
...Jika kau diberi dua pilihan sulit, maka ikuti kata hatimu untuk memilihnya. Meski keputusan yang kau buat berbahaya sekalipun –Hakuba Tamashi...
...\=•\=•\=...
"Kau ... sebenarnya apa yang Rey lihat darimu? Lihatlah, penampilanmu bahkan terkesan murahan. Kau juga gadis yang jarang tersenyum. Kenapa Rey malah memilihmu, hm?!" Reina semakin menguatkan cengkaraman tangan yang ada di leher Ai.
Namun, sebelum gadis keturunan orang kaya itu bertindak lebih jauh, Shouko berteriak dari belakang, "Hei Reina! Jangan cekik dia terlalu kuat. Jika dia mati, maka masalah pasti akan menimpamu, tidak, bahkan kita semua." Shouko memperingatkan sahabatnya tersebut.
Setelah mendengar kata-kata Shouko, Reina menatap wajah Ai yang terlihat sangat kesakitan. "Grhh ...." Gadis bermarga Miyamoto ini pun melepas cengkaraman tangannya sehingga Ai lepas. "Hah ... ya, kau benar. Aku tak ingin dicap sebagai gadis pembunuh di sini." Dia menghela napas dengan wajah yang tampak masih kesal.
Sementara Ai, dia memegangi lehernya yang terasa sangat sakit.
"Tenangkan dirimu, Reina! Tujuanmu adalah membuat dia mengikuti rencanamu dan bukan membunuhnya," ujar Ryuji seraya berjalan mendekati Reina.
Ketika melihat Ryuji berjalan mendekati Reina, Ai pun seketika menjadi bingung. Dia menatap sahabat yang sudah dia percayai itu dengan tatapan kebingungan.
"Kenapa Ryuji memihak Reina? Bukankah dia sahabatku dan juga Rey? Ryuji? Sebenarnya apa yang terjadi?" Itu adalah pertanyaan yang ada di pikiran Ai saat ini.
"Heih, kenapa kau terlihat kebingungan begitu, Ai? Eh, tunggu dulu. Kurasa aku tahu apa yang membuatmu bingung. Kau pasti bingung karena melihat Ryuji ada di pihakku bukan?" tanya Reina sambil berjalan mendekati Ai.
__ADS_1
Namun, gadis kelahiran Kota Tokyo ini tidak menjawab pertanyaan Reina. Dia hanya diam membisu dan sesekali membuang wajahnya agar tidak menatap wajah Reina selalu. Antara bingung dan juga tidak percaya, Ai mengalami perasaan itu saat ini. Dia bingung dengan Ryuji yang memihak Reina dan juga dia tidak percaya bahwa Ryuji mengkhianati kepercayaanya.
"Ara ara, kenapa kau tak menjawab, Ai? Oh, sepertinya kau sudah mengaku kalah. Ya, baiklah, kalau kau benar-benar ingin melaksanakan rencanaku, maka kurasa aku harus pulang." Reina tersenyum sembari menepuk bahu Ai pelan dan kemudian berjalan menjauh dari tempatnya berdiri tadi.
"Aku tak mengatakan bahwa aku setuju bukan? Hei, sampai kapanpun itu, aku tak akan mau. Rey adalah kekas–hm tidak, maksudku sahabatku. Bukankah sudah kujelaskan bahwa dia telah membantu hidupku? Maka dari itu, aku ingin membalasnya. Jika bukan dengan cinta, setidaknya aku bisa membalasnya dengan kasih sayang antar sahabat. Sebagai seorang sahabat, aku tak akan membiarkan Rey jatuh ke dalam hubungan pemaksaan sepertimu ini," ucap Ai dengan penuh keberanian. Meskipun sebenarnya hatinya sangat ketakutan, tapi demi orang yang dia sukai, ia pun berani menentang perasaannya.
Jika biasanya, Ai akan menangis dan menangis jika dia dalam masalah, pada saat ini dia tidak begitu. Sekarang, Ai merasa bahwa dirinya tidak perlu takut lagi. Karena sekarang dia telah memiliki tujuan, yaitu membalas kebaikan Rey. Ai menyadari bahwa ternyata dia memiliki musuh dalam masalah memperebutkan cinta Rey, maka dari itu, dia pun mengubah tujuan hidupnya. Sekarang, dia telah yakin, dia telah merubah arah hidupnya tanpa ada rasa ragu.
Setelah mendengar ucapan Ai tersebut, Reina pun berhenti berjalan. Dia berbalik menatap Ai. "Nee, sepertinya kau memang keras kepala. Tak kusangka kau bisa menentang seperti itu, Ai. Kukira ... kamu hanya gadis yang lemah dan cengeng. Ya, sepertinya aku salah. Emm ... ya sudah jika itu maumu. Maka aku terpaksa melakukan hal yang agak sedikit tidak wajar. Padahal aku sudah memberikan tawaran yang bagus tadi. Tapi kamu menolak." Reina kembali berjalan mendekati Ai. Sementara Ryuji dan Shouko masih berada di tempatnya semula.
