
...Ada kalanya kita merasa nyaman karena cinta, ada pula masa dimana kita tidak nyaman....
...\=•\=•\=...
Keesokan paginya, aku kembali masuk sekolah seperti biasanya. Kini, aku sedang duduk di bangkuku sambil membaca buku. Yaaa, aku sedang membaca buku novel romantis. Aku memang sengaja melakukan ini karena aku ingin tahu, bagaimana reaksi sang protagonis wanita tatkala mendapatkan hal-hal yang romantis dari protagonis pria. Kau tahu, akhir-akhir ini, Rey semakin mendekatiku entah kenapa. Dan kupikir, aku ini gampang terbawa perasaan. Pipiku ini selalu memerah saat Rey dekat denganku. Seperti ... hal yang terjadi semalam.
Arghh ... kenapa aku malah mengingat hal yang terjadi semalam? Sadarlah Ai!
Aku memukul-mukul pipiku dan kemudian menenggelamkan wajah di balik buku yang kubaca tadi. Namun, tiba-tiba, aku merasakan bahwa seseorang datang dan mendekatiku. Karena penasaran, aku pun melihat siapa orang yang ada di depanku.
"Ohayou, Ai!" sapa seorang laki-laki remaja dengan senyuman lebar di wajahnya.
"Heeee! ... ah, ternyata kau, Rey. Huft ... mengagetkan saja." Aku yang awalnya tersentak pun kembali duduk setelah mengetahui bahwa laki-laki itu adalah Rey. Huft ... baru saja aku mengatakan hal tentang dia, eh dianya datang.
Rey melakukan tindakan seperti biasanya. Dia menduduki bangku yang ada di depanku setiap paginya. Entah apa yang membuat Hana–si pemilik bangku, mengizinkan Rey menggunakan bangkunya. Heh ... sudahlah.
Aku memutuskan untuk kembali membaca buku dan tidak menghiraukan dia. Yaaa ... setiap aku melihat wajahnya, aku pasti akan mengingat kejadian semalam. Saat ku sudah mengingatnya, pipiku akan kembali memerah. Huftt ....
"Hei, Ai!" Rey memanggil namaku.
"Hm?" Namun, aku menanggapinya dengan tanpa melihatnya.
"Eemm ... apa yang sedang kau baca?" tanya Rey.
"Aa-ahh, aku sedang membaca novel. I-itu, novel fantasi," ujarku. Aku memang menjawabnya dengan baik, tetapi situasi di balik buku sangat bertolak belakang.
Setelah aku mengatakan hal itu, tiba-tiba tidak terdengar tanda-tanda suara manusia lagi. Suasana di antara kami pun mendadak berubah menjadi sunyi senyap. Ada apa dengan Rey? Itu adalah kata-kata yang terlintas di pikiranku saat ini.
__ADS_1
Aku ingin mengecek keadaan di balik buku novel. Namun, di satu sisi, aku tak ingin menatap wajahnya. Akan tetapi, di sisi lain, aku penasaran. Arghh ... kenapa pilihan ini begitu sulit.
"Baiklah!" Dengan keyakinan dan tekad, aku mengintip dari balik buku. Jangan terbawa perasaan, jangan terbawa perasaan, jangan terbawa perasaan, kumohon, bersikap biasa-biasa saja. Sekarang, aku mengubah pikiranku.
Kepalaku bergeser, beriringan dengan badanku. Dari balik buku, aku melihat Rey sedang membaca sebuah buku juga. Tunggu, itu ... novel yang sama?
"Ekhem ... jadi, Ai. Kau sudah membaca novel ini sampai bab berapa?" tanya Rey seraya menandai satu halaman novel.
"Lho, Rey? Kok ka-kamu punya novel ini juga?" tanyaku kebingungan.
Rey tersenyum kepadaku, tapi, senyumannya itu berbeda. Aku tidak bisa menuliskannya dalam kata-kata. "Tentu saja, novel 'Nanairo Shymphony' adalah novel yang sedang trend saat ini. Hampir setiap remaja Jepang memiliki setidaknya satu seri novel ini," ujar Rey.
Memang benar bahwa 'Nanairo Shymphony' adalah novel yang sedang trend saat ini. Selain ceritanya yang bagus, pemeran dalam novel ini juga terkesan seperti remaja sekolah jepang pada umumnya. Jika ditanya siapa tokoh favoritmu, maka aku akan menjawab, 'Risa Hanazawa'. Dia adalah sang tokoh utama. Alasanku menyukai tokoh ini adalah, karena kisah hidupnya sangat mirip dengan kisah hidupku.
