
Hari ini, sekolah kedatangan kepala sekolah baru.
Namun, aku tak peduli akan hal itu. Aku tak peduli siapapun dia, aku tak peduli namanya. Karena, aku memiliki masalah yang lebih buruk daripada ini. Itu ... tentang hal yang kualami kemarin. Ibu, dia memang sangat membenciku.
Hari ini, aku bangun tidur dengan tanpa semangat. Jika saja tidak ada Miku, Rey, Rin, dan Ryuji, mungkin ... aku sudah bunuh diri dari dulu.
Sebenarnya, aku ini memiliki salah apa?
Kenapa ibu begitu membenciku hingga dia melukaiku dengan vas bunga serta memarahiku?
Ya, aku tahu sekarang ... aku dilahirkan hanya untuk menghiasi hidup ibu, tidak, apa itu dibilang menghiasi?
Tidak tidak, aku memang dilahirkan hanya untuk merasa tersakiti.
Pemikiran tajam dan tidak masuk akalku ini ternyata benar. Semua orang adalah malaikat pencabut nyawa.
...Flashback on...
Sepeninggal Rey, aku, Miku, dan ibu berjalan masuk ke dalam rumah. Sore itu, aku merasa agak sedikit tidak nyaman, karena ibu selalu menatapku dengan tatapan yang tidak bisa ditulis dengan kata-kata. Bisa dibilang, tatapannya itu menyimpan amarah besar atau bisa juga dendam.
Hari semakin menggelap. Matahari perlahan mulai tenggelam, tanda senja ini akan berakhir. Aku masih di dalam kamar untuk mengganti bajuku, sementara ibu dan Miku ... sepertinya, mereka sedang menyiapkan makan malam.
Aku merasa bahwa ibu sudah tidak begitu menyuruhku lagi. Ya, sepertinya karena ibu tahu bahwa libur musim panas telah berakhir.
Syukurlah, itu berarti ibu mulai mengerti tentangku ... mungkin.
"Hei, Ai! Cepat! Makan malam sudah siap!" teriak ibu dengan suara keras.
"Ba-baik!" Aku bergegas keluar dari kamar kemudian berlari menuju meja makan.
Sesuai dugaanku, ibu dan Miku sedang menyiapkan makan malam untuk kami. Dengan senang hati, aku pun langsung duduk di kursi.
Namun, ketika aku hendak mendaratkan bagian belakang tubuhku di kursi, tiba-tiba ibu berteriak, "Hei, jangan duduk dulu! Bantu kami memindahkan makanan ini!" Ibu membawa sepiring sashimi.
"Aa-ah, ba-baiklah." Aku kembali berdiri dan lalu berjalan membantu ibu dan Miku memindahkan makanan dari dapur ke meja makan.
Saat semua telah selesai, barulah kami kembali ke meja makan untuk makan malam tentunya.
__ADS_1
Aku mulai memakan satu per satu makanan yang ada di meja makan. Mulai dari nasi kari, hingga sashimi.
Waah ... kuakui ini memang enak.
Selanjutnya, aku melihat ada dua buah sushi di piring putih panjang, kelihatannya, itu sangat enak. Aku menjulurkan tanganku untuk mengambilnya. Namun, lagi-lagi ibu mengejutkanku dengan suara menakutkannya. "Hei, jangan ambil itu! Itu adalah sushi untuk ibu dan juga Miku. Ibu lupa membelikanmu, jadi kamu makan yang lain saja!" ujarnya.
"O-oh. A-aku minta maaf, Bu. A-aku tidak tahu itu." Aku menundukan kepala karena merasa bersalah.
Lagi-lagi seperti ini. Ibu selalu lupa denganku. Dulu, sehari sebelum ulang tahun Miku, ibu bilang bahwa dia akan membelikan gaun pesta untukku dan juga Miku. Tapi ternyata, ibu hanya membelikan Miku. Dia lupa denganku.
Sekarang, ibu melakukan hal yang sama. Entah apa itu sengaja atau memang lupa.
Aku mengalihkan perhatianku kepada sashimi sisa yang ada di piring.
Ya, lebih baik itu, daripada tidak makan.
Saat aku ingin mengambil sashimi sisa itu, tanpa disangka-sangka terdengar suara anak kecil berteriak. "Kak Ai, makan sushi milik Miku saja. Miku tidak suka sushi ...," ucap Miku seraya menggebrak meja dengan tangan mungilnya.
"Miku ...." Mataku berbinar tatkala melihatnya. Anak kecil sepertinya, ternyata dia memiliki rasa perhatian.
Tak terasa mataku malah berkaca-kaca. Di saat ibu tidak mengizinkanku untuk memakan sashimi, Miku malah menawarkan makanannya untukku.
Miku, aku beruntung memiliki adik sepertimu.
"Hei, Miku. Sashimi itu ibu belikan untukmu. Kenapa kau malah memberikannya kepada kakakmu?" tanya ibu kepada Miku. Dia tampak tidak terima saat melihat Miku memberikan makanannya kepadaku. Ya, sepertinya memang begitu.
