Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 55 : Sahabat itu ...


__ADS_3

..."Sahabat itu adalah seseorang yang ada saat kita susah maupun senang. Terkadang, aku berpikir, apakah aku bisa menjadikan seluruh manusia di dunia ini menjadi sahabatku, tapi ternyata tidak bisa. Karena aku tahu, tidak semua orang itu setia." -Ai Mizhunashi...


..."Jika kau sedang kesulitan, jangan memendamnya sendiri. Ingatlah, aku masih ada di sini sebagai seorang sahabat." -Nakamura Rin...


...\=•\=•\=...



Sepulang sekolah, lebih tepatnya setelah klub melukis selesai. Aku berjalan sendirian. Sebenarnya Rey mau mengantarku pulang. Tapi jika aku menerimanya, maka sebuah masalah baru akan terjadi. Ah sudahlah, lebih baik aku segera pulang sebelum matahari semakin tenggelam. Aku berlari dengan tangan kanan memegang tasku. Baru beberapa langkah, napasku sudah terengah-engah. Ya, mungkin aku harus mulai berolahraga besok.


"Ai, tunggu!" Ketika aku sedang mengatur napas, seseorang berteriak memanggilku. Didengar dari suaranya, dia adalah seorang perempuan.


"Kyaa!!" Dia merangkulku dengan tangannya. Aku menengok ke samping untuk melihat siapa orang ini. Ternyata, dia adalah Rin. "Konnichiwa, Ai-chan!" Rin menyapaku sambil tersenyum ceria seperti biasanya.


"Konnichiwa, Rin," balasku sembari tersenyum kepadanya juga.


"Ai, kenapa kau pulang dulu tadi? Biasanya kan, kita pulang bersama. Selain itu, apa Rey tidak mengantarmu pulang? Ah dia ini memang benar-benar." Ya, seperti biasa, Rin akan selalu marah-marah kepada orang lain. Meskipun dia tidak tahu yang sebenarnya. Tapi, itulah yang membuatku menyukai Rin. Maksudku menyukainya sebagai sahabat, bukan yang lain.


"Bisa pelan-pelan nggak, Rin? Emm, aku ingin menjawabnya tapi kesulitan karena kau menanyakan banyak pertanyaan hahaha ...."


"Aaa-ah, gomenne, Ai. Aku terlalu banyak bertanya ya? Haha ...." Gadis ini tertawa kecil dan kemudian melanjutkan, "e-em, begini Ai. Kenapa kau tidak pulang bersama Rey? Apa ada masalah di antara kalian?" Aku sudah menduganya, ternyata Rin memang ingin bertanya tentang masalah ini.


Apa aku harus menjawab seadanya? Tidak tidak, Rin tidak boleh tahu tentang masalah ini. Aku tidak mau membuatnya terlibat.


"A-ah, itu. Rey bilang kepadaku kalau dia ingin menjemput adik perempuannya, Hikari. Jadi, dia tidak bisa mengantarku. Lagipula, aku bisa pulang sendiri kok." Aku menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang terlintas di pikiranku saat ini. Meskipun, kurasa jawabanku ini meragukan.


Rin mengerutkan keningnya sambil menatapku, tapi tak berselang lama setelah itu, ekspresi wajahnya langsung berubah. "Ooh baiklah. Aku yakin kau tidak akan berbohong padaku. Karena Ai, Mizhunashi Ai adalah gadis yang baik! Dia tidak akan berbuat jahat kepada orang lain," ujarnya dengan suara berteriak. Ia lalu melompat menghadangku kemudian mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Ingat Ai. Jika kau memiliki masalah, atau ada orang yang mengganggumu, jangan malu untuk memanggilku. Karena kau adalah sahabatku. Aku pasti akan selalu menjagamu." Lagi-lagi, dia tersenyum di depanku. Tapi, kali ini dia menunjukkan senyuman yang berbeda dari biasanya. Maksudku, senyuman Rin biasanya adalah senyuman ceria, tapi barusan dia memperlihatkan senyuman sendu.

__ADS_1


Rin, dia benar-benar mengkhawatirkanku. Rey, Rin, dan Ryu-hmm, kurasa tidak. Rin sangat baik dan ceria, aku tak bisa berpisah dengannya. Rey juga. Dia adalah orang yang baik, sangat baik. Jika aku memilih menjauh darinya, maka pasti semua akan berubah. Tapi ... aku tidak bisa. Aku tidak bisa meninggalkan mereka berdua.


"Halo, Ai! Halo! Bumi kepada Mizhunashi Ai!" Rin memecah lamunanku dengan tangan melambai-lambai di depan mataku.


"Eh? I-iya, Rin. Terima kasih banyak. Tapi aku baik-baik saja. Jangan terlalu mengkhawatirkanku ya?"


Rin menghela napas. "Tidak bisa. Kau adalah sahabat terbaikku. Dengarkan aku, selama aku hidup di dunia ini, aku tidak pernah sekalipun berbicara dengan suara lembut kepada orang lain. Karena itu adalah kebiasaanku. Tapi, saat bertemu denganmu, aku mulai belajar untuk menghargai orang lain. Aku belajar untuk selalu tersenyum kepada semua orang. Meskipun kita dalam keadaaan sedih sekalipun. Aku belajar untuk melihat dunia dari sisi yang positif. Aku juga berusaha untuk menjadi anak pintar sepertimu. Dan yang paling penting adalah ... kau itu cantik. Sama sepertiku. Eeh, kurasa yang terakhir itu nggak nyambung. Tidak ada kaitannya dengan kau hahaha ... abaikan yang terakhir. Jadi, Ai ... aku ini sangat bergantung kepadamu. Makanya ... EH KENAPA KAU MENANGIS?!"


