
Keesokan harinya, seperti biasa aku berangkat ke sekolah. Sambil membawa tas hitam di tanganku, aku berdiri di depan gerbang sekolah. Entah kenapa aku punya firasat buruk hari ini.
Saat aku sampai di lorong sekolah, aku melihat Rin berlari dari kejauhan. Melihat ekspresinya yang panik seperti itu ... kurasa memang benar. Sesuatu terjadi kepadaku.
"Ai! Ai! A-apa maksudnya ini?" tanya Rin gelisah seraya menunjuk ke ponselnya.
"A ... apa?"
"Ini!" Ia menunjuk ponselnya lagi dengan ekspresi wajah yang masih terlihat panik.
Karena penasaran, aku pun melihat ke layar ponselnya. Hmm ... itu hanya web komunitas seko–
"Hah?!" Aku terkejut tak terhindarkan ketika aku melihat ternyata yang Rin tunjuk adalah komentar-komentar tentang aku.
"Hei, benar-benar gadis yang buruk. Padahal kukira dia adalah gadis yang ramah dan pendiam," tulis seseorang dengan nickname Hidemi.
"Berani sekali dia, memukul seorang gadis populer di sekolah."
"Apa dia gila? Tch, bodoh sekali."
"Mizhunashi Ai ya? Baiklah, aku akan mulai menjauhinya. Hiii ... menakutkan."
Rin menarik kembali ponselnya dan lalu mengatakan, "Ai, jelaskan ... apa kau benar-benar memukul Reina?" Rin bertanya kepadaku.
Ah. Aku menyadarinya, ternyata mereka sedang membicarakan video hasil edit Reina dan pamannya. Ketika mengetahui itu, aku mengubah raut wajahku menjadi tersenyum.
"Rin, kau percaya padaku, kan?" Aku sengaja tak menjawabnya, akan tetapi malah berbalik tanya.
Rin terdiam beberapa saat. "Apa maksudmu? Tentu saja aku percaya padamu. Aku hanya–"
__ADS_1
"Syukurlah ... itu berarti aku masih memiliki alasan untuk tetap hidup hihi .... Rin, kau tak perlu khawatir begitu ... percaya saja kepadaku. Semua akan baik-baik saja ...," ungkapku berupaya untuk menenangkan Rin. Aku harus tersenyum di depannya. Dia tidak boleh mengetahui apapun tentang masalahku dan Reina.
"Ai ...."
"Tcaa ... aku ke kelas dulu, ya? Sebentar lagi masuk jam pelajaran. Sebaiknya kau juga kembali ke kelasmu ...
... mata nee, Rin!" Setelah mengucapkan hal itu, aku berjalan langkah demi langkah melewati Rin. Senyumanku yang kutunjukkan kepadanya juga mulai pudar. Ya, sekarang sudah aman, dia tak bisa melihatku saat ini.
"Heii ... bukankah dia adalah gadis yang dibicarakan di web komunitas sekolah? Ai Mizhunashi ya?"
"Kurasa benar, itu memang dia," sahut salah satu siswi lainnya.
Namun, aku tak mempedulikannya, aku sudah terbiasa dengan hal ini. Lagipula, kenapa aku harus mempermasalahkan omongan orang lain yang sebenarnya tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
Aku terus berjalan tanpa menengok ke samping. Saat aku sampai di kelas, tiba-tiba seluruh kegiatan murid-murid yang ada di sana langsung berhenti. Seluruh mata tertuju kepadaku, termasuk Rey.
Bahkan, sampai aku duduk di bangkuku pun mereka tak berhenti menatapku.
Aku menundukkan kepalaku. Meskipun aku tahu ini tak bisa membuat mereka membungkam mulut mereka sendiri, tapi setidaknya aku bisa menghindari untuk menatap wajah-wajah orang yang menuduhku.
"Dia ramai dibicarakan di web komunitas sekolah .... Sungguh, dia benar-benar melakukannya. Lihatlah video ini!" Hori memperlihatkan ponselnya kepada seorang gadis di sampingnya. Kalau didengar dari suaranya yang berat, ini adalah ciri khas Okita Nara, gadis terpopuler di kelas kami.
"Hmm ... apa ini benar-benar Ai? Kurasa tidak. Kameranya menyorot dari sisi belakang, kita tak tahu bagaimana bagian depannya, iya kan?"
Aku kembali terkejut. Tak terhitung sudah berapa kali aku terkejut akhir-akhir ini. Yang kudengar, tidak salah bukan?
Okita mengatakan kalau gadis yang ada di video bukanlah aku. Jadi, itu artinya dia mempercayaiku.
"Be-benar ... tapi, Okita. Yang mengunggah video ini adalah kepala sekolah sendiri. Kurasa ...."
__ADS_1
"Lalu, kenapa? Hanya jika yang mengunggah video itu adalah kepala sekolah, kau langsung percaya begitu? Apa kau lupa? Kepala sekolah adalah paman Reina. Mungkin saja, Ai memiliki masalah dengan Reina tapi gadis itu membalasnya dengan tindakan seperti ini?"
"I ... tu ... mungkin saja."
Okita tersenyum sembari mengucapkan, "Untuk saat ini, sebaiknya kita harus menyemangati Ai. Apapun itu, Ai adalah teman kita, teman sekelas kita. Jadi, sudah kewajiban kita sebagai teman untuk melindunginya!"
Gadis yang ada di dekat mereka mendadak memasang wajah aneh tatkala melihat Okita berteriak selayaknya presiden.
Dia ... Okita mempercayaiku. Akhitnya aku menyadari bahwa masih ada orang lain yang berada di pihakku.
Aku memandanginya dengan tatapan kosong. Dia juga menatapku sambil tersenyum. Okita seolah ingin berpesan kepadaku untuk tidak khawatir dengan hal ini.
"Ya ... setidaknya masih ada yang percaya padaku selain Rin."
Aku menenggalamkan wajahku di meja sambil berusaha untuk tetap tenang. Tak ada yang kulakukan lagi setelah itu. Tidak sampai Bu Mai masuk ke kelas untuk memulai pelajaran matematika hari ini.
Ah, aku tidak mood belajar hari ini. Tapi mau bagaimana lagi ....
"Anak anak, selamat pagi!" sapa wanita yang kerap disapa Mai-sensei tersebut.
"Pagi, Mai-sensei!" Semua murid di kelas menjawab sapaannya, termasuk aku. Meskipun tidak terlalu keras suaranya.
Bu Mai menaruh buku materi matematika di mejanya. "Baiklah, hari ini kita akan melanjutkan materi yang kemarin. Ibu akan menjelaskannya, kalian mencatatnya, ya!"
"Baik!"
Untuk saat ini, sebaiknya aku lupakan saja tentang masalah itu. Kurasa, belajar lebih penting.
\=•\=•\=
__ADS_1
Makasih buat yang mau likeee... hari ini today, Miku upnya dua chapter minna. I hope, u like it!