Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 60 : "Aku menyukaimu, Ai!"


__ADS_3

"Jadi se-sebenarnya Rey ... a-aku memang berusaha untuk menjauhimu. Ya, mungkin kau benar, aku memang sudah berubah. Tapi, aku melakukan semua ini demi kebaikan kita sendiri. Lagipula, bukankah kau pernah mengatakan kalau kau mau menerima dan memahami segala keputusanku?" Dengan badan gemetar, aku mencoba untuk memulai pembicaraan ini. Maksudku, pembicaraan terakhir ini.


"Kenapa? Kenapa kau mencoba menjauhiku? Dan apa maksudmu untuk kebaikan kita? Apa kau pikir hal ini dapat membuatku bahagia?" tanya Rey dengan nada bicara yang terdengar marah. Aku tahu, aku juga pasti akan menanyakan hal yang sama jika ada di posisinya. Tapi, aku tidak bisa menjawab apa yang dia tanyakan.


Aku mengenggam rok seragamku erat untuk menahan tangis. "Ti-tidak. Bukan itu maksudku ... kumohon, pahami maksudku, Rey."


"Tidak. Coba jelaskan alasan kenapa kamu mencoba untuk menjauhiku dulu. Kau tahu kan? Kita sudah bersama sejak lama. Apa kau mau meninggalkan hubungan kita begitu saja?" Rey menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Ai? Kenapa kau diam saja? Apa kau benar-benar ingin meninggalkanku?"


Setelah mendengar pertanyaan Rey, aku terdiam sesaat. Dia benar-benar mempersulit segalanya .... Tidak, kenapa aku malah menyalahkan Rey? "Aku ... tidak ...."


"Sooka. Kau sedang memiliki masalah. Aku sudah menduganya ...


... ceritakan kepadaku, Ai. Aku pasti akan membantumu. Tapi jangan dengan cara itu. Aku tak mau meninggalkanmu," ucapnya. Ah, dia membuatku semakin bingung. Meninggalkan laki-laki baik seperti dia, hah ... aku bertindak seperti seorang tokoh antagonis. Tapi keputusanku ini lebih baik daripada tetap bersama Rey. Karena hal itu sama saja dengan aku yang mengajaknya masuk ke dalam neraka.


"Itu ... aku tidak bisa mengatakan seluruhnya, tapi jika aku tidak melakukan ini ... maka hidupku dan hidupmu akan hancur." Sambil menunduk untuk menutupi mataku yang nyaris menangis, aku menjelaskan sedikit demi sedikit kepada Rey. Menjelaskannya tanpa harus mengatakan bahwa Reina lah yang memulai semuanya. "Aku tak ingin hal itu terjadi ... kau tahu, aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang pelukis. Dan kau juga memiliki mimpi menjadi seorang pianis terkenal. Kita berdua, kita berdua memiliki cita-cita masing-masing .... Jadi kupikir, lebih baik kita memfokuskan saja ke cita-cita kita dan melupakan yang lain. Benar kan?" lanjutku, menambah alasan agar ucapanku semakin kuat.


"Tidak ...


... lebih baik aku kehilangan mimpiku daripada harus kehilanganmu. Apa kau tahu bagaimana perasaanku akhir-akhir ini saat berada jauh darimu? Aku merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting. Hatiku terasa seperti ada yang kosong. Ai, kau itu sangat penting bagiku. Jika dipikir-pikir, karena kau lah aku bisa tersenyum saat ini. Karena kau lah aku bisa berteman dengan banyak orang. Karena kau lah ...

__ADS_1


... aku tahu betapa sakitnya rasa jika seseorang pergi dari hidupku. Kumohon, jangan pergi ...." ucap Rey seraya meraih tanganku kemudian mengenggamnya. Aku mendengarnya lagi, kalimat yang diucapkan Rey sangat mirip dengan ucapan Rin.


Apa maksud mereka aku begitu membantu dalam hidup mereka?


Kurasa, setiap hari aku hanya menjadi beban dan menyusahkan.


Aku tak bisa melakukan apapun selain menangis, menangis, dan menangis.


"Kenapa kau begitu tidak suka jika aku meninggalkanmu? Kurasa, setiap hari aku hanya bisa merepotkanmu saja. Apa kau tak menyadarinya? Kena–"


"Karena aku menyukaimu."


