Ai To Shiawase

Ai To Shiawase
Ch. 46 : Masalah Ryuji


__ADS_3

...Masalah tidak akan menjadi masalah, jika tidak dipermasalahkan. -Hikigaya Hachiman....


...\=•\=•\=...


Aku Rey dan Rin memutuskan untuk memesan makanan lebih dulu karena jam istirahat hampir berakhir. Sebenarnya, kami ingin menunggu Ryuji, tapi ya sudahlah. Seperti biasa, kami duduk di tempat yang sama. Aku duduk bersama Rin sementara Rey duduk di seberang kami. Rin dan Rey sudah mulai makan, tapi aku tidak. Entah kenapa perasaanku tidak enak saat memikirkan Ryuji. Bukan karena aku menyukainya atau apa, tapi dia adalah sahabatku. Orang yang selalu menghadirkan tawa dan memecah keheningan. Jujur saja, jika dia tidak ada, maka seperti ada yang kurang di sini.


"Ai, kenwapaa kao twidak mwakan?" tanya Rin dengan mulut penuh akan mie ramen. Jadi, ucapannya tidak terlalu jelas.


Pertannyaannya berhasil memecah lamunanku. "Eh? Nggak apa-apa kok, Rin," jawabku.


"Ai, apa kau sedang memikirkan sesuatu? Jika iya, apa yang kau pikirkan? Dilihat dari wajahmu, sepertinya kau sedang memikirkan hal yang tidak enak didengar." Rey menanyakan hal itu kepadaku.


"Hah ... kau tahu itu Rey. Ini tentang Ryuji. Entah kenapa aku selalu memikirkan dia. Firasatku selalu mengatakan bahwa suatu hal buruk sedang terjadi kepadanya. Makanya, aku takut jika hal itu benar-benar terjadi." Aku menundukan kepalaku dengan perasaan sedih.


Sementara Rin dan Rey hanya menatapku dengan tatapan bingung. "Ai, kenapa kau begitu mengkhawatirkannya? Dia hanya orang biasa dan tidak lebih dari sahabatmu. Laki-la–tidak, maksudku si pengecut itu juga tak memiliki rupa yang begitu tampan. Jadi, kita tak memiliki alasan untuk mengkhawatirkannya. Lagipula, bukankah kau memiliki Rey? Dia jauh lebih tampan dan keren dari si pengecut itu. Ya, meskipun otak mereka sama-sama kosong." Rin menjelaskan dan memintaku agar tidak terlalu mengkhawatirkan si penge–maksudku Ryuji.


"Huhh ... masa bodoh dengan 'otak kosongnya'. Ya, Ai ... kurasa gadis judes ini benar. Ryuji adalah laki-laki, dia pasti tahu apa yang terbaik. Dan, bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa 'mungkin saja Ryuji memiliki masalah'. Jadi, maksudku, kau tak perlu mengkhawatirkannya. Percayalah, dia pasti akan segera kembali." Rey juga tersenyum kepadaku.


"Tapi, masalahnya ... sifat Ryuji hari ini sangat berbeda. Dia bertingkah laku seperti bukan Ryuji yang kita kenal. Apa kalian sadar akan hal itu?" Aku bertanya sekali lagi. Firasatku ini memang membuatku bingung.


Rin merangkul bahu kananku. "Sudah sudah. Lupakan masalah Ryuji. Makanlah dulu! Bukankah kau sedang sakit? Jangan banyak berpikir Ai. 'Ryuji pasti baik-baik saja'. Itu adalah jawaban yang akan selalu kukeluarkan jika kamu bertanya tentang Ryuji. Jadi, sudah, ya? Aku merasa kasihan kepada Rey. Dari tadi dia pasti merasa cemburu karena kau memgkhawatirkan cowok lain." Pada saat seperti ini, Rin malah menggoda Rey dengan ucapan tak aturannya. Tapi, aku malah suka hal itu. Ucapan Rin membuatku sedikit tenang. Dia benar juga. Ryuji pasti baik-baik saja, aku yakin itu.


Tap ... tap ... tap ....


Pada saat yang bersamaan, kami mendengar suara langkah kaki seseorang datang mendekati kami. Suara itu terdengar dari belakangku dan Rin. Rey ternganga saat melihatnya.

__ADS_1


"Rey, kenapa?" tanyaku kemudian berbalik untuk melihat alasan kenapa Rey ternganga. Aku sangat terkejut tatkala melihat bahwa ternyata orang itu adalah Ryuji. Dia berdiri di depan kami sambil memasang senyuman di wajahnya.


"Hei! Maaf membuat kalian menunggu. Aku memiliki sedikit masalah tadi." Ryuji menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya.


"Ryuji ... kau–" Aku hendak bertanya kepadanya tentang keadaan dia saat ini. Tapi, untuk yang kesekian kalinya, Rin kembali memotong kata-kataku. "Hei, Ryuji! Kenapa kau memasang senyuman seperti itu, hm? Seolah tak terjadi apa-apa. Apa kau tahu? Kami sangat sangat mengkhawatirkanmu dasar bo–huft tenang tenang. Aku tidak boleh mengucap hal-hal kotor. Sabar Rin, sabar."


