Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 15 : Menyebalkan


__ADS_3

...Kenapa kau sangat menyebalkan? Pokoknya, aku tidak akan berbicara denganmu hingga tiba saatnya pulang....


...\=•\=•\=...


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliranku dan Rey. Karena membantu Yui kemarin, kami berdua terpaksa mengantri ulang. Orang-orang lain yang sedang mengantri pun menjadi marah karena lelah menunggu. Hah ... tapi, kami tidak keberatan dengan hal itu.


"Eh kalian lagi? Kalian ingin membeli es krim lagi, ya?" tanya pria penjual es krim yang ternyata masih mengingat kami berdua.


"Ahaha ... iya." Rey tertawa kecil seraya memggaruk-garuk rambutnya.


"Baiklah ... apa rasa es krim yang kalian inginkan?" tanya pria itu.


"Aku rasa coklat saja. Umm ... Ai, kamu mau rasa apa?" Rey menanyakan rasa es krim yang kuinginkan.


"Hm? Ah ... iya. Aku rasa vanilla saja," terangku seraya menunjuk gambar es krim rasa vanilla.


"Baiklah. Pak, dua es krim. Satu rasa coklat dan yang satu vanilla," ucap Rey memesan es krim.


"Okey. Tunggu sebentar, ya!" Pria itu berbalik ke arah mesin pembuat es krim yang selalu dia gunakan.


Tak lama kemudian, es krim yang ditunggu-tunggu pun tiba.


"Totalnya 500 yen, ya!" terang pria itu.


Rey mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang yang dibutuhkan. Setelah dia membayarnya, aku dan Rey pun mengambil es krim kami masing-masing.


"Arigatou Gozaimazu!" Aku dan Rey berjalan meninggalkan kedai es krim. Namun, ketika kami sudah berjalan menjauh, aku berhenti. Saat melihat es krim, tiba-tiba aku teringat dengan Miku. Adik perempuanku ini memang sangat menyukai es krim, apalagi rasa vanilla. Sebuah ide pun terlintas di pikiranku.


"Um ... Rey, ada sesuatu yang tertinggal di kedai es krim tadi. Aku ingin mengambilnya dulu, ya!" ucapku mengatakan bahwa ada barang yang tertinggal. Padahal, aku ingin membelikan es krim untuk Miku.

__ADS_1


Rey juga menghentikan langkahnya dan berbalik menatapku. "Barang apa? Ayo kita ambil bersama!" ajaknya.


"Eh tidak usah Rey. I-itu ... barang itu adalah ... BARANG PRIBADI WANITA aah iya, itu," dalihku berbohong agar Rey tidak mengikutiku. Aku tidak mau merepotkan Rey lagi. Sudah sangat banyak kebaikannya untukku hari ini. Jadi, aku berpikir, sebaiknya aku tidak merepotkan dia lagi.


Rey mengernyitkan dahinya. "Baiklah, aku akan tunggu di sini," ujarnya.


Aku menganggukkan kepalaku dua kali dan berjalan kembali ke arah kedai es krim. Sesampainya di kedai es krim tadi, aku langsung memanggil pria penjual yang terlihat sedang mendengar musik di headphonenya dengan posisi tubuh bersandar di kursi.


"Halo, Tuan!" panggilku seraya mengibas-ngibaskan satu tangan. Pria itu tampak sangat terlarut dalam alunan musik yang didengar olehnya, hingga dia tidak mendengar suaraku.


"TUAN!" teriakku lantang agar dia mendengar suaraku.


"HAAA? I-IYA!" Mata pria itu langsung terbuka. "Hahh ... ternyata kamu lagi. Mengagetkan saja," ucapnya seraya memegangi bagian jantungnya yang terasa ingin melompat tadi.


"Ahaha ... maaf, Pak. Tadi aku sudah memanggil bapak berkali-kali, akan tetapi bapak tidak dengar ...," terangku.


"Benarkah? Hah ... berarti aku benar-benar terlarut dalam lagu tadi hihi .... Umm ... kamu mau membeli es krim lagi? Rasa apa?" tanya Pria berkacamata tersebut.


"Ah baiklah. Tunggu sebentar, ya!" Pria itu segera membuatkan es krim yang kupesan khusus untuk Miku.