"A-apa?" Aku masih tak percaya dengan apa yang Rey katakan. Barangkali aku salah dengar.


"Ya. Aku menyukaimu," ucap Rey menjelaskan semuanya. Ah, ternyata aku tidak salah dengar. Syukurlah itu artinya aku masih bisa mendengar dengan baik. Eh tunggu ....


"Aku tak tahu sejak kapan aku menyukaimu. Emm ... mungkin, sejak pertama kali. Ya, saat bertemu denganmu aku langsung terpesona dengan wajah cantikmu. Hah ... kupikir, mungkin aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi setelah hari itu. Tapi, hei ... ternyata takdir mempersatukan kita lagi. Aku pindah ke sekolah yang sama denganmu, tidak ... bahkan aku pun bisa sekelas denganmu. Apa kau tahu itu? Saat aku tahu kalau kau juga ada di sekolah ini, aku mulai mendekatimu sedikit demi sedikit. Berbuat baik dan membuatmu tertawa. Melihatmu tersenyum adalah hiburan terbaik untukku. Jadi aku akan menjawab kenapa aku selalu setia denganmu, karena aku menyukaimu. Aishiteru yoo, Ai." Rey menggenggam tanganku erat dan menatap mataku seperti tatapan seorang anak kecil yang meminta sesuatu kepada kakaknya.


Tanpa kusadari, air mataku kembali mengalir. Aku juga tidak tahu, kenapa air mataku bisa tumpah begini. Padahal, aku merasa bahwa hatiku cukup kuat untuk menahan tangis. "A-ah ...." Aku melepas pegangan tangan Rey untuk mengusap air mataku.

__ADS_1


Kami pun sunyi senyap sesaat. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara. "Se-sebenarnya aku juga menyukaimu, Rey ...."


"Hah? Be-benarkah? Yosssh! Itu artinya maukah kau menjadi pacarku? Kita berdua akan menjadi pasangan yang serasi selamanya! Hahaha ... aku sangat senang!" Laki-laki itu bersorak kegirangan, sambil memegangi kedua bahuku.


"Gomen."


"Haaa ...! ... hem?"


"Aku tidak bisa menerimanya. Rey, aku memang menyukaimu dari dulu. Saat kita pertama bertemu. Tapi ... maaf. Aku benar-benar tidak bisa, maaf," kataku seraya menyingkirkan kedua tangan Rey dari bahuku.


Ekspresinya pun perlahan berubah menjadi kecewa. "Kenapa? Apa karena hal tadi? Kau serius ingin meninggalkanku? Hei, katakan padaku itu semua hanya bercanda, iya kan?" Rey melontarkan berbagai pertanyaan yang jelas membuatku semakin terdesak. Aku sudah tidak kuat di sini. Aku tak ingin melihat wajah Rey saat ini dalam waktu yang lama. Aku tak ingin melihat wajah seseorang yang sedang sedih karena perbuatanku.


Dengan cepat aku berdiri. "Maaf." Untuk yang kesekian kalinya aku mengucapkan kata maaf. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku pun berbalik dan lalu berjalan menjauh dari Rey.


Akan tetapi, baru beberapa langkah aku berjalan, Rey berteriak, "AI, AKU BENAR-BENAR MENCINTAIMU! SUNGGUH! JADI JANGAN PERGI! BUKANKAH KITA SUDAH BERJANJI UNTUK SELALU BERSAMA!?"


Langkahku refleks terhenti ketika suara teriakannya sampai di daun telingaku. Namun, aku sudah memutuskan, aku sudah memilih jalan hidupku.


Hari ini, aku merasa sangat bahagia karena mengetahui Rey menyukaiku. Rasanya, aku ingin berada di sini, menjadi kekasih Rey dan hidup bahagia. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Tetapi, meski kita akan dipisahkan jarak dan keadaan, tapi hati kita masih menyatu. Rasa suka satu sama lain tak akan pernah pudar. Rey, maafkan aku ... aku melakukan ini demi kita berdua. Aku tahu, aku tahu ini adalah pilihan yang sulit, tapi aku tahu ini juga adalah pilihan yang terbaik. Aku berjanji tak akan pernah melupakanmu sampai kapanpun, jadi kumohon percaya kepadaku! Izinkan aku untuk mengubah jalan hidupku untuk mendapat kebahagiaan yang kuinginkan!

__ADS_1


__ADS_2