
...Yah, aku tidak tahu pasti, kenapa mereka tersenyum seperti itu. Tapi, aku tahu, kalau mereka sedang merencanakan sesuatu....
...\=•\=•\=...
Jam istirahat masih belum berakhir. Padahal, aku merasa bahwa, kami berempat sudah sangat lama makan dan mengobrol di kantin. Namun, kenapa bel masuk sekolah tak kunjung berbunyi, ya? Umm ... entahlah, lagipula itu malah lebih baik, 'kan? Aku bisa melihat kekonyolan mereka sedikit lebih lama.
"Waaah ... ramennya benar-benar enak. Hahh ... kalau begini, aku pasti akan membelinya setiap hari," ucap Rin memuji rasa makanan yang terasa sangat enak ini. Ramen buatan Nyonya Hanazawa memang tak bisa diragukan lagi.
Salah satu kedai makanan di kantin ini yang telah berdiri sejak lama. Konon katanya, kedai ramen ini adalah warisan keturunan dari keluarga Hanazawa. Maka dari itu, cita rasa ramen yang satu ini terasa sangat khas dan berbeda dengan lainnya.
"Heey ... jangan makan saat kau sedang berbicara. Eh maksudku, jangan berbicara saat makan!" ketus Rin memarahi Ryuji dengan ucapan yang berbelit-belit.
"Iya iya ...." Ryuji berhenti berbicara dan lanjut memakan ramennya. Begitu juga denganku, Rey, dan Rin.
Kami berempat makan ramen bersama. Sesekali Rin dan Ryuji menyelingi suasana ini dengan canda tawa dan kekonyolan mereka. Yah, aku merasa sengat bahagia.
Dulu, aku berpikir, mungkin Tuhan memperlakukan setiap hambanya dengan tidak adil. Namun, sekarang, aku berubah pikiran. Sebuah cahaya terang perlahan hadir dan mengusir awan kelam di hidupku ini. Semua sama persis seperti yang aku panjatkan dalam doaku.
Kini, aku tengah menunggu, terwujudnya permintaan terakhirku. Tentang kisah cintaku. Rasa cinta kepada Rey ini. Aku sangat amat ingin tahu, bagaimana jadinya hubunganku dengannya. Apa kisahku akan berakhir dengan happy ending? Semoga, permintaan terakhirku dikabulkan juga. Semoga saja.
Singkat cerita, kami telah menyantap habis ramennya hingga tak tersisa sedikitpun di mangkuk. Eehh ... perutku terasa sangat kenyang. Aku menyandarkan tubuhku di kursi. Tiba-tiba, aku mendengar suara dari jarak dekat.
"Gaaarggghh ... ahh ... kenyangnya." Ternyata, itu adalah bunyi sendawa Ryuji. Dia terlihat sangat kenyang, akan tetapi, bersendawa di tempat umum itu bukanlah hal sopan.
"Ryu–" Aku hendak menegur Ryuji, tetapi, Rin langsung menyahut dari sampingku, "Oy, apa orangtuamu tidak mengajarimu sopan santun? Ini adalah tempat umum! Kau tak boleh bersendawa sembarangan seperti tadi!"
Rin lebih dulu menegur Ryuji. Padahal, aku ingin menegurnya baik-baik tadi. Namun, ya sudahlah. Yang penting, seseorang telah memberitahu bahwa yang dilakukan oleh Ryuji itu salah.
Ryuji mengerucutkan bibirnya. "Iya iya ... maaf. Tapi, bisakah kau menegurku dengan lembut sedikit? Lagipula, kau ini perempuan bukan?" ucap Ryuji dengan raut wajah kesal.
Rin yang hendak menyeruput kuah ramen pun seketika berhenti saat mendengar ucapan Ryuji tadi. Dia kembali menaruh mangkuknya dengan kasar, hingga terdengar suara benturan keras di meja. Sontak, aku, Rey, dan Ryuji berhenti bergerak dan memusatkan perhatian kami kepadanya.
Raut wajah Rin terlihat berubah seketika. Aku merasakan aura-aura mengerikan darinya. Oh tidak ... hal buruk akan terjadi. Tiba-tiba, Rin menatap Ryuji dengan tatapan yang sulit dituliskan dengan kata-kata. Dia kemudian menjambak rambut Ryuji dengan sangat kuat.
"Aaaww ... awwww ... awwww ...." Ryuji tampak sangat kesakitan. Dia memegangi bagian rambutnya yang sedang ditarik dengan sangat kencang oleh Rin.
__ADS_1
"Ri-Rin?" Aku bingung sekaligus khawatir, karena dia menjambak rambut Ryuji seperti itu.
