Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 9 : Guru atau Model?


__ADS_3

...Penampilan yang sangat nyentrik! Guru dengan gaya model....


...\=×\=×\=...


Sepertinya Bu Kizuha telah selesai menerangkan. Dia menutup kembali spidol yang digunakan untuk menulis di papan tulis tadi dan menaruhnya di meja.


"Baiklah ... catat dulu materi di papan tulis ini, ya! Ibu tunggu kalian. Karena setelah ini akan ada tugas!" perintah Bu Kizuha seraya berjalan ke kursinya.


"Baik, Bu!" jawab para siswa bersamaan.


Aku dan para murid lainnya pun melaksanakan perintah Bu Kizuha supaya tidak terkena masalah. Meski aku belum pernah merasakan hukuman Bu Kizuha, tapi aku sudah pernah melihatnya. Sering kali wanita itu menghukum siswa dengan cara bervariasi.


Misalnya, jika ada siswa yang lalai dalam mengerjakan tugasnya, maka dia tidak segan-segan melayangkan sebuah buku tebal ke arah wajahnya. Jika yang melanggar adalah murid perempuan, maka dia akan mengurangi hukumannya. Mungkin hanya disuruh belajar di depan kelas, itu saja.


Meski begitu, Bu Kizuha tetaplah mengerikan. Jangankan merasakan, membayangkan hukumannya pun sudah membuatku bergidik ngeri. Tatapannya yang tajam layaknya tatapan elang dan suara tegasnya yang seperti pemimpin barisan, selalu berhasil membuat murid-murid ketakutan. Hahhh ...


Aku menulis satu per satu kata yang ada di papan tulis dengan pena hitam kesayanganku. Satu satunya pena yang kumiliki. Aku membeli pena ini saat aku baru masuk SMA. Aku takut untuk meminta ibu membelikan pena lagi. Lagipula, pena ini masih bagus.


"Sudah?" tanya Bu Kizuha.


"Sudah!" jawab sebagian murid. "Belum!" sahut sebagian murid yang lainnya.


Terdengar dari suaranya, tampakya yang belum selesai mencatat itu adalah kebanyakan murid laki-laki.

__ADS_1


"Bagi, yang belum silakan dilanjutkan!" suruh Bu Kizuha sembari beranjak dari kursinya dan kemudian mengambil kertas polos tadi. Dia berjalan ke arah kami. Wanita itu membagikan kertasnya ke setiap bangku siswa, termasuk aku.


Setelah mengitari dan membagikan kertas ke seluruh siswa di kelas, Bu Kizuha kembali ke depan dan berdiri.


"Hari ini tugasnya adalah membuat essai tentang IBU. Kalian bebas menuliskan apapun, asalkan berkaitan tentang ibu kalian. Misalnya, kamu ingin menulis tentang kasih sayang ibumu ... boleh. Atau kamu ingin menuliskan tentang ibumu yang selalu melindungimu ... juga boleh. Batas essai adalah satu halaman kertas. Tidak boleh lebih! ... sampai sini, sudah paham?!" Bu Kizuha menjelaskan secara rinci agar tidak ada yang kebingungan. "Baiklah, tidak ada yang menjawab, itu artinya kalian sudah paham. Boleh dikerjakan mulai dari sekarang!" ujarnya.


"Hahh ...." Rey menghela napas seraya mengambil kertas polos tadi.


Begitu juga denganku, aku pun mengambil kertas putih tanpa tulisan tersebut. Hanya membuat essay, 'kan? Semua orang pasti bisa membuatnya. Tapi kenapa perasaanku tiba-tiba menjadi tidak enak seperti ini? .... Aku mengambil pena dan bersiap menulis essay. Namun saat baru menyentuhkan ujung pena dengan lembar kertas, aku baru sadar apa yang menggangguku saat ini.


Tanganku mendadak berhenti sehingga membuat penaku terjatuh. Aku menatap kertas itu dengan tatapan kosong, tanpa memikirkan apapun.


'Apa ... yang harus kutulis?' tanyaku pada diri sendiri dalam batin.


Aku baru menyadari bahwa tema essay ini sangat sulit bagiku. Bagaimana tidak? Apa yang harus kutulis? Bu Kizuha mengatakan bahwa tema essay adalah tentang ibu. Namun, apa yang harus kutulis dari ibuku? Kasih sayang?


