Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 10 : Piano


__ADS_3

...Apa kau bisa melakukannya, Rey?...


...\=×\=×\=...


Singkat cerita, bel pulang sekolah telah berbunyi. Aku memasukan kembali semua peralatan sekolahku. Buku, pena, pensil, dan alat tulis lainnya kumasukkan tanpa ada pengecualian. Namun, saat hendak memasukan buku, aku tak sengaja menyenggol meja hingga membuat alat tulis yang tadinya sudah tertata rapi menjadi berantakan lagi. Bahkan, kotak pensil ku juga menjadi rusak.


"Ai, ada apa?" tanya Rey kaget setelah mendengar suara barang jatuh.


"Ah tidak ada apa-apa. Aku tak sengaja menyenggol meja hingga membuat alat tulisku jatuh," terangku sambil memunguti alat tulisku satu per satu.


Tanpa diperintahkan, tiba-tiba saja Rey langsung berjongkok dan membantuku mengambil alat tulis.


"E-eh Rey ... apa yang kau lakukan?" tanyaku terkejut karena dia langsung berjongkok dan ikut memunguti alat tulisku.


"Membantumu," jawab Rey singkat.


Aku langsung memegang tangan Rey. "Eh tidak usah, Rey. Aku bisa sendiri kok," kataku yang bermaksud untuk menyuruh Rey berdiri lagi. Karena jika posisi kita seperti ini, maka akan banyak orang yang curiga nantinya. Pasti murid-murid lainnya akan menjadikan ini bahan gosip. Hahh ... aku tak mau menambah masalahmu, Rey.


Bukannya berdiri, Rey malah memegang tanganku. "Aku sudah pernah bilang, 'kan? Jika kamu ada masalah, ucapkan saja! Aku akan selalu membantumu," ujar Rey sambil memamerkan senyumannya.


Aku menatap Rey dengan senyuman sendu. Aku bingung dengan perasaanku. Aku ini sedang senang atau sedih? Meski senyuman terlukis di bibirku, tetapi hati ini rasanya seperti menyuruhku untuk segera menangis. 'Rey, kau benar-benar membuatku terpana,' pikirku.


"Eh ...." Rey terkejut saat melihat sesuatu. "Sepertinya, kotak pensilmu rusak, Ai," ujarnya seraya menunjukan kotak pensil yang kubeli saat masih SD itu.

__ADS_1


Sejak kematian ayah, aku tak pernah membeli barang-barang lagi. Karena ibu selalu melarangku. Katanya, kita harus hidup hemat. Tidak ada yang bisa kulakukan, ya ... aku turuti saja perintahnya.


Aku mengambil kontak pensil tersebut. "Tidak apa-apa ... lagipula kotak pensil ini memang sudah seharusnya dibuang heheh .... Di tasku ada ruang khusus untuk menaruh barang-barang, aku akan menaruhnya di situ saja," ungkapku kemudian beranjak berdiri dan mengambil alat tulis di tangan Rey dengan lembut. Sementara Rey hanya menatapku dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


Sesaat setelah memasukan alat tulis, aku berbalik dan menatap Rey. "Rey, ayo kita memilih klub! Karena ini sudah hampir terlambat," ujarku mengajak Rey untuk segera turun untuk memilih klub masing-masing.


"Hm? Ah ... a-ayo ...!" Rey merubah posisinya menjadi berdiri lagi.


Aku dan Rey berjalan bersama keluar dari kelas dan kemudian ke tempat pemilihan klub. Ketika kami sudah berjalan menjauh dari kelas, terlihat sekumpulan gadis dengan gaya glamour sedang memantau kami berdua. Ya ... mereka tak lain dan tak bukan adalah Reina dan kawan-kawan.


"Reina, lihat itu! Mereka terlihat semakin dekat setiap harinya. Sepertinya kamu akan kalah dengan Ai," ucap Shouko seraya menunjukku dan Rey yang kini tengah berjalan bersama.


Dengan posisi sedang bersandar di tembok, Reina pun tersenyum, seraya berujar, "Haih ... harus berapa kali lagi aku menjelaskan padamu. Aku Reina, jika aku menginginkan sesuatu, maka aku akan mendapatkannya. Meski harus melakukan hal tak wajar hihi ...."


Sementara aku dan Rey kini tengah berada di aula sekolah. Siswa-siswi sekolah terlihat saling berdesakan untuk memilih klub yang diinginkan. Aku mengedarkan pandanganku ke segala arah.


Aku melihat banyak sekali klub di sini. Ada klub olahraga, adapula klub menari. Saat sedang melihat-lihat, tiba-tiba terdengar suara seorang gadis sedang berbicara di mic. Atensiku langsung teralihkan kepada sumber suara itu.