Bukannya dilepaskan, Rin menguatkan tarikan rambutnya. "Heeeii ... ingat, ya! Aku tidak akan bersikap lembut kepada siapapun yang telah melakukan kesalahan. Dan juga, jangan pernah meragukan sifat ke-perempuanku ini! Meskipun aku ini terlihat ganas, tapi, aku tetaplah seorang gadis, kau tahu? Jadi intinya, jangan pernah melakukan hal itu lagi. Atau aku akan membuat rambutmu lepas heeeeeehhh ...." Rin memperingatkan Ryuji dengan tangan yang masih menjambak.
Sudah dapat ditebak, bagaimana keadaan Ryuji saat ini. Wajahnya sedikit pucat dengan posisi mulut yang terbuka, akan tetapi tidak sanggup mengeluarkan sepatah katapun. Akhirnya, Rin merenggangkan jambakannya. Pada saat yang bersamaan, Ryuji memanfaatkan momen tersebut untuk berbicara. "Ba-baiklah baiklah. Sekali lagi, aku minta maaf. A-aku tidak akan mengucapkan hal itu lagi. To-tolong, singkirkan tanganmu dari rambutku!"
Gadis keturunan Jepang-Indonesia ini menatap Ryuji serius. "Hm. Kau berjanji, tidak akan mengucapkan hal itu lagi?" tanya Rin dengan suara lirih dan berat. Dia ingin memastikan kebenaran kepada Ryuji.
Melihat hal itu, Ryuji pun terlihat gemetar ketakutan. Dia meneguk salivanya, seraya berkata, "A-aku berjanji. Aku berjanji bahwa aku tidak akan mengucapkan hal itu lagi. Pe-peace hehe ...." Laki-laki remaja tersebut tersenyum lebar. Sepertinya, senyuman Ryuji adalah senyuman yang dipaksa. Dia ingin lepas dari Rin dengan cara mengubah situasi. Salah satu caranya adalah membuat senyuman palsu dan candaan. Tunggu, kenapa aku malah menjadi seperti pengamat begini? Eh sudahlah.
Rin mendekatkan wajahnya kepada Ryuji. "Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu tadi, hm?" tanyanya memastikan sekali lagi. Wajah dan sorot matanya tampak masih tidak percaya dengan Ryuji. Mungkin, dia sudah menyadari bahwa senyuman Ryuji adalah senyuman dibuat-buat dan bukan tulus. Hah ... Rin benar-benar hebat.
Mereka saling bertatap-tatapan. Sorot mata penuh amarah Rin menatap lekat mata Ryuji yang menyimpan ketakutan besar. Aku juga tidak tahu pasti, kenapa Rin bisa semarah itu kepada Ryuji. Bukankah, mereka tadi sangat akur saat menguping pembicaraanku dan Rey. Memang, apa arti dari kalimat yang diucapkan oleh Ryuji tadi. Yah, aku sangat penasaran tentang alasan kenapa Rin bisa berubah drastis seperti ini.
"I-iya ...," tanggap Ryuji gelagapan karena takut. Dia mengiyakan pertanyaan Rin agar bisa cepat menyelesaikan masalah sepele, tetapi, berubah menjadi besar ini.
Setelah mendengar jawaban Ryuji, Rin pun melepaskan cengkraman rambutnya dan mulai berjalan mundur, menjauh dari Ryuji. Dia kemudian mendaratkan tubuhnya di kursi kembali. Sementara Ryuji, dia juga duduk kembali di kursi, seraya membenahi rambut hitamnya yang acak-acakan.
Syukurlah, perseteruan ini telah berakhir. Aku tersenyum tipis memandangi mereka berdua yang masih tidak mau bertatap-tatapan. Meski mereka masih belum bisa berbaikan sepenuhnya, tetapi, aku yakin, bahwa mereka akan segera akur seperti sediakala.
Namun, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Rey. Yah, mereka memang belum baikan sepenuhnya. Yossh ... ini adalah kesempatanku.
Aku beranjak dari kursi yang kududuki tadi dan berjalan mendekati Ryuji dan Rin. Aku meraih tangan kanan Rin dan Ryuji dan kemudian menyatukannya. "Kalian ... harus ... berbaikan ...," ucapku meminta mereka berbaikan dengan cara berbeda.
"Hah? A-Ai?!" Mereka berdua terkejut dan hendak melepas pegangan tangannya. Namun, aku berhasil menahan kuat sehingga mereka tidak bisa mengelak.