"Tapi, aku heran, bagaimana bisa novelnya ini sangat mirip dengan kisah hidupmu. Tapi, bedanya, di sini dia berpasangan dengan seorang pemain biola dan bukan pianis. Huft ... semoga saja, aku memiliki kekasih seperti Risa, ya. Meski hidupnya hancur, tetapi dia tetap semangat," sambung Rey sambil menatapku.
"Aa-ah ... iya iya." Aku hanya menganggukan kepalaku dua kali, karena aku tidak tahu apa yang dia katakan.
Aku tersenyum. "Ahaha ... tidak apa-apa kok, Rey. Aku baik-baik saja. Lagipula, kejadian kemarin terasa sangat menghangatkan," ujarku berupaya membuat Rey tidak merasa bersalah lagi.
"Eeem ... kau memaaafkanku? Ja-jadi, aku boleh melakukan hal itu sekali lagi?" tanya Rey.
Aku menganggukan kepalaku lagi. "Iya," tanggapku. Namun, pada saat yang bersamaan, otakku baru mengerti sepenuhnya tentang setiap kata yang diucapkan oleh Rey. "Ee-eh ... maksudku tidak. Tidak tidak." Aku mengubah jawabanku pada saat itu juga. Sial, otakku terlambat mencerna kalimat.
"Hee ... ayolah. Kau bilang bahwa kejadian kemarin itu menghangatkan. Jadi ... kita ulang sekali lagi?" Rey memberikan tawaran.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. "Tidak! Tidak! Tidak! Rey, jangan bersikap seperti itu. Jika kau mengulangi kebiasaan ini, bisa-bisa, tidak ada gadis yang mau dekat denganmu nanti!" ujarku. Aku memperingatkan Rey agar dia tidak mengulangi hal itu.
__ADS_1
"Iya deh iya. Aku hanya bercanda tadi hehe ... oh ya, dua minggu lagi adikku akan ulang tahun. Ya, Hikari yang kuceritakan kepadamu kemarin. Dia akan berulang tahun tanggal 28 nanti. Jadi, kuharap, kau bisa datang, ya? Jangan lupa mengajak Miku juga. Aku ingin melihat reaksi Hikari saat bertemu anak seusianya," ucap Rey mengundangku menghadiri acara ulang tahun adiknya.
"Eem ... boleh. Memangnya, usia adikmu berapa, Rey?" tanyaku.
"Ya, sekarang ini dia masih berusia lima tahun. Saat dia ulang tahun nanti, maka berarti dia berusia enam tahun." Rey menjelaskan kepadaku sambil sesekali berpikir
"Ah, baiklah. Aku akan usahakan hadir dan mengajak Miku. Aku tidak sabar bertemu Hikari. Didengar dari namanya saja, dia pasti cantik dan imut. Aarhh aku tidak sabar."
"Haha ... dia memang cantik dan imut seperti dirimu dan Miku," ucap Rey. Hmm ... dia melakukan hal itu lagi.
"Re-Rey!" Sial, pipiku memerah lagi. Jika saja ada sebuah sekolah yang mengajarkan bagaimana cara agar tahan dari rayuan pria tampan, maka aku pasti akan mendaftar dengan senang hati ... mungkin.
Ketika kami sibuk mengobrol, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kelas sembari berteriak, "BU MAI DATANG!" Hori berteriak, memberi tahu bahwa Bu Mai sedang dalam perjalanan ke sini.
"Aah ... ini sudah jam masuk sekolah, ya. Baiklah kalau begitu, Ai. Nanti saat istirahat, kita akan lanjut mengobrol." Rey tersenyum kemudian berjalan menuju bangku kursinya yang terletak di sampingku.
Tap! Tap! Tap!
Bu Mai masuk ke dalam kelas. Seperti biasa, guru cantik dan ramah ini mengenakan kacamata berwarna hitam kesayangannya.
\=•\=•\=
Ai : "Halo teman-teman, berhubung ini bulan Ramadhan, jadi, kami akan usahakan untuk hadir setiap hari dan menemani waktu-waktu ngabuburit kalian."
Rey : "Yap! Kami akan usahakan hadir di antara pukul 16.00 - 17.30 WIB."
Ai : "Jangan lupa tinggalkan like, komen, dan vote jika kalian suka, ya?"
__ADS_1
Rey & Ai : "Arigatou Gozaimashita, Minna!"