Ternyata, itu adalah suara salah satu siswi yang sedang menjelaskan serba-serbi tentang klub menyanyi. Aku berlari mendekatinya.


"Semua siswa dan siswi SMA TOKYO, ya kalian! Jika kamu memiliki bakat menyanyi, maka jangan lewatkan kesempatan untuk masuk klub menyanyi," ujarnya sembari membaca lembaran kertas semacam kartu berbentuk persegi panjang. "Di sini kalian bebas menyanyi lagu apapun sekuka kalian. Kami akan senantiasa membibing kalian agar bisa menjadi penyanyi atau bahkan musisi terkenal. Jadi, apa lagi yang kalian tunggu? Ayo daftar segera!" lanjutnya mengajak siswa-siswi yang memiliki bakat menyanyi untuk masuk ke dalam klub.


Namun, karena tidak memiliki bakat menyanyi, aku pun berjalan meninggalkan klub ini dan berkeliling lagi untuk mencari klub yang cocok denganku. Ketika sedang mencari klub lainnya, kali ini aku mendengar suara seseorang dari arah yang tak jauh dari tempatku berdiri saat ini. Aku berjalan mendekat untuk melihat klub apa itu.

__ADS_1


"Halo teman-teman! Mungkin kalian berpikir bahwa hidup di Jepang itu mudah. Semuanya serba berkecukupan. Namun, sebenarnya di luar sana masih banyak orang membutuhkan. Kita tidak bisa diam saja tatkala melihat saudara-saudara kita sedang kesusahan. Maka dari itu, ayo kita bergabung bersama di klub relawan! Kita akan bahu membahu untuk membantu sesama agar semua hidup bahagia," terang gadis yang kira-kira berusia 19 tahun itu.


Sebenarnya aku sangat tertarik dengan klub ini. Namun, menjadi relawan itu harus selalu siaga setiap saat. Bisa meluangkan waktunya atau bahkan menginap. Itu semua tidak bisa kulakukan karena satu alasan, ibu. Dia tidak pernah memperbolehkanku untuk meninggalkan pekerjaan rumah. Hahh ....


Aku berjalan menjauh dari klub itu juga. Emm ... apa aku bertanya kepada Rey saja, ya? Aku pun menoleh ke kanan, berniat untuk bertanya apa klub yang akan dipilih oleh Rey.


Ketika aku menoleh, aku baru sadar bahwa Rey tidak ada di sisiku. Seketika aku pun menjadi panik. Sekarang aku sedang berjalan sendirian di tengah-tengah kerumunan siswa ini. Aku bingung. Kemana aku harus pergi?


Pada saat yang bersamaan, aku mendengar suara keramaian di panggung utama. Di sana adalah tempat para guru menjelaskan tentang klub-klub di sekolah ini. Ya ... semacam talkshow begitu. Namun, sekarang hanya piano dan satu bangku yang terlihat di panggung tersebut.


Tak lama kemudian, terdengar suara seorang gadis. "Kita sambut penampilan permainan piano dari Tachibana Rey, siswa kelas 1-F!" teriak gadis itu sambil merentangkan satu tangannya untuk menunjuk orang yang akan bermain piano.


Eeeehh ... tunggu sebentar. Nama siapa yang dia sebutkan tadi? R-REY?! Aku terkejut saat menyadari bahwa gadis itu menyebut nama Rey.


Tak lama setelah itu, seseorang berjalan naik ke atas panggung. Semua pandangan tertuju kepadanya, termasuk aku. Benar saja, dia adalah Rey.


"WAHHH ... TAMPAN SEKALI!" teriak siswi-siswi yang berdiri di depan panggung. Sepertinya mereka terpesona dengannya. Kali ini rambut Rey memang terlihat sedikit berbeda. Meski dia masih mengenakan seragam sekolah. Namun, aku merasa bahwa dia bertambah tampan saat rambutnya ditata seperti itu.


"Halo semua! Aku adalah Tachibana Rey, perwakilan dari klub musik. Hari ini, aku ingin memainkan sebuah lagu dengan versi piano. Semoga kalian suka!" ujar Rey sembari tersenyum ramah seperti biasanya. Pipi wajah para murid perempuan langsung berubah menjadi merah.


"Baiklah, Rey. Silakan kamu menuju pianonya dan mulai bermain. Kami semua tidak sabar menantikan penampilanmu!" ujar gadis tadi.


Rey mengangguk dan berjalan menuju piano berwarna hitam mengkilap itu. Dia kemudian menarik kursinya dan menyamankan posisi duduknya. Rey terlihat memejamkan matanya dan menghela napas. Sepertinya dia ingin menenangkan dirinya agar tidak grogi.

__ADS_1


__ADS_2