Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 33 : Kesopanan


__ADS_3

...Dimanapun kau berada, tetaplah jaga kesopananmu! Karena itu adalah yang utama....


...\=•\=•\=...


"Heeeee ... BAAAKAAAAAAAAAAAAA!" teriakku seraya berjongkok untuk menutupi bagian sensitifku yang setengah terbuka ini.


Laki-laki itu pun seketika terkejut. "A-Ai ... a-a-aku minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu tadi!" ucap seorang laki-laki dari balik kaca jendela. Ya, dia adalah Rey. Entah bagaimana dia bisa di sini. Eh tunggu sebentar, permasalahnnya saat ini bukanlah tentang hal itu. Di-dia ... mengeluarkan sifat mesumnya sekali lagi.


"Reey ... kenapa kau mengintip, ha? Kau ini memang mesum! Baka HENTAI!" Aku memegangi baju seragamku di depan dada agar dapat menutupi aset berhargaku yang hendak diintip oleh Rey ini.


"A-aku minta maaf. Ba-baiklah, a-aku akan berbalik. Ganti bajumu! Aku tak akan menengok ke belakang, ok?" Rey memberikan sebuah penawaran.


Meski sebenarnya aku merasa tidak nyaman, tapi ya mau bagaimana lagi. "Eeemhh ... baiklah. Tapi jangan berbalik! Awas saja kalau kamu mengintip lagi!" Aku memperingatkan laki-laki bermarga Tachibana tersebut.


"Iya ... iya ...." Rey membalikan badannya, hingga posisi badannya memunggungiku. Aku juga memutar badanku 180 derajat. Tanganku mulai membuka kancing bajuku satu per satu. Namun, kali ini aku merasa sedikit aneh. Yah, aku merasa bahwa setiap pergerakan yang sedang kulalukan saat ini, sedang diintai oleh Rey. Entah aku yang terlalu was-was atau memang Rey yang mesum.


"Sudah belum?!" tanya Rey keras.


"Belum!" jawabku berteriak


Aku bergegas mengenakan baju tidurku agar rasa was-was ini lenyap.


Kieett ...


Namun, tiba-tiba pintu kamarku terbuka secara perlahan. Jelas, hal itu membuatku terkejut bukan kepalang. Ketika pintu telah terbuka sepenuhnya, terlihat seorang anak kecil membawa boneka sedang berdiri di depanku. Yah, dia tak lain dan tak bukan adalah Miku.


"Eeeh ... ternyata kau, Miku. Hahh ... kakak kira apa tadi hahaha ...," ucapku sambil menghela napas lega. Tanganku masih dalam posisi menutupi bagian dadaku.


Miku mengedipkan matanya dua kali. "Kak, tadi aku dengar, kakak sedang berteriak 'belum!', benarkah? Kakak sedang berteriak kepada siapa?" tanya Miku dengan wajah kebingungan sekaligus penasaran.

__ADS_1


Aku terdiam seketika, tatkala Miku menanyakan hal tersebut. Aku bingung harus menjawab apa. Jika aku menjawab bahwa aku sedang berteriak kepada Rey, bisa-bisa Miku mengadu kepada ibu nanti.


"Eeh ... i-itu ... kakak hanya sedang berteriak kepada teman kakak yang ada di telepon. Ja-jadi, tidak ada apa-apa kok ahaha ...," jelasku mengarang cerita agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aku dan Miku.


"Aaah ... begitu. Ya sudah, Kak, aku tunggu di luar, ya? Kakak juga, pakailah baju dulu, baru teleponan. Apa kakak tidak malu jika nanti ada orang yang lewat?" ujar Miku memberi penerangan. Tunggu, kenapa aku malah diceramahi oleh adikku sendiri? Eee ... kenapa aku jadi merasa malu sendiri.


"Iya deh iya ...." Dengan satu tangan menggaruk-garuk bagian belakang kepala, aku menunjukan senyuman terpaksa.


Miku tersenyum lebar. "Ya sudah, Kak! Miku tunggu di luar, ya! Papay!" Miku berlari keluar dari kamarku sambil melambai-lambaikan tangan mungilnya di udara.


"I-iya ... pa-papay!" Aku pun melambai-lambaikan tanganku, seolah kita sedang melakukan perpisahan saja.


Ketika Miku telah keluar, aku pun menghela napas lega sekali lagi. "Hah ... untung saja dia percaya ...," ucapku lirih.


Pada saat yang bersamaan, aku kembali teringat, bahwa Rey masih ada di sini. Mengingat hal itu, aku pun bergegas memakai bajuku, sebelum dia berbalik.


"Ai, sudah belum? Aku mulai sedikit merinding kau tahu ...," ungkap Rey dengan logat bicara orang yang sedang ketakutan. Memangnya, ada apa di situ? Kenapa Rey sampai ketakutan seperti itu?


Sama halnya denganku, Rey juga berbalik. Namun, ketika dia sudah berbalik, laki-laki itu malah terdiam seraya menatapku. Ia menatapiku mulai dari kaki hingga wajah.


