
...(Rey POV)...
...***...
...Jangan melihat orang hanya dari penampilannya, karena bisa saja dia tidak sesuai yang kau bayangkan -Nakamura Rin....
...\=•\=•\=...
Seusai jam pelajaran berakhir, aku keluar dari kelas untuk makan di kantin. Sebenarnya, aku ingin mengajak Ai makan bersama dan menceritakan semua kejadian yang aku dan Rin alami kemarin, tapi sepertinya dia sedang sedih.
Hah ...
Aku tak bisa berbuat banyak sekarang ini. Ya sudahlah, lebih baik aku ke kantin dan membeli minum atau apalah untuknya, aarhhh tidak tidak, itu adalah ide buruk. Aku tak boleh mengganggu Ai.
Dengan perasaan bingung dan sedikit khawatir, aku pun memutuskan untuk keluar dari kelas. Ya, aku tak tahu aku ingin kemana, tapi yang pasti aku akan mencoba memberinya ruang sendiri.
Ketika aku bingung harus kemana, sebuah ide langsung terlintas di kepalaku.
Sebaiknya aku menemui Rin saja, aku ingin bercerita sekaligus bertanya tentang kejadian kemarin.
Ya, baiklah.
Aku pun bergegas menuju ke kelas Rin. Saat sudah sampai di depan pintu kelas, aku melihat suasana kelas Rin yang begitu ramai akan siswa. Kebanyakan siswi perempuan yang mengobrol. Tapi, dari kejauhan, aku melihat Rin tengah duduk terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Rin Rin!" panggilku berteriak. Namun, sayangnya Rin tidak mendengarku, tak peduli berapa kali aku berteriak. Mungkin karena suasana kelas yang terlalu riuh.
Kebetulan, seseorang yang sepertinya adalah teman sekelas Rin lewat di depanku. Dia berhenti dan bertanya, "Bukankah kau adalah murid di klub musik itu? ... emm, siapa namamu? Ah, iya ... Rey. Benar, 'kan?"
Seorang gadis dengan rambut pendek seperti laki-laki dengan tubuh pendek dan mungil. Tapi, aku juga tidak yakin dia adalah perempuan. Maksudku, penampilannya itu seperti laki-laki tapi suaranya seperti seorang perempuan, mirip suaranya Ai.
"He? Bagaimana bisa kau tahu namaku? Dan juga, bagaimana bisa kau mengetahui bahwa aku adalah salah satu murid di klub musik?"
"Hahaha ... kau mungkin tak tahu aku. Aku juga murid di klub musik. Saat itu kau pernah tampil bermain piano, ya aku ingat dari situ."
"Ooh ... oke."
__ADS_1
"Omong-omong, aku adalah Shiro Nagakusi, kau bisa memanggilku Shiro. Salam kenal, Rey!" Dia mengulurkan tangannya untuk mengajak berjabat tangan kurasa.
"Oh, salam kenal juga, Shiro. Tapi ... namamu seperti laki-laki, ya? Maksudku, biasanya seorang gadis memiliki nama yang cantik," ucapku bingung.
"Tapi, aku ini laki-laki," ungkapnya seraya memegang rambut pendeknya. Disertai suara malu-malu dan pipi yang memerah.
Sial, dia sangat imut. Rey sadarlah! Jangan menjadi gila.
"Ah, begitu. Tadi kusangka kamu adalah seorang perempuan hahaha ...." Aku menggaruk-garuk bagian belakang kepalaku sambil tersenyum malu.
"Hihi ... tak apa. Semua orang juga mengatakan hal yang sama saat bertemu denganku. Oh ya, apa yang kau lakukan di sini, Rey? Bukankah kelasmu ada di samping?" tanya Shiro.
"A-ah, itu ... aku ingin memanggil Rin, tapi sepertinya dia tidak dengar."
Saat aku menyebut kata 'Rin', Shiro pun menengok ke belakang. Lebih tepatnya ke arah Rin yang tengah duduk sambil melamun. Dia kemudian berbalik lagi, seraya berkata, "Aku akan memanggilnya. Kau tunggu di sini sebentar, ya."
"Eh? Tidak usah, Shiro," cegahku.
"Haha tak apa. Tunggu sebentar!" Shiro benar-benar menghampiri Rin. Dia berbicara dengan Rin.
Saat berbicara, tangan Shiro menujuk ke arahku. Rin pun menatap arah yang ditunjuk oleh cew–maksudku laki-laki itu.
"Halo, Rey! Ada apa?" tanya Rin.
"Eh ... apa kau sedang sibuk?"
