
...Hari pertama masuk klub melukis, aku sudah dikejutkan dengan pertarungan sengit antar senior....
...\=•\=•\=...
Dia mengulurkan tangannya kepadaku. "Salam kenal, ya. Um ... kalau boleh tahu, siapa namamu? Ji-jika kau tidak mau memberi tahu, tidak apa-apa kok hehe ...," ucapnya seraya tertawa kecil.
Aku meraih tangannya dengan ragu. "A-aku, Ai Mizhunashi," ujarku memperkenalkan diri.
"Ai Mizhunashi, ya? Umm ... aku akan memanggilmu Mizhunashi saja ... eh tidak tidak ... maksudku Ai saja," ujarnya sambil menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.
"I-iya," ucapku canggung. Seperti biasanya, saat berbicara dengan orang yang belum akrab, aku akan menjadi canggung. Sama seperti saat bertemu Rey pertama kalinya saat itu.
"BAIKLAH, SILAKAN MASUK SATU PER SATU! TETAP TERTIB DAN JANGAN BERDESAK-DESAKAN!" perintah senior yang kulihat tadi.
Rin menarik tanganku. "Ayo, Ai! Kita masuk bersama!" ajaknya sambil berjalan berbaur dengan antrian.
"Ee-h ba-baiklah." Aku hanya bisa pasrah dan menuruti ajakan Rin. Meski begitu, rasa curiga dan tak percaya juga masih ada di hati ini. Namun, aku lebih memilih untuk mencoba percaya kepada orang lain selain Rey. Hah ... semoga saja dia bukan orang bertopeng yang menutupi sifat aslinya dengan kebaikan palsu.
Aku dan Rin sampai ke dalam ruangan. Saat baru beberapa langkah, aku memijakan kaki di dalam, pandanganku langsung menangkap pemandangan-pemandangan indah. Lukisan-lukisan luar biasa menempel di dinding. Ada yang menggunakan objek manusia, hewan, tumbuhan, dan bahkan lukisan abstrak. Semuanya ada di sini.
Di bawah lukisan itu, terdapat nama-nama seniman yang telah membuat karya luar biasa ini. Seketika, aku pun berpikir, bahwa suatu saat nanti, lukisan dan namaku akan diabadikan di sini. Aku akan berusaha untuk menggapai hal itu.
"Halo semuanya, selamat sore!" sapa seorang gadis bermata coklat dan rambut berwarna senada dengan matanya. Dengan postur tubuh yang sangat ramping, dia terlihat sangat molek. Bahkan, siswa laki-laki di sini langsung terpana saat melihatnya. "Semoga kalian masih memiliki semangat untuk belajar, ya! Karena biasanya, murid-murid di sekolah itu akan mengantuk dan kehilangan semangat saat sudah melewati jam satu siang. Benar, 'kan?" lanjutnya melontarkan candaan yang sangat mencerminkan diriku dan siswa-siwa lainnya.
"Hehehe ...." Semua murid-murid di sini pun tertawa karena merasa malu.
Gadis tadi tersenyum. "Hihi ... jadi memang benar, ya? Tidak apa-apa. Jujur, kakak dulu juga sering begitu hehe .... Tapi, semoga saja kalian bersungguh-sungguh dalam belajar melukis. Karena, kunci dari kesuksesan adalah berusaha," ucapnya memberikan motivasi-motivasi dengan gaya santai, agar kami tidak takut dan nyaman saat belajar.
"Umm ... eh iya, aku belum memperkenalkan diri, ya? Ahaha ... aku hampir lupa. Perkenalkan, namaku adalah Hakuba Tamashi. Kalian bisa memanggilku Kak Hakuba, atau kakak cantik juga boleh," ungkap gadis itu memperkenalkan diri. Ternyata, dia bernama Hakuba.
__ADS_1
"Eleh ... cantik katanya," sindir seorang laki-laki dari belakang.
Kak Hakuba menoleh dan melirik ke arah orang yang menyindirnya tadi. "Diamlah!" ujar Kak Hakuba yang berhasil membuat laki-laki itu diam seketika.
"Baiklah, kita kembali fokus kepada klubnya. Hari ini, kita masih belum memulai pelajaran melukis, lebih tepatnya perkenalan terlebih dahulu. Karena kakak dan yang lainnya ingin mengenal lebih dekat dengan kalian," kata Kak Hakuba sambil tersenyum ramah, menambah level kecantikannya. Dia meminta kami untuk memperkenalkan diri masing-masing.
"Mulai dari kamu! Ayo maju ke depan!" pinta Kak Hakuba seraya menunjuk kepada seorang laki-laki berambut hitam yang duduk di depan.
"Ee ... a-aku?" tanyanya kebingungan.
"Iya, kamu! Masa pacarku," lanjutnya.
Laki-laki itu terdiam sesaat. Sepertinya, dia tidak mau maju ke depan.
