
"kau tau Fatimah alergi dengan teh tetapi dirinya sendiri saja lupa" ucap brain
"ihh aku baru ngeliat orang ada ya yg alergi teh" ucap memelia
"au kenapa ya orang alergi ada ada bae" ucap laila
wiliam yg mendengar perkataan brain tadi pun mengingat masa lalunya waktu Fatimah sedang alergi
flack back onn
di sat itu Fatimah, ayahnya dan juga wiliam berada di meja makan
di sana Fatimah menuangkan teh dia gelas wiliam ayahnya dan juga dirinya
Fatimah dan ayahnyapun berdoa wiliam hanya melihat mereka
"ayo selamat makan" ucap Fatimah
diapun pertama tama meminum teh lalu memakan makananya
merekapun juga ikut makan wiliam dengan dinginnya melirik wajah Fatimah yg imut ketika makan
di saat selesai makan
tiba tiba Fatimah merasa pusing dan merasa oleng
ketika dia memegang gelas beling di tangannya dan
pprraang!
gelas itu pecah jatuh dari tangan Fatimah
"Fatimah!" ucap wiliam dan juga ayah Fatimah mereka terkejut dan langsung menghampiri Fatimah
"Fatimah bangun
Fatimah"
ayah Fatimahpun berusaha menyadarkan Fatimah
"wiliam cepat panggil tabib"
"baik ayah"
wiliampun bergegas pergi diapun berlari memanggil tabib
...__________...
setelah beberapa menit kemudian tabibpun memberi tahu keadaan Fatimah
"Fatimah ini terkena alergi yg bahkan bisa mencabut nyawanya" ucap tabib
"alergi?" ucap ayah Fatimah
"iya apakah ada makanan atau minuman yg dia konsumsi"
"ada ya teh dia baru pertama meminumnya" ucap ayah Fatimah
"ya dia alergi terhadap teh mohon jangan mengasih teh ke dirinya karna jika dia mengkonsumsinya itu tidak baik dan bisa bisa sampai merengut nyawanya untungnya kalian cepat memanggil saja" ucap tabib itu
"makasih tabib atas bantuannya" ucap ayah Fatimah berterima kasih
"yasudah saya pergi dulu"
tabib itupun pergi dari sana
ayah Fatimah melihat ke arah wiliam
"kau dengarkan apa katanya" ucap ayah Fatimah wiliam mengangguk
"jangan mengasih dia teh"
"baik ayah" ucap wiliam
"hhhuuff"
ayah Fatimah menghela nafas
flack back off
tak beberapa lama setelah itu beberapa menit lah dokterpun akhirnya keluar dari ruangan Fatimah
mereka langsung menghampirinya
"bagaimana kabarnya dok?" ucap wiliam
"hhuuff
untungnya pasien cepat di bawa kesini kalau tidak alergi nya bisa memburuk dan bisa merengut nyawanya"
"syukurlah" ucap memelia dan Fatimah
__ADS_1
"sebaiknya pasien jangan memakan makanan yg dia alergi karna itu bisa membahayakan nyawanya" ucap dokter wiliampun mengangguk
"terima kasih dok" ucap Aska dingin
"pasien sudah membaik hanya saja belum sadar kalian bisa menengoknya
saya permisi pak Aska" ucap dokter itu diapun pergi
merekapun masuk ke ruangan Fatimah
ketika wiliam ingin melangkahkan kakinya dia terhenti
dia berfikir ulang tentang ini dan dengan cepat dia langsung menarik tangan laila dan membawanya pergi
"eh eh eh" ucap laila yg agak bingung tapi dia hanya bisa ikut
sementara yg lainnya bingung
"kak wiliam emang bisa berbuat semaunya ya" ucap memelia menggeleng geleng karna perbuatan kakak tirinya itu
Fatimah, veroo, brain dan juga memelia yg ikut kerumah sakitpun melihat keadaan Fatimah yg sedang berbaring di ranjang rumah sakit
dengan wajah yg pucat
"bisa bisanya dia lupa akan alerginya sendiri" ucap Aska
"ya seharusnya aku tidak memberinya teh" ucap veroo