Namun, bukannya malah gemetar ketakutan karena dibentak, Miku menunjukan reaksi yang berbeda denganku. Anak perempuan lima tahun ini malah memelototi ibi dengan tatapan mengintimidasi. Aku yang melihatnya dari jauh saja sudah gemetar ketakutan.
"Ibu, kenapa ibu tidak membelikan Kak Ai? Dia juga mau sushi ini," ucap Miku bertanya kepada ibu.
"Bukankah sudah ibu bilang, ibu lupa. Kalau ibu ingat, ya pasti ibu belikan," tanggap ibu.
"Hm? Bagaimana bisa ibu hanya lupa membelikan Kak Ai saja. Jika memang ibu benar-benar lupa, seharusnya ibu tidak membeli sushi. Ibu, ibu tidak boleh berbohong. Bukankah ibu sendiri yang bilang kepada Miku? Ibu bilang, kita tidak boleh berbohong, karena berbohong itu tidak baik. Tapi kenapa ibu malah berbohong. Apa ibu tidak sayang kepada Kak Ai? Setiap hari, Kak Ai selalu membantu Miku kalau Miku sedang kesulitan. Kak Ai juga selalu berusaha membantu ibu. Ibu, apa ibu lupa? Kak Ai adalah orang yang membuatkan Miku makanan waktu Miku kelaparan saat itu. Jadi, Miku mohon, jangan sakiti Kak Ai lagi, Bu. Dia juga ingin hidup seperti anak-anak biasanya," nasehat Miku panjang dan lebar. Sungguh, aku benar-benar tidak menduga hal ini. Miku, dia bisa mengucapkan hal itu di depan ibu tanpa ragu sedikitpun. A-aku saja tidak berani.
"Grgghh ...." Ibu terlihat mati kata. Dia membisu tanpa kata. "Ya sudah. Terserahlah!" lanjutnya.
"Kak Ai, makan saja sushinya. Karena, Miku tidak suka sushi," ucap Miku.
__ADS_1
"Aa-ah, i-iya. Terima kasih, Miku." Aku menuruti kemaunnya. Untuk yang kesekian kalinya, entah sudah berapa kali Miku membantuku.
Aku tidak tahu, apakah aku bisa membalas kebaikannya ini?
Terima kasih, Miku.
...\=•\=•\=...
Singkat cerita, malam mulai melarut. Miku sudah tertidur di ranjang sambil memegang boneka kesukaanya. Aku juga berniat masuk ke dalam kamar dan tidur, akan tetapi, seseorang memegang tanganku. Saat aku menoleh, aku menyadari bahwa yang memegang tanganku adalah ibu. Dia menatapku dengan tatapan mengerikan.
Prang!
Vas bunga yang ada di dekat ibu jatuh secara tiba-tiba. Vas itu terpecah menjadi beberapa bagian. Ibu lalu mengubah posisi badannya menjadi berjongkok dan mengambil satu bagian vas. Dia kemudian mengacungkan bagian vas bunga yang pecah itu kepadaku.
"Mati saja kau, dasar anak tak tahu diri!" Ibu mengacungkan pecahan vas tajam itu ke wajahku.
"I-IBU, KE-KENAPA?!" Tentu saja aku terkejut saat melihat ibu bersikap seperti itu.
"Jangan pura-pura bod*h kamu ya. Hei, kau pasti mengajarkan hal buruk kepada Miku hingga dia berani membangkang seperti tadi. Kau pasti menyuruh Miku agar melindungimu saat kau sedang dimarahi, 'kan?!" tuduh ibu.
"Ti-tidak, Bu. Aku tidak pernah melakukan hal itu. A-aku juga terkejut saat Miku mengatakan hal tersebut!" bantahku.
"Kau ...." Ibu mengayunkan tangan yang memegang potongan vas.
Sriet!
Alhasil, sebuah luka gores tertinggal di keningku. Cairan merah yang biasa disebur darah pun mulai mengalir dari luka goresan, meski tidak begitu banyak. Namun, tetap saja, itu terasa sangat perih.
"Awwwhh ...." Aku memegangi bagian luka, berusaha untuk menghentikan pengaliran darahku ini.
"Jangan ceritakan kejadian ini kepada siapapun. Ai, kau adalah anakku. Selagi aku masih menganggapmu sebagai anak, maka kau harus ikuti perintahku!" tegas wanita berusia empat puluh lima tahun ini.
Aku menatap ibu dengan satu mata. Hati ini seolah menyuruh seluruh tubuhku untuk segera melepaskan tangisanku. Namun, aku harus menahannya, atau kejadian buruk lainnya akan terjadi kepadaku.
...Flashback Off...
Hah ... aku masih bingung, kenapa ibu begitu membenciku.
__ADS_1
Padahal, aku merasa bahwa aku tidak pernah melakukan kesalahan kepadanya. Tapi, ya sudahlah.