Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 51 : Aku Bingung


__ADS_3

...Jalan hidup setiap orang telah diatur oleh Tuhan, kita hanya perlu menjalankan apa yang telah direncanakan. Meskipun terkadang, kita merasa bahwa hidup kita itu tidak adil. Ya, aku juga –Ai Mizhunashi (BEST GIRL)...


...\=•\=•\=...


Pulang sekolah saat itu, aku berjalan pulang sendirian. Biasanya Rey pasti datang untuk mengantarkanku pulang. Begitu juga dengan Rin, dia pasti akan muncul untuk sekedar meledekku dan Rey di kala sore hari. Tapi, hari ini ... mereka berdua tidak ada.


Hah ....


Aku menghela napas panjang seraya memegangi bekas tangan Reina yang mencekik leherku tadi.


Emm ...


Saat aku melihat luka di leherku ini, aku malah teringat kepada Ryuji. Dia ... dia telah ... hah ... aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang kulihat tadi.


Pertanyaan yang sama masih ada di kepalaku. 'Bukankah dia adalah sahabatku? Kenapa dia melakukan hal seperti ini?'


Ryuji ... hmmm ... jangan ingat hal itu lagi!


Ai, berhentilah mengingat hal itu!


Hah ... sudahlah, aku akan memikirkan hal ini nanti.


Akhirnya, aku pun bergegas pulang karena hari sudah semakin petang.


Entah bagaimana caranya agar aku bisa menghindar dari kemarahan ibu nanti.


Em, sepertinya aku tak akan bisa menghindari.


\=•\=•\=


"Aku pu ..." Saat sedang membuka sepatu yang kukenakan di kaki kanan, perhatianku langsung tertuju kepada seorang wanita dengan kacamata yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku majalah. "... lang." Ya, dia adalah ibu. Tubuhku pun seketika melemas saat melihat tatapannya.


Hah ...


Aku tahu aku pasti akan mendapat setidaknya tiga tamparan, tidak ... mungkin saja aku akan dikunci di kamar.


Aku tak mau terjebak dalam situasi yang mengerikan. Dengan langkah pelan penuh keraguan, aku berjalan masuk ke dalam kamar. Namun, saat aku memegang gagang pintu kamar, terdengar suara seseorang dari belakang.


"Kamu habis dari mana? Kenapa baru pulang?" tanya ibu dengan intonasi suara berat.


"Emm ... i-itu, a-aku harus piket sebentar, bu ... ja-jadi ...."


Selalu saja begini ...


Kenapa aku selalu kesulitan menjawab jika bertemu ibu, sih?


Saat mendengar tanggapanku, ibu pun berdiri dan berjalan menghampiriku. Beliau terlihat tidak menaruh bukunya, melainkan tetap dibawa. Kurasa, sebuah hal buruk akan terjadi kepadaku.


Ya, itu pasti.


"Kau mencoba membohongi ibumu sendiri ya, Ai? Cih ... sepertinya sekarang kau sudah mulai tidak benar." Ibu menatapku dengan tatapan sinis ... untuk yang kesekian kalinya.


Ibu kemudian mencodongkan badannya sedikit ke depan. "Apa kau 'kencan' dengan Rey, hm?" sambung ibu bertanya kepadaku.


Pertanyaan yang diberikan olehnya ... sedikit apa ya?


Em, sedikit ... arghh entahlah ... aku tak mau berpikir.


"Ti-tidak kok, Bu. A-aku dan Rey hanya sahabat saja," jawabku dengan badan gemetaran.


"Sungguh?" Ibu bertanya sekali lagi


"I-iya." Aku pun menjawabnya lagi.

__ADS_1


"Lalu, apa alasan yang membuatmu terlambat pulang? Jangan jawab karena piket, ibu tahu kalau kau berbohong. Karena hari ini bukanlah hari piketmu. Cepat jawab yang sebenarnya!" ucap ibu dengan amarah yang sepertinya sudah sampai puncak.


Melihat hal itu, tentu saja membuatku kebingungan. Ibu mengetahui bahwa aku tengah berbohong. Tapi, aku juga tak mungkin mengatakan yang sebenarnya kepada ibu. Bisa-bisa, masalahku akan bertambah banyak nanti.


"Hah ... i-itu ... i-itu karena ada kegiatan tambahan di klubz melukis hari ini, iya itu." Aku menjawab dengan jawaban ... ya ... jawaban yang sedikit masuk akal kurasa.


"Hmmm ...." Ibu menatapku dengan tatapan yang sama seperti tadi. Tatapannya seolah mengatakan bahwa dia tidak percaya dengan ucapanku. "Hah ... ya sudah. Cepat ganti bajumu dan bantu ibu menyiapkan makan malam," sambungnya.


"Eh?" Aku mengedipkan kedua kelopak mataku dua kali, menunjukan betapa tidak percayanya aku saat melihat reaksi ibu. Biasanya, dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan, tapi sekarang, dia percaya denganku.


"Ha? Tunggu apa lagi? Cepat!" perintah ibu.


"Eh? I-iya, Bu." Aku pun bergegas masuk ke dalam kamar. Meskipun aku agak sedikit bingung terhadap reaksi ibu. Tapi, ya sudahlah.


