
...\=•\=•\=...
Aku lega, Rin sudah memaafkanku. Meskipun ... ya sudahlah. Kelas melukis masih belum berakhir, Pak Raito, Kak Hakuba, dan Kak Haru sedang menerangkan secara bergantian.
Tiga puluh menit kemudian, mereka telah selesai menerangkan materi. "Baiklah, bapak rasa sampai sini dulu saja. Emm ... umtuk PR, bapak minta kalian menggambar seseorang. Entah itu sahabat, anggota keluarga, atau mungkin ... pacar kalian? Hahaha ... hanya bercanda. Ya sudah, Hakuba, Haru, bapak bergi dulu ya, karena sebentar lagi bapak harus rapat bersama guru lain. Jadi, bapak percayakan kepada kalian berdua," ujar Pak Raito memveri instruksi kepada Kak Hakuba dan Kak Haru.
"Baik, Pak!" Jawab mereka tegas.
Tak berselang lama, Pak Raito pun keluar sambil membawa peralatan melukis yang dia gunakan untuk menerangkan materi.
Sepeninggal beliau, Kak Hakuba pun langsung memulai kelas melukis versinya. Eh, kukira kelasnya sudah berakhir. Tapi tak apa, Kak Hakuba selalu mengajar dengan cara yang seru. Kurasa, tak apa.
"Yossh, selamat siang semua! Aigoo, dari kemarin kakak lihat jumlah murid yang ada di klub ini semakin berkurang. Kemarin lusa ada sembilan anak, lalu kemarin ada enam anak, sekarang ada tujuh anak. Haissh, apakah klub melukis mulai membosankan?" tanya Kak Hakuba penasaran.
Semua anak di sini menggelengkan kepala.
"Hah ... tidak ya. Emm, bagaimana kalau kita bermain sesuatu? Belajar kalau terlalu lama itu membosankan. Jadi, ayo main saja! Mau tidak?"
"Mauuuu Kak!!" teriak semua antusias, kecuali Kak Haru. Dia terlihat sedikit tidak nyaman.
"Oi, Hakuba! Kenapa kau malah mengajak mereka bermain? Padahal Pak Raito menyuruh kita untuk menerangkan materi dan bukan bermain bersama mereka," ucapnya.
Hah ... mereka akan mulai bertengkar lagi.
"Sejak kapan Pak Raito mengucapkan hal itu? Dia hanya bilang kalau dia menyerahkan lima belas menit kelas melukisnya kepada kita. Jangan ngarang deh! Aku sedang tidak mau bertengkar denganmu, Haru," balas Kak Hakuba kesal.
"Tck, terserah kau sajalah. Tapi kalau kau disalahkan Pak Raito, jangan menyebut namaku. Karena aku tidak mau ikut-ikutan." Kak Haru kembali pasrah dan membiarkan Kak Hakuba.
__ADS_1
Perempuan itu pun tersenyum kemudian menghadap ke seluruh anak klub melukis. "Yap, abaikan saja dia. Mari kita mulai permainannya! Eh, sebelum itu, kakak jelaskan dulu cara bermainnya. Begini, kakak akan memberikan penghapus papan tulis ini kepada anak laki-laki yang ada di sana. Lalu, nanti kalian harus menyerahkan penghapus papan tulis itu ke teman yang ada di sampingmu. Terus begitu hingga membentuk pola ular. Contohnya ... dik, siapa namamu?" tanya Kak Hakuba kepada seorang laki-laki, dia adalah Akira.
"A-Akira kak." Dengan malu-malu ... Akira menjawab pertanyaan Kak Hakuba.
"Akira? ... are? Akira yang dulu itu? Elaah, sekarang kamu merubah gaya rambut ya sepertinya. Waduh, kakak sampai tidak bisa mengenalimu. Ya, Akira terlihat sangat tampan dan lucu dengan rambut seperti ini hihi .... Oke, kakak akan beri contohnya. Akira, ini kakak berikan penghapus papan tulisnya. Lalu, tugasmu adalah memberikannya kepada teman yang ada di sampingmu. Kamu, berikan ke teman yang duduk di sampingmu, lalu kamu, serahkan ke belakang. Begitu terus ya. Sudah paham?" Kak Hakuba menjelaskan cara bermainnya.
Ah, ternyata begitu, sekarang aku mengerti.
"Ya, Kak!" jawab kami bersamaan.