Rin menatapku. "Hmmm ... memang ada apa? Ya ... ya ... ya tidak sih. Aku tidak sedang melakukan apa-apa, hanya sedang melamun saja."
Aku membalas tatapan Rin dengan tatapan yang agak sedikit serius. "Aku ingin berbicara denganmu. Hanya kita berdua saja."
"Woo ... woo ... woo ... tunggu sebentar. Apakah ini modus atau semacamnya? Ingat Rey, bukankah kau menyukai Ai? Bagaimana bisa kau langsung berpindah kepada gadis lain? Lagipula, aku juga tak mau mengkhianati sahabatku sendiri," jawab Rin.
Ekspresi wajahku yang awalnya serius pun seketika menjadi keheranan. "Apa maksudmu, Rin? Jangan terlalu percaya diri kau."
"Hm? Bukankah kau memang begitu? Laki-laki pasti akan selalu melakukan hal seperti ini. Ketika dia melihat gadis cantik, maka pasti dia akan berpaling. Haha, fakta tertua dalam kamus percintaan remaja, benar-benar kuno. Jika kau memang ingin berpaling, maka jangan buat gadis yang sedang ada di sisimu itu nyaman. Menyakiti hati seorang perempuan adalah salah dalam hukum percintaan," ucap Rin panjang dan lebar.
"Rin ... sungguh, bukan itu yang ingin kukatakan kepadamu. Aku tak mungkin meninggalkan Ai begitu saja. Selain itu, KAU INI SEDANG BERBICARA APA? Tiba-tiba berbicara tentang aku yang berpaling dan mendekatimu lalu menyakiti hati seorang perempuan, kenapa kau mengatakan hal yang begitu jauh? Dan, kau menyebut dirimu sendiri 'gadis cantik'? Maksudku, apa kau yakin dengan hal ini?" Aku berbalik tanya.
__ADS_1
"He? Kau tak sedang ingin menggodaku kah? Haha ... ternyata aku salah sangka. Ya ya ya maafkan aku kalau begitu. Eh, tunggu dulu, apa maksud kalimat terakhirmu? Memang, kenapa jika aku menyebut diriku sendiri 'gadis cantik'? ... oooh, aku tahu maksudmu. Jadi, kau sedang menghinaku, ya ... baiklah."
"Eh bu-bukan begitu!"
Di tengah-tengah perdebatan kami, Shiro datang dan menengahi. "Emm, sepertinya kalian sedang tidak baik-baik saja. Ya sudah kalau begitu, aku akan pergi meninggalkan kalian, ya. Jika ada apa-apa, bilang saja kepadaku," ujar Shiro kemudian pergi meninggalkan kami berdua.
"Daah, Shiro~" Rin melambaikan tangannya kepada Shiro. "Menurutmu, jika aku memiliki pacar seperti dia, apa yang akan terjadi, ya? Aaakhh, aku tidak bisa membayangkan saat aku dan pacarku akan bahagia bersama tanpa adanya perselisihan." Rin tersenyum sembari berharap. Terlalu berharap sepertinya.
"Mungkin dia akan ketakutan, karena ... kau tahu. Memiliki pacar galak dan bar-bar adalah sebuah masalah besar untuk para laki-laki." Aku sedikit mengejek Rin lagi.
"Hei, apa kau menghinaku lagi, ha?!"
"Tidak tidak, aku hanya mengucap fakta."
"Hah ... ya sudahlah. Lupakan saja! Bagaimana dengan masalahmu tadi? Memang apa yang ingin kau ceritakan kepadaku?" Rin bertanya kepadaku.
"Ah, aku ingin bercerita kepadamu tapi bukan di sini. Kurasa, di sini terlalu ramai," ujarku seraya melihat suasana di kelas Rin yang masih saja ramai.
"Lalu, di mana?"
"Emm, bagaimana jika di halaman belakang sekolah? Di sana adalah tempat yang sejuk dan sepi, kan?"
"Eem ... oke, aku ikut saja. Apa kita harus mengajak Ryuji juga?"
"Tidak perlu. Aku hanya ingin berbicara denganmu."
"Ooh, oke. Ayo!"
Akhirnya, aku dan Rin berjalan menuju halaman belakang sekolah bersama. Aku hanya ingin bercerita saja, tidak lebih.
...\=•\=•\=...
(SS an hp sepupu Miku)
Etto ges, kalo kalian pengen tau perkembangan novel, bisa diliat IG Miku awokawok. Ya gk maksa sih. Bagi yg mau aja.
__ADS_1
Btw mungkin ini adalah up terakhir Miku. Soalnya Miku bakal off sampe tanggal 9 juni. Ya semoga aja Miku tetep bisa up. Arigatou Gozaimashita.