"Heee ... ayolah!" Kak Hakuba menarik tangannya ke depan kelas.
"Baiklah, lihat dia! Rambut hitam yang ditata dengan rapi, membuatnya terlihat sangat tampan, bukan?" Kak Hakuba memegang erat bahu kanan laki-laki itu. Gadis itu kemudian mendekatkan mulutnya di dekat telinga laki-laki berambut hitam tersebut. "Jangan malu, kita semua teman di sini. Ayo, perkenalkan dirimu!" bisik Kak Hakuba dengan posisi tubuh yang sangat dekat dengan laki-laki itu. Bahkan, dadanya pun terlihat menempel lekat. Para murid laki-laki lainnya menjadi iri saat melihat dia.
"Tck, dasar laki-laki mesum. Kenapa kaum laki-laki sangat menyukai dada wanita, sih?!" tanya gadis yang duduk di sampingku dengan ekspresi kesal tetapi imut. Dia tak lain dan tak bukan adalah Rin. "Menurutmu bagaimana, Ai? Apa dadaku ini tidak menarik sama sekali? Semua laki-laki tidak mau mendekatiku karena katanya aku kurang menarik ... hmpphh ...," lanjutnya geram.
Aku tersenyum terpaksa. "Ti-tidak tahu, Rin. Aku bukan laki-laki, jadi aku tidak tahu apa-apa tentang ini," ucapku sekenanya untuk menanggapi Rin.
Dia menatapku. "Kau benar. Mungkin, besok aku akan meminta laki-laki untuk mengecek ukuran dadaku ini," pikir Rin. Tunggu, kenapa dia jadi berlebihan seperti ini.
"Ja-jangan begitu. Bu-bukannya aku melarang, hanya saja, bukankah tidak baik, jika membiarkan orang lain menyentuh area pribadi kita? Apalagi dia adalah lawan jenis," ucapku memberikan penjelasan.
Rin memejamkan matanya dan berpikir sejenak. Tak lama kemudian, Rin membuka matanya lagi. Pandangannya langsung tertuju kepada bagian dadaku.
"Ai ... biarkan aku mengecek ukuran dadamu. Bukan apa-apa, hanya saja aku ingin membandingkan milikmu dengan milikku," ujar Rin mengucapkan kata-kata yang tidak masuk akal.
__ADS_1
"Hm? Heee ... a-apa maksudmu? Tidak-tidak ...." Aku menutupi bagian pribadiku.
"Hei, jangan malu begitu. Kita sama-sama perempuan tau." Rin bersikeras memegang dadaku. Dia tidak menyerah sama sekali. Namun, aku juga tidak menyerah dalam mempertahankan diriku.
"Ai, ayolah!" Bukannya berhenti, Rin malaj semakin menjadi
"Tidak! Rin, jangan begitu!" Aku menahan wajahnya dengan tanganku.
"HEI KALIAN BERDUA YANG DUDUK DI BELAKANG! JANGAN SIBUK SENDIRI!" bentak senior laki-laki yang tadi menertibkan kericuhan murid-murid di luar.
Aku dan Rin langsung berhenti bergerak. Semua pandangan langsung tertuju kepada kami berdua.
"Aa ...." Rin membuka mulutnya akan tetapi tidak mengucapkan sepatah katapun. Bayangkan, betapa malunya kami saat ini.
"Maafkan kami ... kami menyesal ...." Aku dan Rin meminta maaf karena telah membuat keributan.
Kak Hakuba tersenyum ramah. "Tidak apa-apa. Lain kali, jika ada orang yang sedang menerangkan di depan, maka kalian harus memerhatikannya, ya!" ucap Kak Hakuba menasehati kami dengan lembut.
"Hei, Hakuba! Kenapa kau malah membiarkan mereka? Seharusnya mereka di beri pelajaran!" sahut senior laki-laki tadi. Sepertinya dia tidak setuju dengan tindakan Kak Hakuba yang membiarkan kami dan hanya memberikan nasehat.
Kak Hakuba menghela napas berat. Dia mengubah posisi badannya menjadi berbalik dan menatap laki-laki itu. "Diamlah, Haru! Mereka adalah remaja! Wajar saja kalau mereka seperti itu," balas Kak Hakuba.
"Ta-tapi ... mereka berdua sudah keterlaluan!" ujar laki-laki itu yang ternyata bernama Haru.
"Sstt ... apa kau ingat saat kau pertama kali masuk ke dalam klub? Saat itu, kau bahkan tak sengaja merusak meja di sini. Tapi, mereka memaafkanmu, karena kau tidak sengaja," kata Kak Hakuba yang lebih mengarah ke menyudutkan Kak Haru.
"Heehh ...," gumam Kak Haru kesal.
Maafkan aku. Karena aku, kalian malah bertengkar seperti ini.
__ADS_1