Tak berselang lama, es krim yang dimaksud telah dibuat. Aku membayar es krimnya dengan sisa uang sakuku. Aku merasa, hari ini terasa begitu lambat. Waktu yang kami habiskan di kedai es krim itu terasa sangat lama. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar adanya.


Rey mengajakku untuk duduk sejenak untuk menghabiskan es krimnya terlebih dahulu. "Ai, aku minta maaf, ya!" Tiba-tiba Rey meminta maaf kepadaku. Aku tak tahu pasti apa maksudnya.


"Kenapa kau meminta maaf, Rey?" tanyaku seraya memakan es krim di tanganku pelan-pelan.


Rey menghadapkan wajahnya ke arah wajahku. "Ya ... karena aku membuatmu menunggu lama hanya untuk membeli es krim. Harusnya, sedari tadi kita sudah membelinya. Pokoknya, aku benar-benar minta maaf!" ujar Rey.


"He? Kenapa kamu meminta maaf? Itu kan aku yang berinisiatif. Aku memang ingin menolong Yui yang sedang menangis saat itu," ucapku menjelaskan bahwa Rey tidak perlu meminta maaf hanya karena aku menunggu lama dalam membeli es krim. Lagipula, itu semua adalah keinginanku sendiri.

__ADS_1


Sesaat setelah aku mengucapkan hal itu, Rey langsung terdiam sejenak. Dia lalu tersenyum, seraya berkata, "Terima kasih, Ai ...."


Setelah meminta maaf, kali ini dia berubah menjadi berterima kasih. "Ee ... kenapa kamu berterimakasih, Rey?" tanyaku bingung dengan sikap Rey yang agak sedikit aneh ini.


Rey mengubah senyumannya menjadi senyuman yang tak bisa dituliskan dengan kata-kata. "Aku berterimakasih karena kau mau membuatku tertawa," ujarnya dengan kalimat yang sulit dipahami lagi.


"A-apa maksudmu, Rey? Bisa—" Saat hendak bertanya maksud dari perkataan Rey itu, tiba-tiba saja dia mendorong tangan yang sedang memegang es krim vanilla ke arah wajahku. Alhasil, banyak krim vanilla dingin menempel di hidungku.


"HAHAHAHAHA ...!" Rey tertawa lepas saat melihat hidungku yang kini berwarna sedikit putih. Ternyata, ini adalah maksud perkataan Rey tadi. Hummmphh ....


Mendadak, rasa kesal meluap-luap dalam dadaku. Aku menggembungkan pipi sisi kananku karena marah.


"Hei, Ai ... HAHAHA .. jangan marah lah .... Aku hanya bercanda tadi," ucap Rey merayuku agar berhenti kesal. Namun, nada ucapannya itu terdengar tidak serius. Dia masih bisa tertawa di situasi seperti ini? Hmphh ... menyebalkan.


Aku tak mengucap sepatah katapun. Aku hanya memalingkan wajahku ke samping. Sekarang, aku benar-benar kesal. Posisi kedua tanganku terlipat di depan dada.


"Ai? HAHAHA ... baiklah baiklah, aku akan berhenti tertawa. Kamu jangan marah lagi, ya?" Untuk kesekian kalinya, Rey berusaha merayuku agar berhenti marah. Namun, karena sudah terlanjur kesal, cara yang dilakukan olehnya tidak akan mempan. Meski dia adalah laki-laki yang 'kusuka' sekalipun. Eeh ... bukan itu maksudku, kalian tau ....


"Tidak. Aku tidak akan menjawab apapun yang kau tanyakan sampai pulang nanti." Dengan ekspresi wajah yang masih sama, aku mengatakan kepada Rey, bahwa aku tidak akan menggubris apapun yang dia katakan sampai pulang nanti.


"Aigoo ... kau benar-benar marah, Ai? Aku kan hanya bercanda tadi," ucap Rey seraya mendekatkan tubuhnya.


"Tidak, aku tidak akan berbicara denganmu!" ucapku geram.


"Lalu, kenapa kau berbicara tadi?" tanya Rey nyaris tertawa.


"Eh ... i-itu. Sudahlah." Aku berhenti mengucapkan kata-kata.


"Ai?" Rey semakin mendekatkan tubuhnya ke arahku.

__ADS_1


Aku pun begitu, aku menjauhkan tubuhku sedikit dari tubuh Rey. Sekarang, kami berdua duduk dengan sedikit jarak di sini.


__ADS_2