"Re-Rey ... jangan memandangiku seperti itu. Aku malu ...," ujarku dengan pipi memerah.


"Hm? Ah, tidak kok. Aku tidak memandangimu. Aku hanya melihat-lihat penampilanmu, itu saja," tanggap Rey santai. "Omong-omong, kau terlihat lebih cantik jika mengenakan baju tidur daripada seragam sekolah. Y-ya, maksudku, kau ini memang sudah cantik dari dulu. Tapi, kamu terlihat lebih cantik jika kamu berpenampilan seperti ini," kata Rey dengan posisi tangan memegang tengkuk kepalanya. Pipi Rey juga sedikit memerah.


"Ee ... ja-jangan mengatakan hal itu! A-aku malu kau tahu ...." Hah ... pipi Rey saja memerah, apalagi aku.


Akhirnya, suasana di antara kami pun mendadak menjadi hening. Sebenarnya, aku ingin mengajak Rey masuk ke dalam, tapi entah mengapa aku sungkan. Ayahku selalu mengajarkan kepadaku, bahwa jangan pernah membiarkan laki-laki yang bukan dari keluarga kami, menyentuh bagian pribadiku. Karena ingin melaksanakan pesan ayah, jadi, aku pun menjauhi semua laki-laki, tidak, bahkan semua orang. Aku tahu, aku memang berlebihan dalam menjalani pesan ini.


"Eem ... Re-Rey ... a-ayo masuk. Bu-bukan apa-apa, a-aku hanya ... ya ... itu ...." Untuk yang kesekian kalinya, aku lupa apa yang ingin kukatakan barusan.

__ADS_1


"A-ah ... baiklah." Rey bergerak dan mulai memanjat masuk lewat jendela kamarku yang tingginya kira-kira satu meter.


"Eeehh ... a-apa yang ingin kau lakukan, Rey?!" tanyaku.


Rey terdiam dan menghentikan pergerakannya sejenak. "Hm? Katamu, aku boleh masuk," tanyanya kebingungan.


"I-iya ... ta-tapi apa yang kau lakukan?" tanyaku sekali lagi. Tunggu, kenapa aku jadi ikut kebingungan?


"He? Tentu saja aku ingin masuk ke–" Belum selesai Rey berbicara, laki-laki itu kembali membisu. "Astaga, aku lupa! Maaf maaf, Ai. Hah ... kebiasaan sekolahku sampai terbawa ke sini. Tunggu tunggu, sekali lagi aku minta maaf, ya, Ai? Aku akan masuk lewat pintu saja," ujar Rey. Setelah melewati beberapa saat, akhirnya dia paham juga apa yang kumaksud 'apa yang kau lakukan?'. Benar, aku memang tidak suka jika orang lain masuk dengan cara yang tidak sopan seperti Rey tadi. Tapi, di sisi lain, aku juga tidak suka memarahi orang-orang. Maka dari itu, jika ada seseorang yang berbuat buruk, aku hanya menegurnya dengan lembut. Terkadang ada yang paham, ada pula yang tidak.


"Eeh ... omong-omong. Pintu depan ada di sebelah mana, Ai?" Rey berjalan mundur untuk bertanya.


"He? Bukannya kamu sudah tahu?" tanyaku bingung.


Anehnya, Rey malah tertawa kecil. "Hahaha ... ya, memang aku sudah tahu. Hanya saja, aku ingin melihat wajah cantikmu sekali lagi," ujar laki-laki itu.


"Heeee ... REEYYYYY!" Aku berteriak sekeras-kerasnya. Lagi-lagi dia memujiku, kukira kenapa tadi. Hahhhhh ... aku kesal benar-benar kesal.


"Ahahaaha ...." Rey hanya tertawa untuk menanggapi teriakan kerasku.


\=•\=•\=


Aloha gess, maap Miku baru up sekarang. Sebenernya ni chapter udah Miku tulis dari 3 hari yang lalu. Tapi Miku gak lanjutin dulu, soalnya Miku lagi fokus nulis chapter novel 'History of Yuuki'. Apa itu?



'History of Yuuki' adalah novel fantasi, asli buatan Miku. Mengusung tema elementalist di zaman Jepang kuno, 'History of Yuuki' akan hadir menemani hari-hari kalian ciyaah .... Tanggal rilis masih belum tau, ya. Tapi rencananya Miku mau publish novel ini pas hari pertama Bulan Ramadhan. Antara hari selasa sama Rabu ya kan? Tergantung keputusan negara sih. Itu masih rencana, belum sepenuhnya benar. Tapi do'ain aja, biar Miku bisa publish novel ini pas awal Bulan Ramadhan.


(Miku mau beramal di Bulan Ramadhan, caranya ya menghibur semua orang dengan novel yang Miku buat. Btw, kok malah promo sih eaak....)

__ADS_1


Sekian dan terima kasih


-Miku, 2021


__ADS_2