kakak selama ini telah di ketahui.


Disthi mendudukan dirinya di sofa, manarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan.


"Kau tega, sungguh sangat tega padaku." Ucapnya, mencoba menahan air mata nya. "Kau dan kakak mu sama saja. Sama-sama tidak memiliki hati." Teriak nya.


Putra mendekat ke arah Disthi dan bersimpuh di hadapan Disthi. "Maafkan aku, maafkan aku Disthi."


"Maaf kau bilang? setelah apa yang kau lakukan padaku, dengan gampang nya kau bilang maaf?"


"Disthi, aku mencintai mu. Sungguh sangat mencintai mu."

__ADS_1


"Cinta kau bilang?" Disthi menyeka air matanya yang mulai membasahi pipinya.


"Ya, aku mencintai mu Disthi. Dan hanya dengan cara itu yang bisa aku lakukan agar aku bisa memiliki mu."


"Jelaskan semuanya padaku, siapa yang memulai semua ini dari awal. Ingat jangan menutupi apa pun padaku."


"Aku yang salah." Ucap Putra


"Katakan!!" Teriak Disthi.


"Junior yang memulai semuanya, dan aku menginyakan itu semua karna aku mencintai mud dan takut kehilangan dirimu."


Disthi benar-benar tidak mendunga jika kakak beradik ini tega menjadikan dirinya barang taruhan.


"Di mana berkasnya?" tanya Dishi.


"Tapi Disthi"


"Berikan padaku" Ucap Disthi penuh dengan penekanan


Putra yang tahu betul dengan sifat Disthi langsung berjalan menuju kamar dan mengambil lembaean kertas yang tertuliskan tentang taruhan itu.


"Ini." Putra menyerahkan kertas itu, dan sungguh betapa kaget nya Disthi membaca kertas itu.


Dan kenyataan yang ada, ternyata Putra rela melepaskan semua harta miliknya untuk Junior, agae bisa memiliki Disthi. Berbeda dengan Junior, ia rela kehilangan Disthi agar bisa memiliki harta Putra.

__ADS_1


Bagai di sambar petir di pagi hari, sakit yang Disthi rasakan di dadanya semakin terasa sakit, saat tahu kenyataan yang sebenarnya lagi. Disthi menyeka air matanya dan berdiri melangka meninggalkan Putra yang diam merasa bersalah. Namun langkah Disthi berhenti sebelum keluar dari apartemen Putra.


"Jangan katakan ini pada Junior, biar aku saja. Anggap ini permintaan terakhirku sebagai iparmu." ucapnya lalu keluar dari apartemen Putra.


__ADS_2