"ada ada saja kejadian yg tidak terduga" ucap brain
"tau bisa bisanya Fatimah alergi teh ada ada bae" ucap memelia
"Aska" panggil veroo
"hemm"
Aska hanya berdehem tanpa menoleh
"apa hubunganmu dengan Fatimah?" tanya veroo mereka hanya diam saja Aska diam sejenak dan akhirnya diapun menjawab
"tidak ada
kita hanya teman dan itu kebetulan"
_________
sementara di sisi lain laila di tarik oleh wiliam
"kenapa sih"
"ayo kita pulang" ucap wiliam dingin
"pulang? heh yaelah tadi aja kamu khawatir khawatir sekarang malah minta pulang gimana sih"
"eh jangan boongin perasaan kamu mulu dah jangan jadi orang bego!" ucap laila yg tau apa masalahnya dan dia mengerti apa yg sedang dialami
"udah lagian siapa yg boongin perasaan gua kan cuma nolongin adek gua udah gk usah banyak omong ikut gua" ucap wiliam diapun menarik tangan laila dan henda pergi tapi ketika berbalik
dia melihat laki laki yg ganteng, tinggi, gagah, mapan ya itu adalah Lian
Lian menatap wiliam dan juga adiknya itu
"kak Lian" ucap laila
dan benar saja Lian ada di sini karna dia bekerja di rumah sakit ini
wiliam menatap Lian dengan dingin
"besok aku akan kerumahmu kita bahas semuanya" ucap wiliam dingin lalu pergi bersama laila
Lian yg di bilang seperti itu bingung
"apa maksudnya?
kenapa mereka bisa berada di sini?" guman Lian tapi diapun akhirnya tidak memperdulikannya lagi dan pergi
setelah lamanya perjalanan pulang ke kerjaan
merekapun langsung masuk kamar
"kenapa sih lu tuh egois mulu" ucap laila yg agak kesal dengan perlakuan wiliam
"lu gk usah banyak omong"
"lagian emang kenapa aku kan mau ngeliat keadaan Fatimah ini mendadak loh" ucap Laila
wiliam diam
"heh" laila pun kesal dengan semuanya
diapun duduk ke kasur
__ADS_1
wiliam berpaling dari laila
laila menyadari ada sesuatu yg aneh dari wiliam
"kamu nangis" tanya laila
wiliam yg mendengar itu langsung menghapus air mata nya
"kamu nagis?" ucap laila memastikan lagi
diapun ingin bangun tapi wiliam langsung menindih nya
dia sudah tidak telrihat sedih lagi
"kau diam!" ucap wiliam
laila menatap wiliam dengan kesal
"aku belum melakukan misiku yg selanjutnya"
"emang apa misiku?"
wiliam pun bangun laila juga ikut bangun laila menatap wiliam wiliam pun melihat ke arah laila
"menghamilimu"
"apa!?"
laila yg mendengar itu terkejut
"buat apa lu hamilin gua heh gk mau gk mau gk mau"
"heh gua gk perlu persetujuan dari lu"
"yeeee eh jangan begini juga dong lu boleh apain gua tapi jangan hamil gua gk mau"
"gua gk perduli mau gk mau lu harus hamil"
"anak gua" lanjut wiliam
pulak!
seketika itu wiliam langsung di tampar sama laila wiliam menatap laila yg berani menamparnya
"wiliam! jangan mentang mentang kamu hebat kamu bisa melakukan semuanya kamu bisa mempergunakan perempuan hanya untuk membalaskan dendam kamu gk tau gimana sakitnya kamu hanya mengikuti ego mu tanpa peduli apa yg sedang mereka alami"
"hhuuff hhuuff
kamu tuh egois wiliam egois!!"
"aku tidak peduli!
kau berharap aku peduli heh?
tidak! tidak akan hati ini sudah menjadi busuk" ucap wiliam memegang tepat di hatinya dengan jari telunjuknya
lalu diapun pergi
di sana laila tak kuasa menahan air mata
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...