Saat sampai di kamar, aku langsung mengganti bajuku tanpa menunda-nunda. Namun, saat hendak membuka baju, tiba-tiba ponselku berdering. Saat kulihat, ternyata itu adalah notifikasi pesan. Dan ternyata ... itu adalah pesan dari Rey.


"Malam, Ai!" tulisnya untuk menyapaku.


Namun, aku tidak langsung membalas pesan Rey, karena aku kau tahu ... kembali teringat ucapan Reina. Ya, dia menyuruhku untuk menjauhi Rey.


Hah ...


Apa yang harus kulakukan sekarang?


Balas saja lah!


Eh, jangan ...


Hhhhh ... aku bingung.


Tiba-tiba, notifikasi hpku kembali terdengar. Hal itu menandakan bahwa ada pesan lainnya yang terkirim ke ponselku. Saat kulihat, ternyata itu adalah pesan Rey lagi.


"Ai?" tulisnya lagi.


"Ah, ternyata kau sedang repot, ya? Ya sudah. Nanti balas pesanku jika kamu membacanya, ya. Daah ...." Setelah menulis pesan itu, Rey langsung tidak aktif.


Aku pun menjadi bingung, masalahnya, jika aku tidak menjawab, aku takut Rey akan berpikir bahwa aku sedang marah padanya. Tapi jika aku menjawab, bisa saja masalah besar terjadi padaku.


Setelah berpikir panjang, aku memutuskan untuk membalas pesan Rey. Lagipula ini di rumahku, mana mungkin Reina mengetahuinya.


"Malam, Rey. Maaf, tadi aku harus menyiapkan makan malam untukku dan keluargaku haha," tulisku untuk membalas pesan Rey.


"Hm? Oooh, baiklah baiklah. Begini, Ai ... ada yang ingin kuceritakan kepadamu tentang kejadian yang kualami hari ini."


"Eh? Memang apa yang kau alami hari ini?" tanyaku.


"Makanya itu, aku ingin menceritakan kepadamu. Dengarkan, ya?"


Aku membaca pesan yang ditulis Rey dengan serius.


Masalah? Dia mengalami masalah?


"Baiklah, ceritakan saja! Aku akan mendengarkan," ucapku.


"Oke."


Status Rey berubah yang tadinya 'online' menjadi 'mengetik', menandakan bahwa dia sedang mengetik. Aku menjadi semakin penasaran.


Memang, apa yang terjadi kepada Rey?


Dia masih mengetik. Dua menit sudah berlalu, tapi dia tak kunjung selesai mengetik. Kurasa, dia ingin menceritakan semuannya.


Pada saat yang bersamaan, pintu kamarku terbuka. Perhatianku pun langsung tertuju kepada pintu kamar yang terbuka.

__ADS_1


"Ya ampun, kamu masih belum ganti baju? Apa yang kamu lakukan daritadi?!" tanya ibu dengan suara marah.


"Eh, i-itu, Bu–"


"CEPAT GANTI BAJU!"


"I-iya, Bu."


Tak lama setelah itu, ibu keluar dari kamar. Sepeninggal ibu, aku pun bergegas mengetik dan mengirim pesan kepada Rey.


"Rey, aku ada urusan sebentar. Jadi, curhatnya nanti saja, ya?"


Status Rey langsung berubah yang tadinya 'mengetik' menjadi 'online' lagi. Lalu, menjadi 'mengetik' lagi.


"Ah, baiklah. Sepertinya kau memang sedang repot. Ya sudah, akua akan menceritakan semuanya besok saat di sekolah saja, ya?" tulis Rey dengan diikuti stiker berekspresi tertawa kecil.


"Ok. Maaf ya, Rey?"


"Daijobou da no."


Itu adalah akhir pembicaraan kami. Aku langsung keluar kamar untuk membantu ibu menyiapkan makan malam.


\=•\=•\=


Miku (Si Othor) : "Ok, Rin ... kamu semangatin temen-temen yang lagi puasa terakhir, ya?"


Rin : "Oklah."


Rin : "Gess, semangat puasanya. Ini hari terakhir, lho! Masa mau batal sih. Aku aja full, lho! Nanti kugigit kalau batal."


Miku (Si Othor) : "Posenya yang lebih imut, biar cowok pada suka sama kamu."


Rin : "Nggak mau."


Miku (Si Othor) : "Cepet!"


Rin : "Nggak!"


Miku (Si Othor) : "CEPET!"


Rin : "DIBILANG NGGAK MAU YA NGGAK MAU, hmp!"


Miku (Si Othor) : "I-iya deh."



(Ini Rin ketika lg ngambek :v)


\=|\=|\=


Yep, sesuai yg diomongin sama Rin. Semangat puasa terakhirnya ya!


Q. Kenapa cuma Rin yang ngomong?


Karena dia satu-satunya tokoh di sini yang menjalankan ibadah puasa awokawok


Q. LAMA KALI UPNYA KUTENGOK?!


YA MAAP LAH, AKU NI BANYAK TUGAS TAU. Dan, hari ini aku sama my pemely masak rendang eee. Tapi kuusahain up secepatnya kok. CMIIW


Salam hangat muach muach dari Miku! Ih aku kok jijik sih ...


__ADS_1


(Its me)


__ADS_2