"Hei, begini ... untuk yang terakhir kalinya. Aku akan memberikan tawaran untuk yang terakhir kalinya. Tapi, tawaran ini sangat bagus. Jika kau meninggalkan Rey, maka kau akan bersekolah di SMA Unggulan di Kota Tokyo. Kalau masalah uang, jangan dipikirkan, aku akan melunasi semuanya. Bagaimana?" Sekali lagi, Reina memberi tawaran kepada Ai.
"Nee, aku benar-benar tidak menyangka ternyata kau bisa marah-marah seperti ini, lho! Waah, kau berhasil mengejutkanku hahaha .... Ara ara, baiklah, baiklah, tunggu sebentar. Kau bilang bahwa aku bisa melakukan apapun kepadamu asalkan aku tidak melanjutkan rencanaku ini, kan? Hihi .... Tapi, apa jadinya jika aku imelakukan keduanya?" ujar anak dengan gelar 'ketua Black Blood' tersebut.
"A-apa maksudmu?"
"Ya, maksudku adalah, apa jadinya jika aku menyengsarakan hidupmu tapi aku akan tetap merebut Rey? Hihi ... bukankah itu adalah hal yang sangat bagus? Emm, bagaimana kalau begini saja. Jika kamu tak mau menuruti rencanaku, maka aku akan memberi tahu ke pamanku yang adalah kepala sekolah di sini, untuk membuat semacam isu isu buruk tentangmu, sehingga kau dibenci oleh seluruh siswa dan guru. Eh tunggu, kurasa itu kurang kejam, eem, bagaimana kalau dikeluarkan dari sekolah saja? Ya ya? Nah, jika kamu tidak mau, maka aku akan bilang kepada pamanku untuk mengeluarkanmu dari sekolah ini. Ara ara, itu ide yang sangat bagus!" Reina tersenyum puas dengan tangan menyatu satu sama lain.
Perkataan Reina kembali membuat Ai terdiam. Gadis bermarga Mizhunashi ini tak bisa menaggapi ucapan Reina. Karena, Ai tak bisa menyanggupi keduanya. Dia tak bisa meninggalkan Rey tapi dia juga tidak mau dikeluarkan dari sekolah.
__ADS_1
Apa yang harus kulakukan?
Itu adalah kata-kata yang dipikirkan oleh Ai saat ini.
"Yaa, kurasa hal ini bisa membuat kau tidak keras kepala lagi. Ingat, Ai ... pikirkan baik-baik. Bukankah kau ingin menjadi seorang pelukis yang hebat? Sayang bukan jika kamu tidak bisa bersekolah lagi? Hihi .... Aku akan mengawasimu. Dan jika kau tak melaksanakan apa yang aku katakan, maka ya aku terpaksa menyuruh pamanku untuk mengeluarkanmu dari sekolah. Hihi ... daah, Ai~" Reina tersenyum kepada Ai dan berjalan menjauh.
Sama halnya dengan Reina, Shouko dan Ryuji juga berjalan menjauh dari halaman belakang sekolah. Sementara Ai, dia hanya terdiam. Semua keyakinan yang kuat tadi pun langsung lenyap seketika dan berubah menjadi perasaan tak percaya.
...•°•°•°•...
Aaaa ... makacih banyak buat semua yang udah setia dan memang benar-benar baca cerita ini. Miku gak nyangka Aishiteru udah 50 eps dan ini bahkan baru mulai ceritanya. Padahal di angan-angan Miku itu, ceritanya tamat di eps sekitar 67-73 aan. Tapi kayaknya bakal sampe ratusan deh. Pokoknya makasih banget yang udah mau baca ceritaku hiks.
Q. Kenapa Miku nggak promosi karya biar banyak yang like?
Ya, Miku sih udah males promo ya. Sama kek Ai, sekarang Miku udah milih jalan hidup sendiri. Dulu Miku emang suka kalo banyak yang like. Tapi akhirnya Miku sadar kalau itu gak bisa buat Miku semangat ngelanjutin cerita. Miku baru tau kalo Miku itu butuh pembaca yang bener-bener baca dan bukan minta feedback atau apalah. Pokoknya makasih deh.
Q. Jadi, masih lama nih?
Masih dung, orang ini aja baru cerita pertama. Oh ya, nanti mungkin eps eps mendatang bakal sedikit greget ya. Soalnya ... ya baca aja nanti ya hehe
__ADS_1
Arigatou Gozaimashita