
...Kebahagiaan belum tentu berasal dari barang-barang mewah yang kita miliki. Namun, kebahagiaan juga bisa datang dari hal-hal kecil yang kita lakukan....
...\=•\=•\=...
Aku berjalan mendekati pintu depan untuk membukakan pintu agar Rey dapat masuk ke rumah. Namun, ketika aku hendak membuka pintu, tiba-tiba sekelebat ingatan mulai muncul di pikiranku. Aku baru ingat, kalau Miku sedang duduk sambil bermain boneka di belakangku. Lalu, apa jadinya jika aku membukakan pintu. Mungkin saja, Miku akan bingung dan mengadu kepada ibu nantinya. Aduh, bagaimana ini.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu itu berhasil membuyarkan lamunanku seketika. Ternyata, dari balik pintu, Rey sudah menunggu untuk dibukakan. Ya, aku tau dari celah jendela di sisi pintu. Aarghh, aku harus bagaimana. Buka atau tidak?
"Nanana ... na ... hee? Kak, itu ada yang mengetuk pintu, kenapa kakak tidak membukakan pintunya?" tanya Miku yang sepertinya tidak tahu keadaan saat ini, tidak, dia memang tidak tahu.
Setelah mendengar pertanyaannya. Aku pun langsung menjadi gelagapan alias salah tingkah. Saat ini, otakku tidak mau membantu. Aku bingung dalam menjawab pertanyaan sederhana tetapi menyulitkan ini. "I-itu ... ah, ti-tidak ada apa-apa kok, itu hanya kucing saja ahaha ...," jawabku mengarang cerita. Dipikir-pikir, jawabanku ini agak tidak masuk akal. Bagaimana bisa seekor kucing dapat mengetuk pintu tiga kali dengan suara keras seperti ini. Hahh ... otak oh otak, kenapa kamu tidak bisa diajak kerja sama.
"Hmmm ... memang kenapa kucing mengetuk pintu, Kak? Kan jendela kita selalu terbuka. Lagipula, kan, mereka mengeong untuk meminta perhatian," ucap Miku sekali lagi. Bukannya selesai, dia justru semakin menyulitkanku. Kalimat-kalimat yang dilontarkan olehnya memang terdengar sederhana, tetapi aku kesulitan dalam menjawab. Apa dia ini benar-benar lima tahun?
"A-aah ...." Kali ini, aku benar-benar tidak bisa menjawab. Sepertinya aku sudah terkena 'skakmat' oleh Miku. "I-itu ...." Ketika aku hendak menjawab, tiba-tiba terdengat suara seseorang memanggil namaku dari luar.
"Ai! ... apa pintunya rusak? Mau kubantu mendobrak?" tanya Rey berteriak. Aduh, kenapa dia berteriak di saat seperti ini?
Perhatian Miku langsung tertarik kepada sumber suara. Tuh kan, semua jadi kacau.
"Ai? Kenapa diam saja? Ai! Halo!" Rey berteriak berkali-kali. Aku hanya bisa diam karena bingung harus berbuat apa.
"Kak!" celetuk Miku yang berhasil membuatku kaget.
"Ha? I-iya Miku, a-ada apa?"
Miku menatapku dengan tatapan bingung, bukan, lebih tepatnya tatapan ... bagaimana ya. Susah menjelaskannya. "A-apa yang kakak lakukan? Itu, ada yang memanggil-manggil nama kakak dari luar. Kenapa tidak dibukakan pintunya?"
"Emm ... hah ... ba-baiklah ...." Tidak ada pilihan lain, aku harus membukakan pintunya, sebelum Rey berteriak semakin kencang. Aku takut jika teriakan Rey akan membangunkan ibu nanti.
Ceklek ...
Aku membuka pintu depan. Saat pintu terbuka, aku melihat Rey sedang mengambil ancang-ancang. Tampaknya, dia ingin mendobrak pintu. Hah ... dia serius dengan ucapannya.
__ADS_1
"Re-Rey ... ayo masuk!" Aku mempersilakan Rey untuk masuk ke dalam. Terasa seperti dejavu, karena tadi aku sudah mempersilakannya masuk.
"Aa-ah, ba-baiklah." Rey kembali ke posisi normal dan berjalan masuk ke dalam. Namun, sebelum menginjakan kaki di dalam rumah, Rey membuka sepatunya terlebih dahulu. Ia lalu menggunakan alas kaki yang sengaja kusediakan untuk para tamu. Ya, itu memang tradisi orang Jepang.
"Permisi." Rey berjalan masuk ke dalam. Langkah demi langkah dia mulai mendekat ke tempat Miku berada. Arghh ... aku hanya bisa pasrah. Tak ada yang bisa kulakukan saat ini.
