Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 66 : Tersesat


__ADS_3

Sekarang, aku tengah duduk di kursi bus sambil sesekali mengusap air mataku yang masih mengalir. Aku menatap keadaan luar melalui kaca jendela bus, tampak pohon-pohon hijau dengan daun-daun yang bergoyang seolah ingin menghiburku.


Drtt drtt ...


Dari dalam tas, terdengar suara ponsel berdering. Aku pun langsung membuka tasku dan mengambil ponselku. Ternyata, itu adalah Rey yang sedang meneleponku. Mendadak, aku terdiam. Aku takut dengan keputusanku. Namun, ya sudahlah.


"Halo, Rey ...."


"Halo, Ai. Emm, apa kau sudah tidak menangis lagi? Aku khawatir kau tahu ...," tanyanya dengan suara lirih. Mungkin, dia sedang menelepon di tengah-tengah jam pelajaran. Lagipula, dia duduk di bangku belakang.


"Iya, untuk saat ini aku sudah berhenti menangis. Emm, sepertinya kelas sudah dimulai ya? Kalau begitu, lebih baik kau fokus belajar dulu. Aku tidak mau kau dihukum hanya gara-gara berbicara denganku. Umm ... a-aku tutup teleponnya ya," ucapku.


Rey hanya diam, akan tetapi tak lama kemudian, dia menjawab, "Baiklah. Hati-hati, jika kau masih menangis, bilang saja kepadaku. Aku pasti akan membantumu."


"Iya," jawabku singkat kemudian menutup telepon Rey.


Tak berselang lama setelahnya, bis telah sampai di pemberhentianku. Namun, aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba tubuhku merasa ketakutan. Mungkin karena aku tahu bahwa ibu pasti akan memarahiku. Pada akhirnya, aku mengurungkan niatku untuk turun dari bus. Aku duduk lagi di kursi yang tadi.


Kali ini, banyak orang yang turun dari bus. Kebanyakan dari mereka memiliki penampilan seperti pekerja kantoran. Ya aku tidak heran sih, karena pemberhentian ini lumayan dekat dengan banyak perusahaan-perusahaan besar.


Setelah memastikan tidak ada lagi penumpang yang turun di pemberhentian ini, supir bus pun kembali menjalankan busnya. Sejujurnya, aku juga tidak tahu bus ini akan kemana. Aku tidak tahu rute yang diambil selanjutnya. Tapi bagiku, itu tak apa. Setidaknya aku bisa menjauh dari rumah dan sekolahku dulu saat ini.

__ADS_1


Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam telah berlalu. Penumpang bus datang dan pergi silih berganti. Namun, aku tak terlalu memikirkannya. Tak terasa, langit telah menjingga. Aku terkejut ketika pertama menyadarinya. Ketika aku mengintip jalan luar, aku melihat banyak sekali bus terpakir di satu tempat yang sama.


"Apa ini terminal?" Pikirku kebingungan. Aku merasa seperti baru bangun saja. Kesadaranku belum terkumpul sepenuhnya.


Di kala aku mencoba untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, tiba-tiba seorang pria berteriak dari kejauhan.


"Hei, Nona!" tegur pria itu.


Saat aku menengok ke arah suaranya, ternyata pria itu adalah supir bus yang kutumpangi.


"He? Apa bapak berbicara denganku?" Aku bertanya kepadanya.


Apa dia sedang berbicara kepadaku?


"Apa?"


Tunggu, apa, ini adalah pemberhentian bus terakhir? Eeeehhh, bagaimana ini?


"Ya, ini adalah pemberhentian bus terakhir. Cepat pulang sana! Bahaya jika anak SMA sepertimu sendirian seperti ini." Dia memberikan peringatan kepadaku. Meskipun sebenarnya aku sedikit takut karena mukanya tampak sangat jahat. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan, "Gadis ini cocok untuk bahanku selanjutnya."


Hah ...

__ADS_1


Apa yang aku pikirkan? Apa mungkin karena terlalu frustasi aku menjadi seperti ini?


"Ba-baik, Pak." Dengan langkah tergesa-gesa, aku berlari menuju pintu bus untuk keluar.


Saat sampai di luar, mataku langsung menangkap seluruh keadaan di luar. Sudah sore, hari sudah mulai sore.


Tapi kenapa aku tidak menyadarinya? Apa mungkin aku tertidur? Tidak tidak, itu tidak mungkin. Bukankah dari tadi aku melihat banyak orang keluar masuk di bus? Hah ...


Untuk memastikan, aku mengecek hanphoneku. Dan aku menyadari, bahwa banyak telepon masuk di ponselku. Mereka adalah Rey dan ibu, serta Rin juga.


Lalu, aku melihat pesan dari aplikasi berbalas pesanku. Ternyata, mereka juga mengirimiku pesan.


"Hei Ai, apa kau sudah sampai rumah? Tolong jawab aku!" tulis Rey.


"Ai, aku tahu dari Rey. Katanya kau pulang dan menangis, apa kau baik-baik saja?" ucap Rin dengan emoticon sedih di akhir teksnya.


"Kenapa kau tak menjawab panggilan ibu? Cepat pulang! Ada yang ingin ibu bicarakan," kata ibu.


Aku hanya membaca pesan mereka dan memilih untuk tidak menjawab. Aku takut, apalagi membalas pesan ibu. Sepertinya, dia sangat marah saat ini. Sebaiknya aku harus segera pulang.


Sambil membawa tasku dan melihat layar ponsel, aku menggunakan aplikasi penunjuk jalan untuk mengetahui harus kemana aku.

__ADS_1


Ah, ternyata tidak terlalu jauh. Jika aku jalan kaki, hanya perlu membutuhkan waktu 20 menit. Baiklah, lagipula aku tak memiliki uang lagi untuk naik kendaraan umum.


__ADS_2