Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 65 : "Kamu dikeluarkan dari sekolah, Ai ...."


__ADS_3

"... kamu dikeluarkan dari sekolah," sambung wanita itu.


Deg!


Seperti ada petir yang menyambar telingaku. Aku terkejut, sangat terkejut tatkala mendengar kata-kata yang diucapkan olehnya barusan.


Brak!


Karena tak bisa menahan amarah, tanpa kusadari, aku menggebrak meja Bu Mai sekuat tenaga. Napasku masuk dan keluar secara cepat, aku benar-benar marah.


"Apa maksud ibu? Aku dikeluarkan dari sekolah?!" Seraya mengepalkan tangan, aku melontarkan pertanyaan kepadanya. Tak selesai hanya sampai di situ, aku kembali mengatakan, "Apa ini karena masalah aku memukul Reina? Bu, aku berani bersumpah, aku tak melakukannya! Itu semua hanya rekayasa Reina! Sungguh, percaya padaku, Bu!!!!"


Bu Mai menatap wajahku yang tepat berada di depannya. Ia lalu kembali ke posisi awalnya. "Maaf Ai, sesungguhnya, ibu juga tak yakin siswi yang ada di video adalah kamu. Tapi ini adalah perintah dari kepala sekolah. Ibu tak bisa membantahnya." Seraya membenarkan kacamatanya, Bu Mai mengucapkan hal itu.


"Ibu juga tidak yakin kalau siswi itu adalah aku, iya kan? Kalau begitu, tolong bantu aku meyakinkan orang-orang bahwa dia bukan aku. Ibu bisa melakukannya iya kan? Ibu bisa mengabulkan permintaan ini kan? Iya kan?"


Namun, ia justru menunjukkan reaksi yang berbeda. Bu Mai menggelengkan kepalanya. "Maaf, ibu benar-benar minta maaf Ai. Jika ibu melakukannya, maka ibu pasti akan dipecat," ungkap wanita tersebut.


Tepat setelah aku mendengar alasan kenapa dia tak bisa mau membantuku, aku berjalan mundur secara perlahan. Begini kah, begini kah keadilan yang ada di sekolah kami. Semuanya takut untuk membelaku. Haha ... ha ... sudah berakhir. Kurasa ... ini sudah berakhir.


Aku berlari keluar dari ruang Bu Mai dan menuju ke kelas. Sembari mengusap air mataku, aku masih terus berlari. Setibanya di kelas, tanpa melihat wajah siapapun, tanpa melirik apapun, aku langsung mengambil tasku dan lalu berlari lagi keluar kelas.

__ADS_1


"Ada apa dengan dia?


"Apa dia baru saja menangis?"


Samar-samar aku mendengar ucapan mereka, tapi aku tak mempedulikannya. Lebih baik aku keluar dari sekolah ini, secepatnya. Sebelum tangisku benar-benar pecah sekarang.


"Ai!" Suara seseorang yang tak asing bagiku, terdengar sedang berteriak memanggil namaku. Kurasa itu, Rey.


Kakiku masih bergerak dan berlari menuju gerbang sekolah. Sementara itu, air mataku mulai berjatuhan. Aku tahu, sebentar lagi aku pasti akan menangis lagi.


"Ai! Tunggu!" Namun, saat aku tiba di depan gerbang, seseorang menarik tanganku. Aku tahu, aku tahu siapa dia. Kenapa dia datang di saat saat seperti ini. Rey, kenapa dia di sini.


"Lepaskan!" Aku berusaha melepaskan tanganku. Sudah kucoba berkali-kali, akan tetapi tetap saja aku tak bisa. Tanganku terlalu lemah untuk menandingi genggamannya.


Namun, aku tak menjawabnya. Aku hanya menangis dengan isak yang sudah mulai terdengar.


"Lepaskan aku, Rey hiks ...."


"Jawab aku dulu, apa yang membuatmu menangis sampai seperti ini? Kalau kau me ... hah?!"


Tak bisa kutahan, ternyata sudah mencapai batasnya. Aku menangis sejadi-jadinya di depan Rey. Saat ini, aku tak mempedulikan fakta bahwa aku harus menjauhi Rey. Satu-satunya yang ada di pikiranku adalah, aku butuh seseorang untuk tempatku bersandar.

__ADS_1


"Ai ... hmm, tenanglah, kau boleh menangis di sini. Tak ada siapapun," ucap Rey sembari merangkulku. Hal itu semakin membuatku menangis keras. Di pelukannya, aku melepaskan semua air mata yang telah kutahan beberapa hari terakhir.


Tangisku tak kunjung berakhir. Rey mengusap rambutku pelan sambil mengucapkan, "Baiklah, kalau sudah mendingan, ayo masuk ke kelas lagi! Guru pasti sudah menunggu kita."


Aku pun melepaskan rangkulannya dan lalu menjauh sedikit dari tubuh Rey. "Aku mau pulang saja ...." Seraya mengusap air mata, aku menolak ajakan Rey. Benar, Rey masih belum mengetahui kalau aku sudah dikeluarkan dari sekolah. Hmm, itu adalah hal yang bagus. Kurasa untuk saat ini sebaiknya Rey tak perlu mengetahui apapun. Aku tak mau dia bernasib sama sepertiku.


Rey mengedipkan matanya dua kali, seolah sedang mencoba memahami apa yang barusan kukatakan. "Ah, baiklah. Kurasa itu adalah pilihan terbaik. Ya sudah, ayo! Aku akan mengantarmu pulang."


"Ngg ... nggak usah, Rey. Lebih baik kamu ikut pelajaran saja. Aku tak mau menjadi alasan nilaimu turun nanti," ucapku memberi saran.


Rey terdiam beberapa saat. "Yaa, kurasa itu memang benar. Tapi, kau pulang jalan kaki begitu? Sendirian?" tanya laki-laki tersebut. Sepertinya dia mengkhawatirkanku.


"Kan ada bus. Lagipula halte busnya tidak terlalu jauh.


... jangan khawatir, aku bisa menjaga diri."


"Ai ... hmm, ya baiklah. Tapi, kau baik-baik saja kan?" Lagi dan lagi, dia melontarkan banyak pertanyaan untukku. Kali ini tentang aku yang jalan kaki. Hihi, dia adalah laki-laki yang overprotective. Aku sangat menyukainya ... untuk sekarang. Tapi entah bagaimana nasibku besok.


Aku tersenyum dengan mata yang masih tampak sedih. "Jika aku menjawab baik-baik saja, maka aku berbohong. Tak apa, aku memang masih merasa sedih, tapi hanya sedikit."


Rey yang ekspresi awalnya tak percaya pun ikut tersenyum. "Yah, asalkan kamu tidak sedih lagi. Kalau begitu, aku pergi dulu ya! Kelas pasti sudah dimulai sekarang."

__ADS_1


Aku menganggukkan kepalaku. "He'em, aku juga mau ke halte. Daah~" Setelah itu, tanganku melambai-lambai di udara.


Sedangkan Rey, dia berlari masuk kembali ke sekolah. Aku berbalik, berjalan menuju halte bus untuk kembali ke rumah. Sebenarnya, aku juga tak yakin dengan keputusanku. Aku yakin, ibu pasti sudah menerima kabar ini. Dan pasti, pasti dia akan menghukumku. Setidaknya tiga tamparan kurasa.


__ADS_2