"Bagus, tapi cara bermainnya masih ada lagi. Kakak di sini akan menyanyikan sebuah lagu yang acak. Kemudian jika kakak berhenti bernyanyi, maka anak yang sedang membawa penghapus papan tulis tersebut harus diberi hukuman." Dia masih menjelaskan semuanya secara detail.
Eh, tunggu dulu ... hukuman?
"Hukuman?!"
"He'em, sebentar. Kakak mau mengambil sesuatu di tas," kata Kak Hakuba setelah itu berjalan mendekati tasnya dan mengambil sesuatu. "Akh, ketemu! Ini dia!" sambungnya sambil menunjukkan dua buah bando kelinci berwarna merah muda.
"Yah, inilah hukumannya. Jika mereka memegang penghapus papan tulis pada saat kakak berhenti bernyanyi, maka dia harus menari bersama Kak Haru mengenakan bando kelinci ini ...."
Heh ... bagaimana bisa.
"Sudah diam saja. Jika kau tak mau melakukan ini, maka tunggu di lapangan jam tiga nanti. Aku punya sesuatu untukmu." Sambil menampakkan senyuman yang tak bisa dituliskan dengan kata-kata. "Oke, pasti semua sudah paham, kalau begitu kita akan mulai!"
"Ini, Akira!"
"Aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali~" Tepat pada saat Kak Hakuba bernyanyi, Akira mulai bergerak. Dia menyerahkan penghapus papan tulisnya kepada teman yang ada di sampingnya, Hinata.
Permainan masih berlanjut, Kak Hakuba masih terus bernyanyi. "Semua semua semua dapat dikabulkan, dapat dikabulkan dengan kantong ajaib~"
Pada saat penghapus papan tulis sampai di tangan Rin, aku pikir sesuatu akan terjadi. Benar saja, dia malah menahan benda itu dan sengaja tidak diberikan kepadaku. "Hahaha ... aku akan membuatmu kena Ai!" ucapnya dengan tawa puas.
__ADS_1
"Ri-Rin ... berikan kepadaku!" Hmp! Dia memang sengaja ingin membuatku kena. Tapi tentu aku tidak akan membiarkannya.
"Tidak tidak, ambil saja sendiri." Rin grhhh ....
"Haa! Baling-baling bambu! La la la, aku sayang sekali ... hmp! Doraemon, haha ... ayo nyanyi semua! La la la aku sayang sekali ... doraemon~" Sesaat sebelum Kak Hakuba menyelesaikan lagunya, Rin pun memberikan penghapus papan tulisnya kepadaku.
"Hayo! Kamu kena, Dik! ...
... ayo maju!" Kak Hakuba, Kak Haru, dan semuanya menatapku yang sedang memegang penghapus papan tulis.
"E-eh, a-aku?"
"Iya, kamu! Ayo cantik! Maju ke depan! ... tidak apa-apa, kamu hanya perlu menari saja."
"Eeh emm ...."
"Aigoo ... jangan malu begitu ... tenang, Kak Haru juga akan ikut menemanimu menari kok. Sekedar info, dia adalah orang yang pandai menari lho!" ujar Kak Hakuba.
"Sudah kubilang, aku tidak mau. Kenapa kau tidak mendengarkanku? Pokoknya aku tidak mau! TerserAaaghhhhh!!" Lagi lagi, Kak Hakuba membuat Kak Haru tak berdaya. Dia menatap Kak Haru yang tengah memegangi kakinya.
"Haru ... ayolah ...." Kak Hakuba memegang tangan Kak Haru kemudian diletakkan di dadanya. "Apa kau mau menyakiti hati perempuan? Kumohon!" Tu-tunggu, tangan Kak Haru ada di ... eeeeeee ....
"Psst Ai, apa Kak Hakuba sedang melakukan adegan romantis atau memang ingin pamer dada. Mentang-mentang miliknya besar. Cih!"
"I-iya, ku-kurasa begitu."
Pipi Kak Haru pun seketika memerah. "He-hei Hakuba, apa yang kau lakukan ha? Aku bisa kena hukuman jika seseorang melaporkan hal ini!"
"Hei, kenapa kau memerah begitu? ...
... ah, aku tau. Kau suka dadaku ya? Hahaha bukankah besar? Laki-laki sepertimu pasti menyukainya, lihatlah! Pegang!"
__ADS_1
"HEEEE KAK HAKUBA!!" teriak Rin keras.
Ee ... sepertinya Rin mulai menunjukan sifatnya. Jika masalah besarnya dada, Rin pasti akan menjadi sensitif. Sedikit berlebihan memang hihi.