"Hee ... hah ... sudah kuduga pasti kau adalah orang yang akan memarahiku pertama kali. Ya, aku anggap itu sebagai nasehat. Pertama, aku ingin meminta maaf kepa kalian, karena telah membuat kalian khawatir. Yang kedua, aku ingin berterima kasih karena telah mengkhawatirkanku. Dan yang ketiga, aku berterima kasih karena telah dipesankan ramen. Oke sekian." Ryuji langsung duduk di dekat kami, lebih tepatnya di samping Rey.


Namun, saat dia duduk .... "Eh, aku belum dipesenin makanan kah? Kukira udah elahh ...."


"Cobalah gunakan otakmu sedikit. Mana ada orang yang memesankanmu makanan jika tidak tahu apa yang dia inginkan. Dan, aku juga tidak sudi memesankan makanan untukmu!" Rin kembali mengatakan hal itu. Dia benar-benar tidak bisa akur dengan Ryuji. Tapi, Ryuji memberikan reaksi yang berbeda sekarang. Biasanya, dia akan marah dan mengajak Ryuji berdebat. Tapi, hari ini tidak.


"Huftt ... baiklah baiklah. Kau ini memang tidak mau berbuat baik kepada orang lain. Kudoakan semoga kau selalu menjomblo ... amin!" balas Ryuji. Emm ... sepertinya tidak ada yang berubah darinya deh.


"Apa kau bilang, hah?!"


Rin menggebrak meja kemudian memukul Ryuji sekuat-kuatnya.


Kedebug ...


Ryuji terjatuh dari kursinya daj tergeletak di lantai. Perhatian semua orang pun langsung tertuju kepada mereka berdua, maksudku kami. Emm ... suara jatuhnya kira-kira begitu. Aku tak begitu bisa mendengar suara jatuhnya.


Lagipula, kenapa aku malah mempermasalahkan suara jatuh?


"Aduuhhh ... pinggangku ...."

__ADS_1


"Ryuji ... aku tahu kau sangat membenciku. Tapi, jangan kelewatan juga dong. Jika aku benar-benar tidak punya pacar hingga aku dewasa nanti, maka aku akan mendatangi rumahmu dan merenggut nyawamu. Ingat itu!" ancam Rin dengan wajah penuh amarah.


"Elaahh, aku cuma bercanda tauu ... iya iya. Semoga kamu segera mendapat pacar. Tapi cowok yang nggak ganteng aja haha! Kaabborrr!" Ryuji bergegas bangkit kemudian berlari.


"Apa kau bilang? Hei, Ryuji jangan kabur! Erghh ... hmp!" Rin kembali duduk dengan wajah marah. Seperti biasa, jika dia marah, maka pipinya akan menggembung sebelah. Saat itulah, aku menyadari bahwa Rin adalah gadis Tsundere, ya meski sedikit Yandere sih.


Aku kembali tertawa kecil. Aku senang kalau Ryuji sudah kembali dan melakukan hal-hal lucu lagi bersama Rin.


Tak berselang lama, Ryuji kembali ke meja. Dia membawa semangkuk ramen dan lalu duduk di sebelah Rey. Sementara itu, Rin masih menatapnya dengan tatapan sinis. Suasana hening pun tercipta.


Duh, jika tidak segera mengobrol, bisa-bisa Rin melalukan hal seperti tadi. Dia sudah menandai kejadian tadi dan tak akan pernah melupakannya, pasti!


Namun, suasana hening itu berakhir tatkala Ryuji membuka topik pembicaraan.


"Eh, Ai. Sepulang sekolah, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Kau mau tidak?" tanya Ryuji.


"Eh?"


"Tidak tidak. Apa yang ingin kau lakukan dengan Ai! Tidak, aku tidak mengizinkan!" sahut Rin kesal.


"Tenanglah. Aku tak bermaksud apa-apa kok. Aku hanya ingin curhat saja. Kupikir, Ai adalah anak yang baik dan ramah. Jadi mungkin dia memiliki solusi yang tepat untuk masalahku," ucap Ryuji.


"Memang, apa masalahmu? Ceritakan saja kepada kami. Siapa tahu, kita bisa membantu." Rey melontarkan pertanyaan kepada Ryuji.


"Maaf, ini adalah masalah keluargaku. Jadi, aku tak bisa menceritakannya kepada sembarang orang, hanya beberapa saja," jawab Ryuji dengan wajah murung.

__ADS_1


Melihat wajah Ryuji yang terlihat sedih, aku pun menjawab, "Baiklah, aku mau!" Ya, mungkin aku bisa membantu menyelesaikan masalahnya. Meskipun ini semua terdengar aneh.


Rey dan Rin hanya bisa melihat dan saling bertatapan.


__ADS_2