"Te-terima kasih ...." Mataku yang awalnya hanya berkaca-kaca, akhirnya lepas juga. Air mataku mengalir perlahan. Rin, dia adalah perempuan kedua yang percaya kepadaku. "Terima kasih, Rin hiks ...."


Ketika aku tengah menunduk karena menangis, tiba-tiba Rin mendekat dan memelukku. "Baiklah. Tapi, jangan menangis lagi ya. Aku juga ikut sedih kalau melihatmu menangis seperti ini kau tahu. Pokoknya, jika kau sedang sedih atau punya masalah, jangan disimpan sendiri. Ingatlah, aku akan selalu ada untukmu, sebagai seorang sahabat," ungkap Rin seraya mengeratkan rangkulannya.


"Terima kasih, Rin ...." Berulang kali aku mengucap kalimat yang sama. Hari ini aku sangat senang. Ternyata, masih ada orang yang benar-benar tulus mempercayaiku. Tapi maaf, Rin ... untuk kali ini aku ingin menutupi sesuatu.


Rin melepaskan rangkulannya dan lalu menghapus air mataku dengan tangannya. "Sudah, jangan menangis lagi ya. Ai yang kukenal itu murah senyum, lho," ungkapnya dengan senyuman di wajahnya.


\=•\=•\=


Singkat cerita, aku telah sampai di rumah. "Aku pulang!" teriakku keras.


"Nee-chan!" Miku berteriak sambil berlari menghampiriku.


"Eh, Miku. Kamu terlihat sangat bersemangat ya. Ada apa?" Aku menyamakan tinggi dengan Miku.


"Kak kak, tadi–" Saat Miku hendak mengatakan sesuatu, seseorang datang dari belakang. "Ah ternyata kau sudah pulang, Ai," pangkas ibu.


"I-iya, Bu," jawabku.

__ADS_1


"Cepat ganti baju dulu sana! Kemudian, bantu ibu membeli bahan-bahan untuk membuat makan malam nanti." Ibu menyuruhku.


Sebaiknya, aku segera berdiri. "Ba-baik, Bu." Aku berdiri dan mengusap rambut Miku. "Kakak ganti baju dulu ya, Miku. Nanti kita main setelah kakak pulang."


"Waaah ... iya!" ungkap Miku antusias.


"Oh ya, tunggu sebentar. Tadi seorang anak perempuan SMA datang ke rumah. Katanya dia adalah temanmu. Dia ingin berbicara denganmu. Tapi karena kau belum pulang, dia balik lagi. Gadis itu menitipkan hadiah untukmu. Ini!" Ibu memberikan sebuah bingkisan kepadaku. Hadiahnya adalah bunga mawar.


"Teman perempuan? Siapa namanya, Bu?" tanyaku penasaran.


"Kenapa kau malah tanya kepada ibu? Dia adalah temanmu, masa kau sendiri tidak tahu? Sudah sudah. Ganti baju dulu sana!"


"Eh iya iya." Dengan terburu-buru, aku berlari masuk ke dalam kamar dengan tangan kanan membawa bunga mawar yang katanya diberikan oleh teman perempuanku. Aku tidak tahu siapa dia. Kurasa, aku hanya memiliki satu teman perempuan dan dia adalah Rin. Agar aku tidak semakin penasaran, aku harus segera membuka kemasan bunga mawar itu. Pasti ada nama pengirimnya.


"Siapa teman perempuan yang memberikan bunga ini?" tanyaku pada diriku sendiri.


Setelah cukup lama mencari petunjuk, akhirnya aku menemukan kertas dengan tulisan tangan. Aku pun membaca tulisan itu.


Halo Ai, jika kamu menemukan surat ini, berarti kau telah menerima hadiahku. Sebenarnya aku ingin memberikan langsung, tapi ternyata kau belum pulang. Ya sudahlah. Simpan bunga ini selamanya, karena ini adalah hadiah yang langka. Mungkin, ini adalah kali terakhir aku akan memberikan hadiah untukmu, Ai. Hahaha ... omong-omong, jaga dirimu baik-baik. Karena aku tidak mau kau mati sebelum aku bertindak.


Jika kau bertanya apa maksud perkataanku? Pikirlah sendiri. Aku sudah memperingatkanmu saat kita sedang berada di halaman sekolah waktu itu. Kuberi waktu selama seminggu. Jika kau tidak bisa melaksanakannya, maka aku terpaksa turun tangan. Ara ara, aku sudah menulis terlalu banyak. Ya sudahlah. Daah Ai, ingat pesan ini baik-baik ya!


Reina Miyamoto


"A-apa?!" Aku terkejut saat mengetahui bahwa bunga ini adalah pemberian Reina. "Reina, apa lagi ini ...?" Aku memegangi surat itu dengan perasaan bingung dan kesal.


Seminggu, apa maksudnya? Kenapa ...

__ADS_1


__ADS_2