Aku melihat sekeliling, tampaknya murid-murid lainnya sudah mulai menulis. Sama halnya dengan Rey. Setengah bagian kertasnya terlihat sudah terpenuhi oleh tulisan. Tapi aku ... aku bahkan belum menulis satu kata pun.


Atensiku teralihkan kepada jam dinding yang menempel di atas papan tulis. Jarum jam sudah menunjuk pukul 9. Siang hari hampir tiba, itu artinya jam pelajaran Bahasa Jepang akan segera berakhir. Huft ... tidak ada pilihan lain. Jika aku tidak segera menulis, maka aku akan mendapat hukuman dari Bu Kizuha nanti.


Aku mengambil penaku dan mulai menulis. Kata demi kata dan paragraf demi paragraf pun mulai terlihat di kertasku. Aku menulis tanpa berpikir panjang. Pokoknya apa yang terlintas di kepalaku, itu langsung kutulis.


Suasana kelas terasa sangat hening. Namun, kesunyian itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba terdengar suara nyaring sesuatu.

__ADS_1


Kringgg ...


Bel tanda akhir pelajaran telah terdengar. Beruntung, pada saat itu, aku juga sudah menyelesaikan essay-nya. Aku menghela napas lega karena berhasil menyelesaikan tugas berat ini.


"Baiklah ... selesai atau tidak, kumpulkan sekarang juga!" perintah Bu Kizuha dengan satu tangan menyangga dagunya.


Yuki berdiri untuk mengumpulkan essay buatannya. Kemudian, murid lainnya pun mulai mengikuti jejaknya. Aku dan Rey berjalan maju bersama untuk mengumpulkan tugas. Saat sampai di mejanya, Bu Kizuha terlihat sedang menatapku. Tatapannya sangat mengerikan. Bahkan, aku nyaris terjungkal.


"Kenapa?" tanyanya seraya menatapku.


Aku tertegun dan bingung harus menjawab apa. Namun tiba-tiba, Rey menyahut, "Ah tidak apa-apa kok, Bu. Baiklah kalau begitu, kami kembali dulu ... ayo, Ai!"


"Hm," jawab Bu Kizuha singkat, padat, tapi tak jelas maksudnya.


Rey menyeret tanganku dan mengajak duduk di bangku kembali. Aku tersenyum, seraya berujar, "Terima kasih, Rey."


Rey menoleh ke arahku. "Tidak perlu dipikirkan. Lagipula, itu bukanlah hal yang sulit. Lain kali, jangan tatap wajahnya lagi, ya! Karena wajahnya memang sedikit mengerikan Hahaha ...," ucapnya dengan diiringi candaan di akhir.


Setelah mendengar ucapan Rey, aku juga ikut tertawa kecil. Aku sudah tidak ingat, berapa kali Rey membantuku. Setiap ada masalah, dia selalu ada untuk membantu. Bukan hanya membantu dalam hal fisik, dia juga selalu bersedia menjadi tempat bersandar di saat aku mulai putus asa. Perlahan, aku sudah mulai merasa nyaman dengannya. Apa ini yang disebut ... cinta?


Kami berdua duduk di bangku masing-masing lagi. Semua murid terlihat sudah mengumpulkan tugas essaynya. Bu Kizuha merapikan kertas-kertas tugas kami yang terlihat berantakan.


Saat sudah selesai merapikan, Bu Kizuha bangkit dari duduknya dan membawa hasil tugas essay kami. "Jam pelajaran hari ini telah berakhir. Terima kasih karena kalian sudah mengerjakan tugasnya tepat waktu. Ibu akan mengoreksi tugas kalian. Karena ini akan masuk ke dalam nilai akhir. Baiklah, sekian. Sayonara!" ujar Bu Kizuha.

__ADS_1


"Sayonara, Kizuha sensei!" balas siswa dan siswi di kelas.


Bu Kizuha berjalan keluar dari kelas kami dengan gaya layaknya seorang model. Menurutku, dia memang guru yang paling mementingkan kecantikan di antara guru-guru lainnya. Bahkan saat itu, aku pernah melihatnya berdandan di tengah-tengah rapat guru. Benar-benar guru yang cantik.


__ADS_2