"Heeeii ... ayolah. Kalian ini cocok, lho! Aku rasa, kalian ini saling suka." Aku menggoda Rin dan Ryuji.
"Eeeh ...." Tak disangka, mereka menunjukan reaksi yang tidak diduga-duga. Pipi mereka memerah. Rin membuang wajahnya ke samping, begitu juga dengan Ryuji. Mereka terlihat tersipu malu. Itu artinya, mereka memang saling suka.
Brak!
Rey menggebrak meja kantin yang digunakan kami untuk makan. Saking kerasnya, hingga membuat perhatian seluruh siswa-siswi di kantin berpusat kepadanya. "Hei! Jangan bertindak mesra seperti itu di sini! Kau tahu bukan? Banyak murid yang tidak memiliki pasangan! Contohnya, aku," ungkap Rey. Kata-kata yang diucapkan olehnya terdengar sangat sedih. Andai kau tahu, Rey, aku sangat sangat sangat mencintaimu. Andai saja kau tahu itu.
Aku melepaskan pegangan tanganku, hingga membuat Ryuji dan Rin terlepas. Namun, saat tangan mereka lepas, tiba-tiba mereka saling bertatap-tatapan. Kemudian, Rin dan Ryuji tersenyum miring layaknya tokoh joker di film. Entah apa yang mereka rencanakan kali ini.
__ADS_1
"Ekhem ... emm ... baiklah, aku kembali ke kelas duluan, ya. Aku memiliki janji dengan temanku!" ujar Rin seraya beranjak dari kursi.
Tak lama setelah itu, Ryuji menyahut, "Yah, aku juga. Aku harus mengepel kamar mandi." Laki-laki kelahiran kota Osaka ini juga beranjak dari kursi.
Mereka berdua berjalan melalui belakangku dan Rey. Rin berjalan di belakangku, sementara Ryuji berjalan di belakang Rey. Ada sesuatu yang salah, aku bisa merasakannya.
"Hihihi ... silakan berciuman!" ucap Rin dan Ryuji bersamaan. Setelah itu, aku merasakan seseorang mendorong punggungku. "Kyaah ...!" Aku terkejut sekaligus takut.
Cup ...
Kali ini, aku merasakan sebuah ciuman hangat di bagian keningku. Mataku membelalak saat melihat sebuah dada bidang laki-laki.
"Huuhh ... itu tidak sesuai rencana kita!" gerutu Rin kesal.
Aku baru menyadari bahwa Rey sedang mencium keningku. "Heeeee ...!" Aku bergegas menjauh dari Rey. Wajahku memerah.
"Yaaa, meski tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Tapi setidaknya, kita berhasil membuat pipi Ai memerah," kata Ryuji sambil tersenyum senang.
"Yah, kau benar," balas Rin.
Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan agar mereka tidak bisa melihatnya. "Tunggu sebentar, apa yang kalian bilang tadi? Kalian sudah merencanakannya?" tanyaku bingung saat menyadari apa yang barusan mereka katakan.
"Iya, Ai. Jadi, sebenarnya, kami berencana untuk membuat kamu dan Rey berciuman di sini. Tapi ternyata, rencana kami gagal. Haah ...," ungkap Rin sembari menghela napas.
Aku memandangi Rin dan Ryuji dengan tatapan kesal. "Jadi, semua ini hanya rekayasa? Amarahmu tadi? Apa itu juga hanya dibuat-buat?" tanyaku lagi.
Rin dan Ryuji saling bertatap-tatapan. "Yaaah, bisa dibilang begitu hehe ...," ucap Ryuji sembari tertawa kecil.
Huhh ... ternyata mereka hanya berbohong. Padahal, aku sudah sangat khawatir tadi. Ternyata itu hanya dibuat-buat hmp! Tapi, jika dilihat-lihat, pada saat aku menyatukan tangan mereka, Rin dan Ryuji memang tersipu malu. Ya, walaupun mereka berbohong, tetapu setidaknya, aku mengetahui bahwa mereka sebenarnya saling menaruh hati.
"Kalian ini ...," ucap Rey lirih. "AKU SANGAT BERTERIMA KASIH KEPADA KALIAN!" lanjutnya berteriak kencang.
"Eee ...." Aku, Ryuji, dan Rin menatapnya kebingungan. Aku tidak tahu maksudnya, kenapa dia berterima kasih kepada Ryuji dan Rin.
...----...
__ADS_1
Waaah ... ini adalah eps terpanjang yang pernah Miku tulis sepanjang sejarah Aishiteru. Bisa dibuat marathon nih. Yah itung-itung buat membayar masa hiatus saat Miku PTS. Arigatou! ^^