
"hhuuff" laila menghela nafas
"heh heh bisa bisanya dia berkata seperti itu gk pikir apa perasaan orang lain memang ya enak jadi lelaki ini ini dan ini seenaknya bisa melakukan semuanya tanpa memikirkan perasaan orang"
"sakit tau sakit
hhiiskk hhiskk"
laila menupuk nepuk dadanya yg terasa sakit dan sesak karna ulah wiliam
_________
di sisi lain Fatimah sudah tersadar
diapun memegangi kepalanya
dia sadar di saat hari sudah malam
dia baru siuman Fatimah memegangi kepalanya
kepalanya terasa pusing di saat dia bangun dia melihat Aska dan juga brain yg sedang tidur di sofa
Fatimah bangun dan duduk dia melihat mereka berdua
melihat brain seseorang yg dulu dia cinta dan dia kangen kangenin
lalu melihat Aska seseorang yg
yg membuatnya kagum dengan sikapnya
dia tersenyum kecil
"nasibmu sangat tidak beruntung" ucap Fatimah
"oh iya ngomong ngomong kenapa aku bisa ada di rumah sakit ya perasaan tadi aku pusing terus aku tidur kok tiba tiba" ucap Fatimah yg bingung
"kau terkena alergi yg cukup parah sehingga rumah sakit" ucap seseorang
Fatimah melihat ke arah orang itu dan ternyata itu adalah veroo
"alergi?"
"hmm kau alergi dengan teh
maaf soal itu aku memberimu teh" ucap veroo
"oh iya
aku alergi teh ya kok gk mati aja sih"
"kau ini maunya apa sih?
kau mau mati" ucap veroo yg agak bingung dengan sikap Fatimah
"ya begitulah hidup ini susah tau
aku dah cape ngadepin semuanya
tapi aku gk tau dah kalau di alam sana aku bisa selamat apa kagak" ucap Fatimah
"hhuuff! gimana kondisimu?"
"ya agak mending lah gk sepusing yg tadi"
"eh nama kamu veroo kan?"
"hemm"
"katanya lu mau pulang ke kampung lu"
"hemm in sha Allah secepetnya"
"siap siap ya veroo" ucap Fatimah
"siap siap? untuk apa"
"nanti kamu akan tau dan aku juga gk tau sih tapi kamu harus hati hati"
"lu juga harus hati hati"
"buat apaan?"
"nanti juga lu tau"
mendengar kata itu Fatimah terlihat kesal dengan veroo
"ngikut ngikutin saja"
"lagian"
________
sementara di sisi lain kembali ke memelia yg sudah pulang dia pulang larut malam karna ingin melihat Fatimah yg sadar tapi dia dipaksa sama veroo untuk pulang
akhirnya dia pun pulang
"dari mana saja" tiba tiba suara dingin pun terdengar ya itu adalah Leo
__ADS_1
Leo sedaris tadi menunggu memelia pulang
"ah tadi ada suatu kejadian
puanjjang yg bikin aku pulang larut malam"
"kejadian apa?" ucap dingin Leo
"uhh kepooo"
"yaudah ah aku cape mau bersih bersih dulu bayy" ucap memelia diapun pergi dari sana
oleh skip selesai beres beres dan bersih bersih memelia pun pergi ke dapur untuk mencari makan karna dia sangat lapar
memelia membuka lemarinya diamemakai baju tidur dan juga rambut yg basah
"lagi cari apa non" ucap bibi tiba tiba dateng
"pengen makan bi tapi gak ada makanan" ucap memelia agak manja
"yaudah non duduk aja biar bibi yg masakin"
"okeh bi"
"non mau makan apa?"
"emm ramyon aja deh bi kayaknya enak dingin dingin begini makan ramyon" ucap memelia
"yaudah non tunggu aja biar bibi yg mikinin"
memelia pun akhirnya pergi dari sana diapun duduk di meja makan sambil memainkan hp nya
"ngapain di sini?" ucap Leo tiba tiba datang
"lagi kesurupan" balas memelia
"gk usah ngegas kali"
"yee lagian orang tau lagi ngapain pake di tanya"
"kesel mulu masih mending hp gk gua sita"
"hehehe ya jangan lah udah cukup semuanya kamu ambil tapi jangan hp ku yg setia ini"
"oh iya Leo"
"hmm"
"kamu kan orang kaya punya perusahaankan?"
"hmm"
mendengar itu Leo langsung melihat memelia
"apa emang gk cocok"
"kau ini masih sekolah kau bisa telat dan juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan kantor"
"ya kan diajarin"
"sama?"
"sama kamu lah masa sama setan"
"aku sibuk"
"yaelah ajarin kamu kan bos ya gk apa apa lah"
"gk ada guna gua ngajarin bocah kaya lu"
"yaelah bocah orang udah gede"
"emang kenapa kamu mau kerja?"
"eemm ya pengen belajar belajar aja sih"
"lu aja masih sekolah urus dulu sekolah baru kerja"
"haaaa au ah"
memelia agak terlihat kesal diapun diam
"oh iya Leo orang tua kamu kemana?" ucap memelia
"udah meninggal" jawab dingin Leo
"ohh berarti kamu tinggal sendiri ya ampun kasian"
memeliaa gak meledek
"bagaimana denganmu di josohkan dengan orang yg tidak kau kenal"
"ya biarin lah emang udah nasib"
"belajar jangan main hp mulu"
"yaelah aku tuh bingung ngapain coba belajar aku kan dah punya kamu yg kaya, lumayan ganteng, ya jadi gk perlu belajar belajar"
__ADS_1
"aku kaya karna aku belajar"
"iya juga sih yee tapi kan
ada juga yg sukses tanpa belajar"
"siapa?
apa kau pikir kau tidak belajar tidak bisa menulis kau akan kaya apa kau pikir kau tidak punya ijasah kau akan kaya apa kau pikir semudah itu tidak"
"iya iya iya aku tau kamu juga kan mulai dari awal kamu juga awal awal nya sederhana sekarang kaya raya aku tau kau memulainya dari enol sampai bisa sekaya sekarang"
"bagaimana kau tau"
"ya itu sudah ketebak"
"ini non ramyonnya"
di tengah tengah obrolan mereka datanglah bibi membawa semangkuk ramyon memberikannya kepada memelia
"makasih bi"
"sama sama non"
bibi itu pun pergi
memelia pun meletakan hp nya diapun memakan ramyon itu
"kamu kenal wiliam?"
"jangan berbicara ketika makan"
"iya aku tau tapi kamu kenal wiliam gk"
"abangmu?"
"iya kamu tau"
"tidak terlalu yg aku dengar dia di hukum oleh ayahmu kesuatu tempat beberapa lama dan akhirnya dia kembali"
"yap benar"
"memang ada apa? " tanya Leo dingin
"ya enggak nih"
memelia berhenti makan diapun mulai bercerita
"ada yg aneh sumpah sangat aneh"
"masa nih ya wiliam ini setelah balik dari desa yg memang benar desa itu tuh payahlah ketika balik juga dia gk sebanding sama kakak kakak yg lainnya tapi anehnya dia bisa merebut kekasih kak Aska dan kak Aska rela padahal aku liat tuh ya kak Aska itu kaya terpaksa merelakan nya"
"kekasih? sih laila"
"tuh kan kamu tau ya tuh benerkan laila kekasihnya kak Aska"
"memang mereka tidak bisa bersatu bukan"
"iya tapi laila juga terpaksa menikah dengan wiliam"
"aku bingung sama kak Aska kenapa gk di rebut aja" ucap memelia terheran heran akan kakaknya itu
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
bersambung...