Langkah kaki Rey terhenti ketika dia melihat seorang anak kecil sedang bermain boneka di lantai beralaskan tikar. Perhatiannya terpaku kepada anak itu. Hah ... iya, dia adalah Miku.
Miku yang tengah asik bermain boneka, tak sengaja menatapku dan Rey. Alhasil, dua orang yang paling kusayangi ini saling bertatap-tatapan. Antara senang atau bingung, aku tak tahu apa yang sedang kurasakan saat ini. Untuk mudahnya, aku sedang berada di tengah-tengah.
Tiba-tiba, Miku berdiri dan berlari menghampiriku. Ia memelukku erat seperti anak yang ketakutan.
"Eeeh ... Miku, ada apa?" tanyaku dengan perasaan agak khawatir.
Namun, Miku tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mendongak seraya menggerak-gerakan tangan mungilnya. Gerakan tangannya seperti memberi isyarat agar aku menunduk.
"Kak .. hm hm ...," ucapnya lirih.
Aku menuruti isyarat tangannya. Aku menunduk untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh adik perempuanku ini.
"Kak, siapa kakak ini? Apa dia teman kakak?" tanya Miku berbisik pelan. Sudah kuduga, dia pasti akan menanyakan hal ini. Ya begitulah Miku, jika dia bertemu orang baru sedang bersamaku, maka dia akan bertanya dulu kepadaku.
"Halo, Miku! Kakak sangat senang bertemu denganmu. Kamu sangat cantik dan imut, sama seperti kakakmu," ucap Rey berusaha mendekatkan diri dengan Miku. Tunggu sebentar, dia bilang apa tadi.
"Re-Rey ... hmpphh ...." Kenapa dia malah memanfaatkan Miku untuk membuat ucapan manisnya lagi heehh ....
"Hihihi ... Kak Rey sangat lucu." Tak diduga-duga, Miku malah tertawa karena tingkah laku Rey tadi. Jarang sekali Miku bisa tertawa dengan orang lain. Biasanya, dia hanya bisa tertawa denganku atau ibu.
"Hahaha ... Miku, ayo kita main pesawat terbang!" Rey mengajak Miku dengan antusiasme tinggi.
"Waah ... permainannya seperti apa itu, Kak?" tanya Miku penasaran.
"Eeem ... seperti INI!" Rey mengangkat tubuh Miku secara tiba-tiba dan meletakannya di antara kedua bahu.
"Eeehh ... REY!" Sontak, aku pun terkejut tatkala melihat Rey melakukan hal itu. Bagaimana tidak, mengangkat tubuh anak kecil secara tiba-tiba adalah sebuah tindakan berbahaya. Bagaimana kalau Miku jatuh tadi.
__ADS_1
"Sstt ... jangan khawatir. Aku akan berhati-hati. Ayo, Miku! KITA TERBANG!" Rey merentangkan kedua tangan Miku dan berjalan kesana kemari seolah mereka sedang terbang.
"Ahahaahaha ...." Miku tertawa karena senang. Tak kusangka, ternyata hal itu dapat membuat Miku sesenang ini?
"Ai, ayo ikut bermain!" ajak Rey dengan senyum lebar di wajahnya. "Iya, ayo, Kak!" timpal Miku bersemangat.
Entah kenapa, ketika aku melihat mereka, mataku langsung berbinar. Tawa bahagia mereka terdengar membuatku ikut merasa bahagia. Awalnya, aku memang merasa khawatir, tetapi ketika melihat mereka bahagia, perasaanku pun berubah menjadi tenang. Aku berjalan menghampiri mereka berdua.
"Ahaha ...." Aku, Rey, dan Miku, bermain bersama. Malam itu, kami lewati penuh dengan kehangatan. Meskipun aku masih belum tahu, kenapa Rey bisa ada di sini.
...\=•\=•\=...
EXTRA
(Bel pulang sekolah telah berbunyi, semua siswa siswi SMA TOKYO mulai berhamburan keluar)
Rin : "Alooha, teman-teman, omong-omong, besok kan sudah mulai memasuki Bulan Ramadhan. Bagaimana kalau kita mengucapkan selamat?"
Rey : "Wah, ide bagus. Tetapi mengucapkan selamat kepada siapa?"
Rin : "Tentu saja kepada teman-teman yang sedang membaca tulisan ini."
Ai : "Nah, ide bagus, Rin."
Ryuji : "Aku setuju!"
Rin : "Baiklah ... satu ... dua ... TIGA!"
Ai, Rey, Rin, Ryuji : "Marhaban ya Ramadhan! Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan!"
Ai : "Tolong maafkan kami jika ada suatu tindakan yang tidak enak di hati teman-teman."
Rey : "Yap, apalagi Ryuji. Dia adalah orang yang paling banyak melakukan kesalahan di sini!"
Ryuji : "Oi, apa maksudmu?!"
__ADS_1
Rin : "HEI, JANGAN BERTENGKAR!"